Gempa Susulan Flores M7,7 Mulai Meluruh, BMKG Catat 15.722 Gempa

Sebuah bangunan rusak berat terdampak gempabumi M7,7 di Kabupaten Manggarai Timur. (Dok.BPBD Kabupaten Manggarai Timur).**

SATUMEDIA.ID – Aktivitas gempa susulan setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026 mulai menunjukkan penurunan signifikan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 15.722 gempa susulan terjadi hingga 30 hari setelah gempa utama.

Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan, gempa susulan tersebut memiliki magnitudo antara M0,9 hingga M6,2.

Dari ribuan gempa susulan itu, sebanyak 190 kejadian dirasakan oleh masyarakat.

“Pemantauan terbaru menunjukkan frekuensi gempa susulan, baik secara harian maupun mingguan, terus menurun. Kondisinya saat ini sudah memasuki fase peluruhan,” ujar Ardhasena dalam siaran pers yang dikutip Kamis (17/9/2026).

Data BMKG menunjukkan jumlah gempa susulan terus berkurang dari pekan ke pekan.

Pada minggu pertama setelah gempa utama tercatat 5.011 kejadian. Angka tersebut turun menjadi 4.267 kejadian pada minggu kedua, kemudian 3.158 kejadian pada minggu ketiga dan 2.421 kejadian pada minggu keempat. Sementara itu, hingga minggu kelima BMKG mencatat 864 gempa susulan.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan, gempa susulan di wilayah Flores dapat dikelompokkan berdasarkan kekuatannya.

Gempa dengan magnitudo 5,0 atau lebih tercatat sebanyak 26 kejadian atau sekitar 0,2 persen dari keseluruhan gempa susulan.

Menurut Wijayanto, gempa dalam kategori tersebut masih berpotensi dirasakan dalam wilayah yang cukup luas dan dapat berdampak terhadap bangunan yang rentan.

Namun, frekuensinya kini semakin jarang. Bahkan, BMKG tidak lagi mencatat gempa dengan kategori tersebut dalam satu pekan terakhir.

Sementara itu, gempa M4,0 hingga kurang dari M5,0 tercatat sebanyak 476 kejadian atau 3 persen.

Gempa dengan kekuatan tersebut masih bisa dirasakan cukup luas, tetapi potensi menimbulkan kerusakan signifikan relatif kecil. Aktivitasnya juga terus menurun setelah memasuki empat hingga lima pekan pascagempa utama.

Untuk gempa M3,0 hingga kurang dari M4,0, BMKG mencatat 3.308 kejadian atau 20,9 persen.

Gempa kategori ini umumnya hanya dirasakan secara lokal dan tidak menimbulkan kerusakan.

Adapun gempa dengan kekuatan di bawah M3,0 mendominasi aktivitas susulan dengan 11.993 kejadian atau 75,9 persen.

Sebagian besar gempa tersebut hanya terekam oleh jaringan seismograf dan tidak dirasakan masyarakat.

“Kategori gempa dengan magnitudo di bawah 3 ini masih mungkin terjadi dalam beberapa bulan ke depan, tetapi frekuensinya terus mengalami peluruhan,” kata Wijayanto.

Ia menegaskan, perkiraan tersebut bukan berarti BMKG dapat menentukan kapan seluruh aktivitas gempa susulan akan berhenti.

“Angka ini merupakan kecenderungan statistik peluruhan, bukan penentuan tanggal berakhirnya aktivitas gempa ataupun prediksi kapan gempa berikutnya terjadi,” ujarnya.

Gempa utama picu tsunami

Gempa utama Flores M7,7 terjadi pada 15 Agustus 2026. Episenternya berada sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, NTT, dengan kedalaman 15 kilometer.

Gempa dangkal tersebut dipicu aktivitas Flores Back-Arc Thrust dengan mekanisme sesar naik atau thrust fault.

BMKG menerbitkan peringatan dini tsunami hanya 2 menit 16 detik setelah gempa utama terjadi.

Hasil pemantauan 16 stasiun tsunami gauge yang tersebar di NTT, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sulawesi Selatan menunjukkan adanya kenaikan muka air laut di sejumlah lokasi.

Kenaikan tertinggi yang tercatat antara lain di Pota sebesar 1,60 meter dan Reo 1,61 meter. Sementara di Bulukumba tercatat 0,54 meter, Sape 0,56 meter, dan Selayar 0,40 meter.

Tsunami capai 2,68 meter

BMKG kemudian melakukan survei lapangan pada 15 hingga 25 Agustus 2026 di tujuh kabupaten terdampak.

Ketujuh daerah tersebut yakni Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka.

Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG Teguh Rahayu mengatakan survei dilakukan bersama kementerian/lembaga, BNPB, pemerintah daerah, BPBD, dan Forkopimda untuk mendukung proses pemulihan.

Berdasarkan survei makroseismik, guncangan maksimum mencapai skala VII Modified Mercalli Intensity (MMI) di sejumlah wilayah Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, dan Sikka.

BMKG juga menemukan indikasi likuefaksi berupa sand boil di Desa Waekokak, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.

Hasil survei mikrozonasi menunjukkan sebagian besar wilayah terdampak memiliki karakter tanah sedang atau kelas SD.

Namun, wilayah Reok, Mbay, dan Marapokot memiliki lapisan tanah lunak atau kelas SE yang berpotensi memperkuat guncangan gempa.

Sementara itu, survei tsunami menemukan jejak gelombang tsunami di sepanjang pantai utara Flores.

Tinggi tsunami atau run-up tertinggi mencapai 2,68 meter di Desa Selama. Berikutnya, 2,42 meter di Tadho Tengah, 2,39 meter di Dusun Tompong, dan 2,24 meter di Nangadero.

Adapun jarak genangan tsunami terjauh mencapai 145 meter di Nampar Sepang, 136 meter di Desa Selama, dan 60 meter di Tadho.

Tsunami tersebut merusak sedikitnya 23 rumah. Dua di antaranya bahkan tersapu gelombang tsunami di Desa Selama.

Gelombang juga menerjang rumah warga di Dusun Nampar, Desa Tadho, serta Desa Nangadero.

Meski menyebabkan kerusakan, tidak ada korban jiwa akibat tsunami. Warga disebut segera melakukan evakuasi setelah menerima peringatan dini tsunami dari BMKG.

“Selain melakukan pengumpulan data teknis, kami juga memberikan edukasi kepada masyarakat, termasuk tokoh masyarakat, pemuka agama, dan warga yang berada di lokasi pengungsian,” ujar Teguh.

Kepala Pusat Standardisasi Instrumentasi MKG BMKG Rahmat Triyono mengingatkan masyarakat pesisir Flores agar tidak hanya mengandalkan peringatan dini dari pemerintah.

Pasalnya, waktu tiba tsunami di wilayah yang dekat dengan sumber gempa dapat berlangsung sangat cepat.

Kondisi tersebut menjadi tantangan karena peringatan dini BMKG dapat dikeluarkan ketika gelombang tsunami sudah mendekati atau bahkan tiba di daratan.

“Yang paling menentukan bukan hanya keberadaan sistem peringatan dini, tetapi kesiapan masyarakat untuk segera merespons ketika ada potensi tsunami,” kata Rahmat.

Karena itu, masyarakat di wilayah pesisir utara NTT diminta memahami jalur evakuasi dan siap melakukan evakuasi mandiri apabila merasakan gempa kuat atau memperoleh tanda-tanda tsunami.*

Pos terkait