SATUMEDIA.ID – Gelandang Garudayaksa FC, Septian David Maulana, ternyata menyimpan banyak cerita menarik di balik perjalanannya sebagai pesepak bola profesional. Mulai dari alasan memilih nomor punggung, pengalaman meraih penghargaan individu, hingga kehidupan di luar lapangan, semuanya ia ceritakan dalam sesi bincang santai di kanal YouTube resmi Garudayaksa Official. Salah satu hal yang mencuri perhatian adalah nomor punggung 29 yang melekat padanya. Septian mengungkapkan bahwa nomor tersebut dipilih berdasarkan tanggal lahirnya, yakni 2 September, setelah sebelumnya identik dengan nomor 9.
Perjalanan karier Septian juga menyimpan momen berharga yang ikut membentuk dirinya hingga menembus level profesional. Ia mengenang keberhasilannya menyabet gelar pemain terbaik di Piala Pelajar Asia sebagai salah satu pencapaian penting dalam perjalanan sepak bolanya. Penghargaan tersebut menjadi motivasi besar baginya untuk terus berkembang hingga mendapatkan kesempatan memperkuat Timnas Indonesia pada usia muda. Pengalaman itu menjadi bagian penting dari perjalanan panjangnya di dunia sepak bola.
Di luar pertandingan, Septian ternyata punya ketertarikan tersendiri terhadap berbagai atribut sepak bola, terutama sepatu dan jersey. Ia gemar mengoleksi sepatu bola sekaligus bertukar seragam dengan pemain dari klub lawan, termasuk Persija Jakarta, Persik Kediri, dan Persib Bandung. Ketika membahas lawan yang sulit dihadapi, Septian turut mengenang pemain-pemain tangguh yang pernah dijumpainya, seperti Dominggus Fakdawer saat membela Persipura dan Nick Kuipers ketika masih memperkuat Persib. Menariknya, ia mengaku tidak mempunyai ritual khusus yang rumit sebelum bertanding. Baginya, berdoa dan meminta restu kepada orang tua, istri, serta anak sudah menjadi bagian penting sebelum turun ke lapangan.
Sisi personal Septian semakin terasa ketika berbicara tentang kampung halaman dan makanan favorit. Kota Semarang masih memiliki tempat istimewa baginya, termasuk Lawang Sewu yang menjadi destinasi wisata favoritnya. Untuk urusan kuliner, ia menyukai beragam makanan khas seperti lumpia dan wingko babat, hingga gado-gado. Namun, seleranya tidak selalu soal makanan khas atau hidangan mewah. Menu sederhana seperti sayur asem, ayam goreng, pete, dan sambal juga menjadi pilihan yang menggugah seleranya. Cerita-cerita tersebut memperlihatkan sisi lain Septian David Maulana yang tak hanya dikenal lewat aksinya di lapangan hijau, tetapi juga melalui kebiasaan dan kehidupan sederhana di luar sepak bola.*





