Asap Karhutla di Sumsel Mulai Berkurang, Kemenhut Kerahkan 800 Kg Dry Ice

Pemerintah mengerahkan operasi modifikasi cuaca (OMC) menggunakan 800 kilogram dry ice atau es kering untuk membantu mengurangi dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan.(Dok.Kemenhut).**

SATUMEDIA.ID – Pemerintah mengerahkan operasi modifikasi cuaca (OMC) menggunakan 800 kilogram dry ice atau es kering untuk membantu mengurangi dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan.

Upaya yang melibatkan Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta Tentara Nasional Indonesia (TNI) itu mulai dilaksanakan pada Jumat (16/10/2026).

Memasuki hari kedua, Sabtu (17/10/2026), jarak pandang di Palembang menunjukkan perbaikan berdasarkan pemantauan Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera. Kondisi ini turut menunjang pelaksanaan operasi udara untuk menangani karhutla.

Meski demikian, pemerintah masih mengevaluasi perkembangan kondisi atmosfer untuk memastikan langkah penanganan yang dilakukan sesuai dengan situasi di lapangan.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kemenhut Thomas Nifinluri menjelaskan, penggunaan dry ice bertujuan membantu melemahkan lapisan inversi atmosfer yang membuat asap tertahan di dekat permukaan tanah.

Lapisan tersebut terbentuk ketika udara hangat berada di atas udara yang lebih dingin. Akibatnya, pergerakan udara ke atas terhambat sehingga asap dan polutan menumpuk di lapisan bawah atmosfer.

“Penyemaian dry ice dilakukan untuk memengaruhi kondisi suhu atmosfer agar lapisan inversi melemah. Dengan begitu, pergerakan udara diharapkan membaik dan konsentrasi asap di dekat permukaan dapat berkurang,” ujar Thomas dalam keterangan resmi yang dikutip Minggu (18/10/2026).

Kemenhut menjadwalkan OMC di Sumatera Selatan selama 10 hari, terhitung sejak 16 hingga 25 Oktober 2026.

Pada pelaksanaan hari pertama, satu penerbangan dilakukan dengan membawa dan menyebarkan 800 kilogram dry ice di sekitar wilayah Palembang.

Adapun pada hari kedua, tim merencanakan dua kali penerbangan. Namun, realisasi penerbangan tetap mempertimbangkan kondisi cuaca dan dinamika atmosfer di wilayah sasaran.

Thomas mengatakan, penggunaan bahan semai tidak selalu sama dalam setiap penerbangan. Apabila kondisi atmosfer mulai mendukung pembentukan awan hujan, operasi dapat dilanjutkan dengan penyemaian natrium klorida (NaCl) atau garam.

“Penentuan bahan semai menyesuaikan kondisi atmosfer. Ketika lapisan inversi masih kuat, dry ice digunakan untuk membantu mengganggu kestabilannya. Jika terdapat potensi pertumbuhan awan hujan, penyemaian NaCl dapat menjadi bagian dari upaya berikutnya,” katanya.

Pemantauan atmosfer menjadi dasar bagi tim untuk menentukan metode yang digunakan selama operasi berlangsung.

Di sisi lain, penanganan karhutla tidak hanya mengandalkan modifikasi cuaca. Satgas darat, termasuk Manggala Agni, tetap melakukan pemadaman untuk mengendalikan titik api, sedangkan satgas udara membantu penanganan melalui operasi dari udara.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Dwi Januanto Nugroho menegaskan, berbagai langkah tersebut harus dilakukan secara bersamaan karena asap karhutla telah mengganggu aktivitas masyarakat.

Dampaknya mencakup penurunan kualitas udara, ancaman terhadap kesehatan, hingga gangguan pada kegiatan belajar, transportasi, dan rutinitas sehari-hari.

“Penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama. Pengendalian api di darat, dukungan operasi udara, dan modifikasi cuaca harus berjalan sesuai fungsi masing-masing untuk menekan dampak yang dirasakan masyarakat,” ujar Januanto.

Selain pemadaman dan operasi udara, pemerintah juga melanjutkan penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang diduga bertanggung jawab atas terjadinya karhutla.

Januanto mengatakan, perbaikan jarak pandang di Palembang belum menjadi satu-satunya tolok ukur keberhasilan penanganan. Perkembangan kebakaran, kualitas udara, dan kondisi atmosfer tetap perlu dipantau secara berkelanjutan.

Kemenhut bersama BMKG, TNI, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan terkait akan terus mengevaluasi kondisi di Sumatera Selatan untuk menentukan langkah penanganan berikutnya.

Pemerintah menegaskan, pencegahan dan pemadaman langsung tetap menjadi upaya utama untuk mengendalikan sumber kebakaran. Sementara itu, operasi udara dan modifikasi cuaca digunakan sebagai langkah pendukung untuk membantu mengurangi dampak karhutla.*

 

Pos terkait