SATUMEDIA.ID – Fenomena Harvest Moon atau Bulan Panen menghiasi langit Indonesia pada Sabtu (26/9/2026). Fenomena astronomi tersebut merupakan fase Bulan purnama yang waktunya berdekatan dengan ekuinoks musim gugur di belahan Bumi utara.
Harvest Moon bukan sekadar sebutan untuk Bulan purnama yang tampak terang di langit. Istilah tersebut memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan aktivitas para petani di Eropa dan Amerika Utara sebelum era penerangan listrik.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, Harvest Moon merupakan istilah tradisional untuk Bulan purnama yang terbit paling dekat dengan waktu ekuinoks musim gugur di belahan Bumi utara.
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG Teguh Rahayu mengatakan, penamaan tersebut berkaitan erat dengan kebiasaan masyarakat pada masa lalu yang memanfaatkan cahaya Bulan untuk menunjang aktivitas pertanian.
“Ekuinoks sendiri merupakan fenomena ketika Matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa. Kondisi ini membuat durasi siang dan malam di hampir seluruh penjuru Bumi relatif sama panjang, yaitu sekitar 12 jam,” kata Ayu dikutip dari laman BMKG, Senin (28/9/2026).
Sebelum listrik tersedia secara luas, para petani di Eropa dan Amerika Utara mengandalkan cahaya alami untuk melakukan berbagai aktivitas setelah Matahari terbenam.
Cahaya Bulan purnama yang terang memberikan tambahan penerangan sehingga para petani dapat melanjutkan pekerjaan memanen hasil pertanian hingga malam hari.
Karena bertepatan dengan periode panen menjelang musim gugur, Bulan purnama yang muncul di sekitar waktu tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Harvest Moon atau Bulan Panen.
Dengan demikian, istilah Harvest Moon bukan merujuk pada perubahan fisik atau ukuran Bulan. Sebutan tersebut lebih berkaitan dengan tradisi dan sejarah masyarakat di belahan Bumi utara.*





