13.273 Titik Panas Terdeteksi di Kaltim, BMKG Jalankan Modifikasi Cuaca

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) saat menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).(Dok.BMKG).**

SATUMEDIA.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama sejumlah instansi menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC) di Kalimantan Timur (Kaltim).

Operasi tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kekurangan air di Waduk Sepaku yang menjadi salah satu sumber air baku bagi kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), sekaligus menekan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

OMC melibatkan BMKG, Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), TNI Angkatan Udara (TNI AU), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta Pemerintah Provinsi Kaltim.

Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo mengatakan, kondisi cuaca di Kaltim saat ini turut dipengaruhi periode kering. Berdasarkan data hingga 20 Agustus 2026, sejumlah wilayah mengalami hari tanpa hujan (HTH) dengan kategori sangat pendek hingga panjang.

Durasi HTH terlama tercatat di Kabupaten Kutai Barat dan Kabupaten Paser, masing-masing mencapai 28 hari berturut-turut.

“Modifikasi cuaca bukan membuat hujan, tetapi mengoptimalkan potensi awan yang tersedia. Jika kondisi awan mendukung, penyemaian dilakukan untuk mempercepat turunnya hujan sekaligus memperluas wilayah yang mendapat hujan,” kata Budi dalam siaran pers yang dikutip, Kamis (27/8/2026).

Budi menjelaskan, kondisi kekeringan juga berdampak terhadap ketersediaan air di Waduk Sepaku. Berdasarkan data OIKN, cadangan air di waduk tersebut terus menurun sejak Juli 2026.

Di sisi lain, aktivitas titik panas di Kaltim juga meningkat. BMKG mencatat 13.273 titik panas terdeteksi pada 1-23 Agustus 2026.

Jumlah tersebut meningkat 35,5 persen dibandingkan periode yang sama pada 2015, ketika Kaltim juga mengalami puncak musim kemarau yang beriringan dengan fenomena El Nino.

Menurut Budi, arah pergerakan asap akibat karhutla di Kaltim umumnya bergerak dari barat laut menuju timur laut. Bahkan, sebarannya berpotensi melewati batas administratif hingga ke Kalimantan Utara dan Sabah, Malaysia.

BMKG memperkirakan potensi pertumbuhan awan di Kaltim pada 23-31 Agustus berada pada kategori sedang hingga tinggi, terutama di wilayah utara.

Namun, potensi tersebut diperkirakan menurun pada 28-31 Agustus. Kondisi ini membuat sebagian besar wilayah Kaltim berpotensi mengalami cuaca yang lebih kering.

Hujan ringan hingga sedang masih berpeluang terjadi di Kaltim bagian barat, barat laut, dan utara pada 24-26 Agustus. Setelah itu, intensitas dan sebaran hujan diperkirakan menurun signifikan pada 27 Agustus-1 September.

OMC di IKN dan Berau

Dalam menentukan pelaksanaan OMC, BMKG tidak hanya memperhitungkan jumlah titik panas. Potensi pertumbuhan awan dan peluang hujan di wilayah sasaran juga menjadi pertimbangan.

OMC di kawasan IKN dilaksanakan pada 22-27 Agustus 2026 dengan sasaran utama meningkatkan cadangan air Waduk Sepaku.

Menurut Budi, operasi tersebut telah menunjukkan hasil dengan terjadinya hujan di kawasan IKN dan sekitarnya selama dua hari hingga Senin (24/8/2026).

Sementara itu, OMC di Kabupaten Berau dilaksanakan pada 24-28 Agustus 2026 untuk membantu penanganan titik panas.

“OMC di Kabupaten Berau mulai dilaksanakan pada 24-28 Agustus untuk menangani titik panas berdasarkan permintaan Bupati Berau kepada BNPB dan BMKG,” ujar Budi.

Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji mengatakan, pemerintah daerah juga menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi kekeringan dan karhutla yang masih berpotensi terjadi hingga akhir Agustus 2026.

Saat ini, sekitar 200 titik api masih terpantau di wilayah Kaltim. Penanganannya dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan TNI, Polri, BPBD, pemerintah kabupaten/kota, hingga Masyarakat Peduli Api.

Seno mengatakan, status penanganan karhutla di Kaltim masih berada pada level Siaga Bencana dan belum ditingkatkan menjadi Siaga Darurat.

Meski demikian, pemerintah daerah diminta tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana.

“Setiap daerah harus terus mewaspadai kondisi dan kerawanan di wilayahnya. Jika sudah memenuhi kriteria Siaga Darurat, bantuan dapat segera diajukan kepada BNPB,” kata Seno.

Selain Kaltim, BMKG bersama sejumlah pemangku kepentingan juga menjalankan OMC di beberapa wilayah lain untuk mendukung ketahanan air, pangan, serta keselamatan masyarakat.

Posko OMC di Pekanbaru, Riau, misalnya, telah menerbangkan 26 sorti bahan semai untuk penanganan karhutla selama periode 30 Juli-29 Agustus 2026.

Sementara itu, Posko Palembang, Sumatera Selatan, melaksanakan OMC untuk penanganan karhutla pada 22-26 Agustus 2026. Adapun Posko Pontianak, Kalimantan Barat, menjalankan OMC pada 23-27 Agustus 2026.*

Pos terkait