SATUMEDIA.ID – Tren wisata masyarakat mulai mengalami pergeseran. Jika sebelumnya liburan identik dengan mengunjungi destinasi populer dan berburu foto, kini wisatawan semakin tertarik pada perjalanan yang menawarkan pengalaman lebih mendalam, ketenangan, hingga eksplorasi sejarah dan budaya.
Perubahan pola berwisata tersebut mendorong Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengembangkan potensi wisata berbasis mindfulness, gastronomi, serta sejarah dan budaya (heritage) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan kawasan Destinasi Super Prioritas (DSP) Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan familiarization trip (famtrip) yang melibatkan sejumlah operator tur dan agen perjalanan (TA/TO) nusantara. Program ini diharapkan dapat melahirkan paket wisata berkualitas yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini mengatakan, perubahan tren tersebut menunjukkan wisatawan mulai meninggalkan pola perjalanan massal dan beralih mencari pengalaman yang memiliki nilai lebih.
Menurut Made, kebutuhan itu terutama terlihat pada masyarakat perkotaan yang menghadapi rutinitas dan tekanan pekerjaan. Liburan kini semakin dipandang sebagai kesempatan untuk memulihkan kondisi mental, merawat diri, sekaligus mendapatkan pengalaman yang berkesan.
“Sebagian wisatawan, terutama dari kelompok menengah atas di Jabodetabek, mulai memprioritaskan perjalanan yang menawarkan ketenangan, pengalaman autentik, serta cerita sejarah dan budaya, bukan sekadar mendatangi tempat populer untuk berfoto,” ujar Made dalam siaran pers yang dikutip Senin (2/11/2026).
Ia menjelaskan, famtrip bertajuk “Harmoni Raga, Rasa, dan Tradisi” tidak hanya bertujuan memperkenalkan destinasi, tetapi juga mempertemukan pelaku usaha perjalanan dengan pengelola atraksi wisata melalui skema bisnis ke bisnis (business-to-business/B2B).
Kemenpar melibatkan 10 operator tur dan agen perjalanan potensial untuk menjajaki kerja sama langsung dengan penyedia layanan wisata lokal. Dari pertemuan tersebut, diharapkan lahir paket perjalanan komersial baru, baik berupa open trip maupun perjalanan kelompok privat (private group).
Paket-paket tersebut ditargetkan mampu meningkatkan lama tinggal wisatawan sekaligus mendorong belanja selama berkunjung ke Yogyakarta dan Borobudur. Upaya ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap target 1,18 miliar perjalanan wisatawan nusantara sepanjang 2026.
Sebanyak 10 perwakilan biro perjalanan dan asosiasi pariwisata mengikuti kegiatan tersebut. Di antaranya Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA), Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI), Aliansi Biro Perjalanan Wisata Indonesia (AITTA), Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO), dan Asosiasi Kembali Berwisata Indonesia (KEMBERIN).
Selama lima hari empat malam pada 16-20 Oktober 2026, peserta diajak merasakan langsung beragam aktivitas wisata yang menggabungkan kuliner, sejarah, tradisi, dan kebugaran.
Eksplorasi dimulai melalui program Telusur Kampung Santan Spesial Ingkung bersama Dje Djak Rasa di Bantul. Peserta tidak hanya mencicipi ayam ingkung, tetapi juga mengenal cerita dan tradisi di balik hidangan khas tersebut.
Pengalaman kuliner berlanjut melalui Senja Gastronomy Walking Tour: Telusur Tugu dan Pecinan. Dalam perjalanan ini, peserta diajak menelusuri jejak akulturasi budaya sekaligus mencicipi aneka jajanan lokal.
Selain gastronomi, peserta mengikuti perjalanan bertajuk “Tiga Wajah Mataram” bersama Remen Jawi untuk mengenal sejarah melalui penjelajahan dan pengalaman perjamuan lintas masa.
Rangkaian kegiatan juga mencakup pengalaman meracik teh secara personal di Sadahurip, mengunjungi Kampung Wisata Purbayan, serta menikmati sajian gastronomi etnik di Dapur Alit Jogja.
Melalui pengembangan wisata berbasis pengalaman tersebut, Kemenpar berharap Yogyakarta dan Borobudur tidak hanya menjadi tujuan liburan, tetapi juga destinasi yang menawarkan pengalaman budaya, kuliner, dan pemulihan diri bagi wisatawan.*