BMKG Peringatkan Hujan Lebat hingga Sangat Lebat Sepekan ke Depan, 6 Provinsi Siaga

Ilustrasi hujan. (Dicky Mawardi/Satumedia).**

SATUMEDIA.ID– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat disertai angin kencang di sejumlah wilayah Indonesia selama sepekan ke depan. Masyarakat di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem.

Peringatan tersebut dikeluarkan menyusul meningkatnya aktivitas atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan hujan, terutama di wilayah Sumatera bagian utara.

BMKG mencatat, hujan dengan intensitas sedang hingga ekstrem telah mengguyur sejumlah wilayah Aceh dan Sumatera Utara dalam tiga hari terakhir. Curah hujan harian tertinggi pada 25 Oktober 2026 mencapai 187 milimeter di Pos Hujan Kluet Tengah, Kabupaten Aceh Selatan, dan 103 milimeter di Pos Hujan Lobu Rampah, Kabupaten Labuhanbatu Utara.

Sekretaris Utama BMKG Guswanto mengatakan, kondisi tersebut dipengaruhi oleh dinamika atmosfer di sekitar Sumatera bagian utara, bukan oleh Siklon Tropis ARNAB yang saat ini berada di Teluk Benggala.

“Masyarakat perlu lebih memperhatikan potensi hujan lebat dan angin kencang, khususnya di Sumatera bagian utara. Siklon Tropis ARNAB tidak berdampak langsung terhadap cuaca maupun gelombang laut di Indonesia berdasarkan analisis terkini,” ujar Guswanto dalam keterangan pers dikutip Kamis (29/10/2026).

Guswanto mengatakan, BMKG akan terus memantau perkembangan Siklon Tropis ARNAB dan sirkulasi siklonik di sekitar Laut Andaman selama sepekan ke depan.

Jika terdapat perubahan signifikan yang berpotensi memengaruhi cuaca di Indonesia, BMKG akan menyampaikan pembaruan melalui kanal informasi resminya.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi cuaca yang belum terverifikasi. Peringatan dini BMKG perlu dijadikan salah satu acuan untuk menentukan langkah antisipasi, terutama ketika hujan lebat berlangsung.

Masyarakat juga diminta mengenali potensi bahaya di lingkungan masing-masing dan mengikuti arahan pihak berwenang apabila kondisi cuaca mengancam keselamatan.

BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang, tetapi tidak meremehkan potensi cuaca ekstrem, terutama di wilayah yang telah masuk dalam peringatan dini hujan lebat hingga sangat lebat.

Enam Provinsi Berstatus Siaga Hujan Lebat

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengatakan, BMKG telah mengeluarkan peringatan dini hujan lebat hingga sangat lebat melalui informasi cuaca nasional dan peringatan khusus untuk provinsi yang berpotensi terdampak.

Pada periode 27–29 Oktober 2026, enam provinsi ditetapkan berstatus siaga hujan lebat hingga sangat lebat. Wilayah tersebut meliputi Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Sementara itu, Kalimantan Barat masuk dalam status siaga hujan lebat untuk periode 30 Oktober hingga 2 November 2026. BMKG juga mengingatkan potensi angin kencang di sejumlah wilayah Sumatera, Jawa, dan Sulawesi Selatan.

Khusus di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang disertai angin kencang diperkirakan masih perlu diwaspadai selama sepekan ke depan.

Salah satu faktor yang mendukung kondisi tersebut adalah aktivitas sirkulasi siklonik di sekitar Laut Andaman, sebelah utara Aceh. Sistem ini berpotensi membentuk daerah konvergensi atau pertemuan massa udara yang memicu pertumbuhan awan konvektif dan meningkatkan peluang terjadinya hujan.

BMKG mulai mengidentifikasi potensi pembentukan sirkulasi siklonik baru di kawasan tersebut pada 27 Oktober 2026. Meskipun peluang penguatannya masih rendah dalam 24 jam ke depan, sistem itu tetap berpotensi memengaruhi pola cuaca di sebagian wilayah Sumatera bagian utara.

Dalam dua hingga tiga hari berikutnya, sirkulasi siklonik tersebut diperkirakan berpotensi bergerak ke arah barat-barat laut dan menjauhi Indonesia. Namun, pengaruhnya terhadap pembentukan daerah konvergensi masih dapat meningkatkan peluang hujan di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat bagian utara, dan Riau bagian utara

BMKG menjelaskan, Siklon Tropis ARNAB terbentuk di perairan Teluk Benggala pada 26 Oktober 2026 pukul 07.00 WIB. Sistem tersebut berkembang dari bibit siklon tropis 98B yang telah dipantau sejak 19 Oktober 2026 saat berada di sekitar Laut Andaman.

Berdasarkan analisis pada 27 Oktober 2026 pukul 07.00 WIB, ARNAB berada pada koordinat 16,0 derajat lintang utara dan 84,8 derajat bujur timur, di luar wilayah pemantauan Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta.

Siklon tersebut memiliki kecepatan angin maksimum 90 knot atau sekitar 166 kilometer per jam, dengan tekanan udara minimum 968 hektopaskal.

Dalam 24 jam berikutnya, ARNAB diprakirakan bergerak ke arah barat-barat laut menuju daratan India. Sistem ini juga diperkirakan mulai melemah dalam dua hari berikutnya.

Andri menegaskan, hujan lebat yang terjadi di Aceh dan Sumatera Utara dipengaruhi oleh dinamika atmosfer lain yang berkembang di sekitar wilayah tersebut.

BMKG terus memantau pergerakan siklon melalui data pengamatan, citra satelit, serta model prediksi cuaca untuk mengantisipasi perubahan yang berpotensi memengaruhi kondisi atmosfer di Indonesia.

Selain sirkulasi siklonik, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuatorial, dan Gelombang Kelvin juga berpotensi meningkatkan intensitas hujan harian di sejumlah daerah. Sirkulasi siklonik di sebelah utara Papua Barat Daya turut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan BMKG.

Untuk Dasarian I November 2026, BMKG memprakirakan 77,72 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori menengah, yakni 50–150 milimeter dalam satu dasarian atau periode sepuluh hari.

Wilayah yang diprakirakan mengalami kondisi tersebut mencakup Sumatera, Kalimantan, Papua, serta sebagian Jawa dan Sulawesi. Adapun curah hujan kategori rendah diperkirakan mendominasi sebagian Lampung, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Meski sebagian besar wilayah diprakirakan mengalami hujan kategori menengah, potensi hujan signifikan dalam skala harian tetap perlu diantisipasi karena dinamika atmosfer dapat memicu peningkatan intensitas hujan dalam waktu tertentu.

Di sisi lain, tinggi gelombang laut di Selat Malaka diprakirakan berada pada kategori rendah, yakni 0,5–1,25 meter.*

Pos terkait