10 Lurah di Jakarta Bersaing Rebut Benyamin S Award 2026, Ini Kriteria Penilaiannya

Sebanyak 10 lurah dari enam wilayah administrasi di DKI Jakarta bersaing memperebutkan Benyamin S Award 2026.(Dok.Humas Pemprov DKI Jakarta).**

SATUMEDIA.ID – Sebanyak 10 lurah dari enam wilayah administrasi di DKI Jakarta bersaing memperebutkan Benyamin S Award 2026. Penghargaan yang memasuki tahun kedua penyelenggaraannya ini menjadi upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta untuk mendorong inovasi, meningkatkan kualitas pelayanan publik, dan memperbaiki lingkungan permukiman.

Penjurian final Benyamin S Award 2026 menjadi tahap akhir dari seleksi yang diikuti puluhan lurah sejak September 2026. Para finalis akan dinilai berdasarkan kinerja pemerintahan kelurahan, penataan wilayah, hingga keterlibatan masyarakat dalam menyelesaikan berbagai persoalan perkotaan.

Asisten Pemerintahan Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta, Sigit Wijatmoko, mengatakan penghargaan tersebut merupakan bentuk pengakuan terhadap upaya lurah dalam meningkatkan kualitas lingkungan dan pelayanan kepada masyarakat.

Menurut Sigit, keberhasilan pemerintahan di tingkat kelurahan tidak hanya diukur dari program yang dijalankan, tetapi juga dari dampak nyata yang dirasakan warga.

“Penghargaan ini diberikan untuk mengapresiasi capaian dan kerja keras para lurah dalam mewujudkan Jakarta yang bersih, nyaman, indah, dan sejahtera,” kata Sigit dalam keterangan tertulis, Jumat (16/10/2026).

Pada penyelenggaraan 2026, sebanyak 52 lurah dari total 267 kelurahan di Jakarta mengikuti proses seleksi. Setelah melewati sejumlah tahapan penilaian, peserta mengerucut menjadi 25 lurah sebelum akhirnya ditetapkan 10 finalis.

Mereka adalah Lurah Kebon Sirih, Kelapa Gading Timur, Srengseng, Sukabumi Utara, Taman Sari, Kebon Baru, Cilandak Barat, Utan Kayu Selatan, Malaka Sari, dan Pulau Panggang.

Empat kategori penilaian

Benyamin S Award 2026 menggunakan empat kategori utama sebagai dasar penilaian, yakni Bersih, Nyaman, Indah, dan Sejahtera.

Kategori Bersih menitikberatkan pada inovasi pengelolaan sampah, sanitasi, serta upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan.

Sementara itu, kategori Nyaman menilai aspek keamanan, keteraturan wilayah, kecepatan respons pelayanan publik, dan ketersediaan ruang yang ramah bagi warga.

Adapun kategori Indah berfokus pada penataan ruang publik dan estetika lingkungan. Kategori Sejahtera mencakup pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pelayanan sosial, inklusi sosial, serta partisipasi masyarakat.

Proses penjurian final melibatkan empat tokoh yang memiliki kompetensi di bidang pembangunan dan perkotaan. Mereka adalah Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Pembangunan dan Tata Kota Nirwono Joga, Ketua Umum Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Lingkungan Indonesia Endra S. Atmawidjaja, Dewan Pembina Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) Wicaksono Sarosa, serta pengamat tata kota Yayat Supriyatna.

Selain menjalani penilaian dewan juri, para finalis juga ditantang menggelar Festival Kelurahan. Kegiatan tersebut menjadi sarana untuk memperlihatkan potensi wilayah, inovasi, program unggulan, dan keterlibatan masyarakat dalam pembangunan.

Sigit menilai partisipasi warga merupakan salah satu faktor penting dalam menciptakan tata kelola pemerintahan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Ia mengatakan, kolaborasi di tingkat kelurahan dapat membantu pemerintah mengidentifikasi persoalan, memperkuat semangat gotong royong, serta mendorong kreativitas warga dalam menghadapi tantangan perkotaan.

Menurut dia, keterlibatan masyarakat juga menjadi modal sosial untuk menjaga ketahanan dan keberlanjutan pembangunan Jakarta.

Penguatan peran kelurahan, lanjut Sigit, turut mendukung transformasi Jakarta sebagai pusat perekonomian nasional sekaligus kota global. Upaya itu dilakukan melalui koordinasi antarpemerintah daerah, kolaborasi dengan masyarakat, serta pengembangan inovasi yang tetap berpijak p awwada karakter budaya lokal.

Nama Benyamin S Award diambil dari almarhum Benyamin Sueb, seniman sekaligus budayawan Betawi yang dikenal luas melalui karya-karyanya.

Rangkaian kegiatan tahun ini dijadwalkan berlanjut hingga penyerahan penghargaan kepada para pemenang pada 30 Oktober 2026.

Sigit berharap ajang tersebut tidak sekadar menjadi kompetisi antarkelurahan, tetapi juga menjadi wadah berbagi pengalaman dan praktik baik dalam meningkatkan kualitas pelayanan serta pembangunan wilayah.

Ia menambahkan, penguatan kepemimpinan yang berorientasi pada pelayanan dan budaya kolaborasi diharapkan mampu menjadi bagian dari upaya mewujudkan Jakarta yang lebih baik.*