SATUMEDIA.ID – Penyakit autoimun dan artritis tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental dan aktivitas sehari-hari. Karena itu, dukungan keluarga, pengobatan yang tepat, serta sikap optimistis menjadi bagian penting dalam membantu penyintas menjalani kehidupan.
Pesan tersebut mengemuka dalam puncak peringatan World Arthritis Day (WAD) 2026 yang digelar Indonesian Rheumatology Association (IRA) Cabang Bandung bekerjasama dengan komunitas SAHARA (Sahabat Rheumathoid Arthritis) di Auditorium UPELKES Jawa Barat, Jalan Pasteur Nomor 31, Kota Bandung, Sabtu (17/10/2026).
Mengusung tema Achieve Your Dreams, kegiatan ini menghadirkan edukasi kesehatan, diskusi bersama pakar reumatologi, hingga pertunjukan seni. Acara tersebut ditujukan untuk memberikan pengetahuan sekaligus membangun semangat bagi orang dengan autoimun (ODA), keluarga, dan tenaga medis yang mendampingi mereka.
Laboratorium Klinik PRAMITA dan Imedco turut mendukung penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Rangkaian acara dimulai sejak pukul 07.30 WIB dengan senam pagi selama 30 menit. Aktivitas ini menjadi salah satu upaya mengajak peserta menjaga kebugaran dan memperhatikan kesehatan sendi melalui gerakan fisik yang sesuai dengan kondisi masing-masing.
Ketua IRA Cabang Bandung, Dr. dr. Rachmat Gunadi, Sp.PD-KR, FINASIM, secara resmi membuka acara pada pukul 08.30 WIB. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya menjaga optimisme dan ketahanan mental bagi orang yang hidup dengan penyakit kronis.
Memahami autoimun dan mengejar remisi
Edukasi medis menjadi salah satu agenda utama peringatan WAD 2026. Dalam sesi pertama, dr. Maha Chakri Wilheljulya, Sp.PD-KR, menjelaskan pengenalan penyakit autoimun serta berbagai jenis artritis atau peradangan sendi.
Artritis mencakup lebih dari 100 jenis gangguan yang dapat memengaruhi persendian. Pemahaman mengenai jenis penyakit dan gejalanya diperlukan agar pasien memperoleh penanganan yang sesuai.
Sementara itu, Dr. dr. Andri Reza Rahmadi, Sp.PD-KR, M.Kes., mengajak pasien mengambil peran aktif dalam mengupayakan remisi atau kondisi ketika aktivitas penyakit terkendali.
Menurut dia, upaya mencapai remisi tidak cukup hanya mengandalkan pengobatan. Pasien juga perlu menerapkan pola hidup sehat, menjaga ketenangan spiritual, serta memperoleh dukungan keluarga dan komunitas.
Pendekatan tersebut menempatkan pasien sebagai bagian penting dalam proses perawatan, termasuk dalam menjalankan terapi sesuai arahan dokter dan memantau perkembangan penyakitnya.
Diagnosis dini dan olahraga harus tepat
Diskusi interaktif yang menghadirkan empat pakar reumatologi menjadi salah satu sesi yang menarik perhatian peserta. Selain Rachmat Gunadi dan Andri Reza Rahmadi, diskusi tersebut menghadirkan dr. Riadi Pramudyo, Sp.PD-KR, serta Dr. dr. Sumartini Dewi, Sp.PD-KR.
Para pakar menjawab berbagai pertanyaan berdasarkan persoalan kesehatan dan pengalaman yang dihadapi peserta.
Pembahasan antara lain menyoroti pentingnya diagnosis dini dan pemilihan aktivitas fisik yang sesuai dengan kondisi sendi.
Bagi penderita osteoartritis lutut, misalnya, jenis olahraga perlu dipilih secara cermat. Aktivitas berdampak tinggi, seperti berlari, dapat memperberat keluhan pada sebagian pasien sehingga perlu disesuaikan dengan kondisi sendi dan rekomendasi tenaga medis.
Peserta juga mendapat penjelasan mengenai pentingnya rujukan sedini mungkin kepada dokter spesialis reumatologi anak atau pediatric rheumatologist apabila gejala artritis muncul pada usia anak-anak.
Pengenalan gejala dan penanganan yang tepat diharapkan membantu pasien memperoleh perawatan sesuai kebutuhan sejak awal.
Mengangkat perjuangan di balik disabilitas tak tampak
Tak hanya membahas aspek medis, peringatan WAD 2026 juga menyoroti persoalan sosial yang dihadapi penyandang autoimun, yakni hidden disability atau disabilitas tak tampak.
Materi yang disampaikan Nindya Rosalina mengajak masyarakat memahami bahwa kondisi fisik seseorang yang terlihat baik-baik saja tidak selalu mencerminkan keadaan kesehatannya.
Penyandang autoimun dapat mengalami rasa sakit, kelelahan, maupun keterbatasan aktivitas yang tidak terlihat secara kasatmata. Kondisi ini membuat mereka berpotensi menghadapi kesalahpahaman ketika beraktivitas di ruang publik.
Untuk membantu meningkatkan pemahaman masyarakat, penggunaan kartu lanyard bagi penyandang kondisi tersebut turut diperkenalkan sebagai penanda identitas.
Edukasi ini diharapkan dapat menumbuhkan empati sekaligus mendorong lingkungan yang lebih ramah terhadap orang dengan kondisi kesehatan yang tidak selalu terlihat dari luar.
Seni menjadi ruang untuk menyuarakan harapan
Semangat para penyintas juga tercermin melalui pertunjukan seni dari Komunitas SAHARA. Sejumlah penari yang merupakan penyandang autoimun menampilkan tarian Bali, sedangkan Ibu Wulandari membacakan puisi.
Penampilan tersebut menjadi bagian dari upaya menunjukkan bahwa keterbatasan akibat penyakit tidak serta-merta menghilangkan kesempatan untuk berkarya dan mengekspresikan diri.
Menutup kegiatan, Rachmat Gunadi kembali mengingatkan peserta agar tidak membiarkan keterbatasan fisik menghapus harapan untuk menjalani kehidupan yang bermakna.
Ia mengajak para penyintas untuk tetap aktif sesuai kemampuan, menjalani pengobatan, menjaga hubungan sosial, dan mempertahankan semangat.
Bagi penyandang autoimun dan artritis, perjalanan menghadapi penyakit memang dapat menghadirkan tantangan yang tidak ringan. Namun, dengan penanganan yang tepat dan dukungan lingkungan, mereka tetap dapat berupaya mencapai tujuan hidupnya.
Dalam kesempatan tersebut, Rachmat juga membagikan buku karyanya berjudul Menuju Remisi, Panduan Hidup Sehat bagi Penyintas Penyakit Reumatik-Autoimun kepada peserta.
Melalui peringatan WAD 2026, IRA Cabang Bandung berharap edukasi mengenai autoimun dan artritis semakin luas, sementara masyarakat dapat memberikan dukungan yang lebih baik kepada para penyintas.*
Penulis: Rulin Irawati
*Sumber: Dewi Nada, Navigator Kesehatan (Navigating life with SJS, Autoimmune, TMJ, Trinnitus & Stroke), anggota YRPAD, Sahara, dan Yayasan Tulus.