Viral Isu Modifikasi Cuaca ‘Bom Waktu’, BMKG Tegaskan Ini Fakta Ilmiahnya

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) saat menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).(Dok.BMKG).**

SATUMEDIA.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menepis narasi yang menyebut Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai pemicu cuaca ekstrem dan bencana turunan. BMKG menegaskan, teknologi modifikasi cuaca yang diterapkan di Indonesia merupakan langkah mitigasi bencana yang dirancang secara ilmiah dan terukur.

Penjelasan ini disampaikan menyusul beredarnya informasi di media sosial yang mengaitkan OMC dengan risiko pembentukan cold pool atau kolam udara dingin, ketidakstabilan cuaca, hingga pemindahan hujan ke wilayah lain yang berpotensi memicu banjir besar.

BMKG menilai narasi tersebut keliru secara sains. Cold pool, menurut BMKG, adalah fenomena alamiah yang selalu menyertai proses hujan.

“Setiap hujan, baik alami maupun hasil modifikasi cuaca, pasti membentuk cold pool. Ini bukan efek samping OMC,” tegas BMKG dalam siaran pers, Jumat (30/1/2026).

Fenomena tersebut terjadi akibat penguapan air hujan di bawah awan badai yang menyebabkan udara mendingin, menjadi lebih padat, dan bergerak turun ke permukaan. Karena itu, BMKG menilai tidak tepat jika cold pool dianggap sebagai bahaya baru akibat intervensi manusia.

BMKG juga menekankan bahwa OMC tidak menciptakan awan baru. Teknologi penyemaian awan hanya bekerja pada awan yang sudah terbentuk secara alami dan berada dalam kondisi jenuh.

Dari sisi energi, BMKG menilai kemampuan teknologi manusia saat ini masih jauh dari menciptakan pendinginan atmosfer dalam skala besar. OMC hanya memicu proses alami di dalam awan, bukan membangun sistem yang dapat mengacaukan dinamika cuaca regional.

Menanggapi tudingan bahwa OMC memindahkan hujan ke wilayah tetangga, BMKG menjelaskan bahwa operasi tersebut justru bertujuan melindungi kawasan daratan strategis.

Metode pertama yang digunakan adalah Jumping Process Method, yaitu penyemaian awan dari laut agar hujan jatuh lebih awal di perairan sebelum mencapai daratan. Metode kedua, Competition Method, dilakukan pada awan yang tumbuh di atas daratan dengan tujuan menghambat pertumbuhannya agar tidak berkembang menjadi awan hujan ekstrem.

“Modifikasi cuaca tidak dimaksudkan untuk mengalihkan hujan ke wilayah lain, melainkan mengelola risiko hujan ekstrem,” jelas BMKG.

BMKG menambahkan, banjir tidak semata-mata disebabkan oleh curah hujan tinggi. Penurunan daya dukung lingkungan menjadi faktor dominan, terutama berkurangnya daerah resapan air. Di wilayah Jabodetabek, sekitar 800 situ tercatat hilang sejak 1930-an.

Karena itu, BMKG menilai penataan lingkungan harus menjadi agenda utama dalam pengendalian banjir. Namun, di tengah tekanan perubahan iklim dan meningkatnya potensi hujan ekstrem, upaya pengurangan curah hujan melalui OMC tetap dibutuhkan sebagai langkah pendukung.

BMKG menegaskan tidak ada kepentingan pemerintah untuk menciptakan cuaca buruk yang merugikan ekonomi maupun membahayakan warga. OMC diposisikan sebagai instrumen mitigasi risiko cuaca di tengah keterbatasan daya tampung lingkungan yang semakin menurun.*

Pos terkait