SATUMEDIA.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mulai mengoperasikan Radar Cuaca S-Band di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Kehadiran perangkat pemantau cuaca berteknologi tinggi itu diharapkan memperkuat sistem peringatan dini terhadap cuaca ekstrem, banjir, hingga potensi siklon tropis di wilayah selatan Indonesia.
Radar tersebut mampu memantau pembentukan awan hujan, intensitas curah hujan, arah pergerakan sistem cuaca, serta perkembangan awan konvektif secara real-time. Data yang dihasilkan akan digunakan untuk meningkatkan akurasi prakiraan cuaca sekaligus mempercepat penyampaian informasi kepada masyarakat.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan Cilacap dipilih sebagai lokasi pembangunan karena memiliki posisi strategis di pesisir selatan Pulau Jawa yang langsung menghadap Samudra Hindia. Kawasan tersebut juga menjadi pusat aktivitas pelayaran, perikanan, industri, dan perdagangan yang sangat bergantung pada informasi cuaca.
“Radar Cuaca S-Band Cilacap menjadi bagian penting dalam meningkatkan layanan informasi cuaca dan peringatan dini. Pesisir selatan Jawa memiliki peran strategis bagi aktivitas kelautan, perikanan, transportasi, industri, hingga kesiapsiagaan bencana. Semuanya membutuhkan dukungan data cuaca yang cepat dan andal,” ujar Faisal dalam siaran pers dikutip, Kamis (9/7/2026).
Ia menjelaskan, data radar akan memperkuat upaya mitigasi bencana hidrometeorologi, termasuk mendukung pengambilan keputusan saat terjadi hujan lebat, banjir, maupun tanah longsor. Informasi tersebut juga menjadi acuan dalam pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Menurut Faisal, manfaat radar tidak hanya dirasakan pada sektor kebencanaan, tetapi juga mendukung aktivitas ekonomi masyarakat, terutama nelayan. Dengan informasi cuaca yang lebih akurat, risiko kecelakaan saat melaut diharapkan dapat ditekan.
“Potensi perikanan di Cilacap sangat besar sehingga radar ini diharapkan mampu meningkatkan keselamatan nelayan dan masyarakat pesisir,” katanya.
Radar S-Band juga memiliki kemampuan mendeteksi potensi pembentukan siklon tropis sejak dini. BMKG menilai kemampuan tersebut penting mengingat wilayah selatan Indonesia pernah terdampak siklon tropis yang memicu cuaca ekstrem, seperti Siklon Seroja, Cempaka, dan Dahlia.
Secara nasional, BMKG menargetkan pembangunan 75 radar cuaca untuk memperkuat jaringan observasi atmosfer di seluruh Indonesia. Hingga saat ini, sebanyak 45 radar telah beroperasi dan jumlahnya akan terus ditambah secara bertahap.
Pengadaan Radar Cuaca S-Band Cilacap merupakan bagian dari proyek nasional Marine Meteorological System Phase II (MMS-2). Program tersebut mencakup pembangunan empat radar S-Band di Cilacap, Natuna, Tanjung Pinang, dan Saumlaki, serta modernisasi satu radar C-Band di Tangerang untuk memperluas cakupan pemantauan cuaca di wilayah Jabodetabek.
Pelaksana Tugas Direktur Instrumentasi dan Kalibrasi BMKG, Hartanto, mengatakan data yang dihasilkan radar akan menjadi fondasi layanan prakiraan cuaca jangka pendek atau nowcasting.
Menurut dia, pemerintah daerah, instansi penanggulangan bencana, pelaku pelayaran, hingga nelayan dapat memanfaatkan informasi tersebut untuk mengantisipasi potensi hujan lebat, banjir, maupun angin kencang secara lebih cepat.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Bupati Cilacap, Ammy Amalia Fatma Surya, menyebut keberadaan radar menjadi dukungan penting bagi daerah yang memiliki karakter geografis beragam, mulai dari kawasan pesisir, pelabuhan, industri, pertanian, hingga perbukitan.
Menurut Ammy, kondisi tersebut membuat Cilacap rentan terhadap dampak perubahan iklim dan bencana hidrometeorologi. Karena itu, informasi cuaca yang lebih akurat dan cepat akan membantu pemerintah meningkatkan kesiapsiagaan sekaligus meminimalkan risiko kerugian yang ditimbulkan cuaca ekstrem.*





