Pemkot Bandung Targetkan 150 Ton Sampah Organik Diolah di Tingkat RW

Pemkot Bandung membangun fasilitas pengolahan sampah organik berupa kompos pit di tingkat rukun warga (RW).(Dok.Diskominfo Kota Bandung).**

SATUMEDIA.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung, Jawa Barat, memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA).

Salah satu langkah yang disiapkan adalah membangun fasilitas pengolahan sampah organik berupa kompos pit di tingkat rukun warga (RW). Melalui program ini, Pemkot Bandung menargetkan 120 hingga 150 ton sampah organik per hari dapat ditangani langsung di lingkungan permukiman.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya agar beban TPA dapat ditekan.

“Fokus kami sekarang adalah menangani sampah dari hulu. Tekanan terhadap TPA hanya bisa dikurangi jika sampah sudah dikendalikan sejak dari lingkungan masyarakat,” ujar Farhan dikutip dari siaran pers, Jumat (16/10/2026).

Menurut Farhan, pengolahan sampah dari tingkat kewilayahan menjadi bagian penting dalam strategi penanganan sampah di Kota Bandung. Karena itu, pemerintah kota tidak hanya mendorong pembangunan fasilitas pengolahan, tetapi juga meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam memilah sampah.

Salah satu program yang telah berjalan adalah Gaslah. Program tersebut tidak hanya berfokus pada pengelolaan sampah, tetapi juga memberikan edukasi kepada warga mengenai pemilahan dan pengolahan sampah sejak dari rumah.

Saat ini, kapasitas pengolahan sampah organik melalui program tersebut baru mencapai sekitar 70 ton per hari. Pemkot Bandung berupaya meningkatkan kapasitasnya hingga mampu menangani sekitar 200 ton sampah organik setiap hari.

Bangun 4.800 kompos pit

Untuk memperluas pengolahan sampah di tingkat masyarakat, Pemkot Bandung berencana mendorong pembangunan kompos pit di setiap RW.

Fasilitas tersebut berupa lubang pengolahan sampah organik berukuran sekitar 1 x 1 meter dengan kedalaman sekitar 2 meter. Setiap RW direncanakan memiliki tiga lubang kompos.

Dengan jumlah sekitar 1.600 RW di Kota Bandung, fasilitas yang disiapkan diproyeksikan mencapai 4.800 titik.

Sampah organik yang telah dipilah warga nantinya akan diolah melalui fasilitas tersebut sehingga tidak seluruhnya harus diangkut ke TPA.

Farhan berharap, langkah ini dapat mengurangi volume sampah organik yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

“Target kami, sekitar 20 persen sampah organik yang selama ini dibawa ke TPA bisa dikurangi melalui pengolahan dari tingkat kewilayahan,” kata Farhan.

Ia menjelaskan, timbulan sampah di Kota Bandung mencapai sekitar 1.600 ton per hari. Sebagian dari jumlah tersebut merupakan sampah organik yang berpotensi diolah di lingkungan masyarakat.

Dengan penanganan langsung di tingkat RW, Pemkot Bandung menargetkan 120 hingga 150 ton sampah organik per hari dapat diselesaikan sebelum masuk ke rantai pengangkutan menuju TPA.

Selain menyiapkan fasilitas pengolahan, Pemkot Bandung juga membuka peluang kolaborasi dengan perguruan tinggi untuk memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Mahasiswa akan didorong terlibat melalui program kuliah kerja nyata (KKN), terutama untuk membantu pemilahan dan pengolahan sampah di tingkat kewilayahan.

Farhan menyebutkan, uji coba pelibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah telah dilakukan di Kecamatan Arcamanik. Hasil uji coba tersebut dinilai dapat menjadi dasar untuk memperluas penerapan program ke wilayah lain.

“Uji coba di Arcamanik berjalan sangat baik. Karena itu, pola tersebut akan kami terapkan di beberapa wilayah lainnya,” ujarnya.

Melalui penguatan program Gaslah, pembangunan kompos pit, dan kolaborasi dengan perguruan tinggi, Pemkot Bandung berharap pengelolaan sampah dapat dilakukan lebih dekat dengan sumbernya.

Upaya ini sekaligus ditujukan untuk meningkatkan kesadaran warga bahwa pemilahan dan pengolahan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga membutuhkan keterlibatan masyarakat sejak dari rumah.*

 

Pos terkait