SATUMEDIA.ID – Kenaikan harga kedelai impor yang signifikan memaksa pengrajin tahu dan tempe di Kota Cimahi mengambil langkah penyesuaian agar usaha tetap bertahan. Salah satu strategi yang ditempuh adalah memperkecil ukuran produk tanpa menaikkan harga jual, sehingga tetap terjangkau bagi masyarakat.
Ketua Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Kopti) Kota Cimahi, Kusnanto, mengungkapkan bahwa harga kedelai saat ini berada di kisaran Rp10.500 hingga Rp10.800 per kilogram. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan harga normal yang biasanya berkisar antara Rp8.000 hingga Rp9.000 per kilogram.
“Lonjakan harga ini cukup memberatkan pelaku usaha. Untuk menghindari kerugian, kami melakukan penyesuaian ukuran produk, sementara harga jual tetap dipertahankan,” ujar Kusnanto, Kamis (16/4/2026).
Ia menegaskan bahwa meski ukuran diperkecil, kualitas produk tetap dijaga agar tidak mengecewakan konsumen. “Kami tidak mengurangi kualitas. Jika harga kedelai kembali stabil, ukuran produk akan dikembalikan seperti semula,” katanya.
Berdasarkan data Kopti, perubahan takaran cukup signifikan. Tempe dengan harga Rp5.000 kini memiliki berat sekitar 300 gram, varian Rp6.000 menjadi 400 gram, sedangkan ukuran terbesar seberat 900 gram dijual seharga Rp12.500. Langkah ini dinilai sebagai solusi tengah agar usaha tetap berjalan tanpa membebani konsumen.
Selain penyesuaian ukuran, para pengrajin juga harus mengurangi volume produksi hingga 30 persen dari kapasitas normal. Penurunan ini dipicu oleh melemahnya daya beli masyarakat yang berdampak pada lambatnya perputaran penjualan.
“Kami terpaksa menyesuaikan jumlah produksi karena permintaan menurun. Jika produksi tetap tinggi, dikhawatirkan banyak produk yang tidak terjual,” ungkap Kusnanto.
Menurutnya, kenaikan harga kedelai tidak terlepas dari faktor eksternal, terutama penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah yang berdampak langsung pada harga bahan baku impor. Selain itu, ketegangan geopolitik global yang berpotensi mengganggu jalur distribusi internasional, seperti di kawasan Selat Hormuz, juga menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan kedelai.
“Sebagai pelaku usaha, kami hanya bisa mengikuti dinamika pasar. Yang terpenting saat ini adalah memastikan ketersediaan bahan baku tetap terjaga,” tuturnya.
Kusnanto menambahkan, kondisi harga yang tinggi namun pasokan tetap tersedia masih lebih baik dibandingkan harga murah tetapi barang langka. “Ketersediaan stok menjadi hal yang paling penting agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi,” pungkasnya.*
