Salat Dhuha Pembuka Rezeki oleh Dede Supriatna

Dede Supriatna Alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM.(Istimewa).**

SATUMEDIA.ID – Kata dhuha secara bahasa merujuk pada waktu pagi menjelang siang. Adapun dalam fikih, salat Dhuha adalah salat sunah yang dilaksanakan pada waktu Dhuha, yaitu setelah matahari terbit dan naik setinggi kira-kira satu tombak hingga menjelang waktu zawal, yakni ketika matahari mulai bergeser dari titik tertingginya ke arah barat.

Dalam praktiknya di Indonesia, salat Dhuha umumnya sudah dapat dilaksanakan sekitar 15–20 menit setelah matahari terbit yang dalam praktiknya berkisar antara pukul 06.30 WIB hingga 07.00 WIB pagi. Waktu ini berbeda-beda menurut lokasi dan tanggal.

Oleh karena itu, waktu pelaksanaannya tidak selalu sama di setiap daerah. Meskipun salat Dhuha dapat dilaksanakan sejak awal waktunya, waktu yang lebih utama adalah ketika matahari telah meninggi dan panasnya mulai terasa.

Waktu tersebut umumnya berada pada pertengahan pagi, sekitar pukul 09.00 hingga 11.00 WIB, bergantung pada kondisi matahari di daerah masing-masing.
Posisi matahari yang telah naik setinggi kurang lebih satu tombak diperkirakan setara dengan sekitar 15–20 menit setelah matahari terbit. Dengan demikian, umat Islam dapat menyesuaikan pelaksanaan salat Dhuha berdasarkan jadwal matahari terbit setempat.

Diriwayatkan dari Abu Dzar RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Ada sedekah atas setiap persendian salah seorang di antara kalian. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, amar makruf adalah sedekah, nahi mungkar adalah sedekah. Semua itu dapat dicukupi dengan dua rakaat salat Dhuha.”(HR. Muslim).

Hadis tersebut menjelaskan bahwa salat Dhuha memiliki keutamaan yang besar. Dua rakaat salat Dhuha menjadi salah satu bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah diberikan kepada manusia. Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa orang yang menjaga salat Dhuha termasuk orang-orang yang kembali kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah menjaga salat Dhuha kecuali orang yang kembali kepada Allah dengan bertobat.”Makna ini sejalan dengan riwayat yang menyebutkan salat Dhuha sebagai salat orang-orang yang kembali kepada Allah SWT.

Salat Dhuha bukan sekadar ibadah yang dilaksanakan pada pagi hari. Ibadah ini juga dapat menjadi sarana untuk membangun kedisiplinan dan keistiqamahan dalam beribadah. Di tengah suasana pagi yang relatif longgar sebelum seseorang disibukkan oleh berbagai aktivitas harian, salat Dhuha mengingatkan kita agar tidak melewatkan waktu tanpa kegiatan yang bernilai ibadah.

Salat Dhuha paling sedikit dilaksanakan sebanyak dua rakaat. Adapun delapan rakaat merupakan jumlah yang banyak dikenal dalam pembahasan keutamaan salat Dhuha. Sejumlah riwayat juga menyebutkan pelaksanaan salat Dhuha hingga dua belas rakaat.

Salat Dhuha dapat dikerjakan dua rakaat demi dua rakaat. Setiap rakaat diawali dengan membaca Surah Al-Fatihah, kemudian dilanjutkan dengan surah atau ayat Al Quran lainnya. Surah yang sering dianjurkan dalam sejumlah panduan salat Dhuha antara lain Surah Asy-Syams dan Ad-Dhuha, atau Surah Al-Kafirun dan Al-Ikhlas.

Namun, tidak ada keharusan untuk membaca surah-surah tersebut secara khusus. Kita dapat membaca surah lain yang telah dihafal dengan baik.
Menurut Alwi Shihab, salat Dhuha merupakan salat sunah yang dikerjakan pada pagi hari setelah matahari terbit hingga menjelang waktu Zuhur. Salat ini termasuk salat sunah muakkad, yaitu ibadah sunah yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan.

Sunah muakkad adalah amalan sunah yang sangat ditekankan dalam ajaran Islam. Salat Tahajud dan salat Tarawih juga termasuk ibadah sunah yang sangat dianjurkan, meskipun masing-masing mempunyai ketentuan dan pembahasan fikih tersendiri.

Salah satu ibadah sunah yang dikenal masyarakat sebagai pembuka rezeki adalah salat Dhuha. Ibadah ini sering disebut salat pagi karena dilaksanakan ketika banyak orang mulai mempersiapkan diri untuk bekerja atau menjalankan usaha. Sama seperti ibadah lainnya, salat Dhuha memiliki waktu pelaksanaan yang perlu diperhatikan.

Di tengah kesibukan sehari-hari, terkadang seseorang merasa sempat atau tidak sempat melaksanakannya. Padahal, meluangkan waktu untuk beribadah dapat menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan yang seimbang antara urusan dunia dan akhirat. Salat Dhuha dapat diibaratkan sebagai bahan bakar spiritual untuk menumbuhkan semangat dalam menjemput rezeki yang halal dan berkah dari Allah SWT.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Darda RA, Rasulullah SAW menyampaikan pesan tentang keutamaan melaksanakan empat rakaat pada awal siang. Dalam riwayat lain, pesan serupa juga dinisbatkan kepada Abu Dzar RA. Makna hadis tersebut mengajarkan bahwa seorang Muslim hendaknya mengawali aktivitas hariannya dengan ibadah dan memohon pertolongan Allah SWT.

Rezeki, baik berupa materi maupun nonmateri, memang merupakan bagian dari ketentuan Allah SWT. Namun, manusia tetap diperintahkan untuk berusaha, berdoa, dan bertawakal kepada-Nya. Pandangan yang terlalu mengandalkan kemampuan diri sendiri ataupun terlalu pasrah tanpa berusaha bukanlah sikap yang tepat.

Dalam buku Wawasan Al Quran tentang Zikir dan Doa, M. Quraish Shihab membahas pentingnya zikir dan doa sebagai bentuk kesadaran manusia akan keterbatasan dirinya serta ketergantungannya kepada Allah SWT.

Ketika seseorang berzikir dan berdoa, ia menyadari bahwa dirinya adalah makhluk yang membutuhkan pertolongan Allah SWT. Oleh karena itu, berdoalah dengan hati yang tulus dan ikhlas, disertai usaha yang sungguh-sungguh, agar Allah SWT memberikan kemudahan dan rida-Nya.

Salat Dhuha dapat menjadi bagian dari ikhtiar spiritual untuk memohon kecukupan dan keberkahan rezeki. Namun, pelaksanaannya tidak berarti bahwa seseorang pasti memperoleh kekayaan materi secara langsung.

Rezeki juga dapat berupa kesehatan, keluarga yang harmonis, ketenangan hati, persahabatan yang baik, serta kesempatan untuk beribadah.

Perlu diketahui bahwa terdapat waktu-waktu yang dilarang untuk melaksanakan salat sunah tanpa sebab tertentu, termasuk ketika matahari sedang terbit hingga meninggi, ketika matahari tepat berada di tengah langit menjelang zawal, dan ketika matahari menjelang terbenam.

Khusus untuk salat Dhuha, waktu pelaksanaannya berakhir menjelang masuknya waktu Zuhur, sebelum matahari bergeser dari titik tertingginya. Perkiraan pukul 11.30 hingga 12.15 WIB tidak dapat dijadikan patokan tetap untuk seluruh wilayah Indonesia karena waktu zawal berbeda menurut lokasi dan tanggal.

Dalam hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Muslim dan sejumlah ahli hadis lainnya, dijelaskan adanya waktu-waktu tertentu ketika umat Islam dilarang melaksanakan salat. Oleh karena itu, sebaiknya salat Dhuha diselesaikan sebelum memasuki waktu terlarang tersebut.

Setelah melaksanakan salat Dhuha, kita dianjurkan untuk berzikir dan berdoa kepada Allah SWT. Salah satu doa yang populer dibaca masyarakat setelah salat Dhuha adalah sebagai berikut: Allahumma innad-duhaa-a duhaa-uka, wal-bahaa-a bahaa-uka, wal-jamaala jamaaluka, wal-quwwata quwwatuka, wal-qudrata qudratuka, wal-‘ishmata ‘ishmatuka. Allahumma in kaana rizqii fis-samaa-i fa anzilhu, wa in kaana fil-ardhi fa akhrijhu, wa in kaana mu’assaran fa yassirhu, wa in kaana haraaman fathahhirhu, wa in kaana ba’iidan faqarribhu, bihaqqi duhaa-ika wa bahaa-ika wa jamaalika wa quwwatika wa qudratika, aatinii maa aataita ‘ibaadakash-shaalihiin.

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya waktu Dhuha adalah waktu Dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, kekuasaan adalah kekuasaan-Mu, dan penjagaan adalah penjagaan-Mu. Ya Allah, jika rezekiku berada di langit, turunkanlah. Jika berada di bumi, keluarkanlah. Jika sulit, mudahkanlah. Jika belum baik bagiku, sucikanlah. Jika masih jauh, dekatkanlah. Dengan kemuliaan, keindahan, kekuatan, dan kekuasaan-Mu, limpahkanlah kepadaku apa yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba-Mu yang saleh.”

Doa tersebut populer di kalangan masyarakat, tetapi redaksi lengkapnya tidak terbukti sebagai doa khusus yang diajarkan Rasulullah SAW melalui hadis sahih. Karena itu, doa ini dapat dibaca sebagai doa umum, bukan sebagai bacaan wajib setelah salat Dhuha. Selain membaca doa tersebut, kita juga dapat memohon rezeki yang halal, kesehatan, keselamatan, ketenangan hati, serta kemudahan dalam menjalankan pekerjaan dan tanggung jawab keluarga.

Setelah melaksanakan salat Dhuha, hendaknya kita melanjutkan aktivitas dengan bekerja secara jujur, berusaha dengan sungguh-sungguh, serta memperbanyak infak dan sedekah sesuai kemampuan. Zakat wajib ditunaikan apabila telah memenuhi ketentuan syariat, sedangkan infak dan sedekah dapat dilakukan sesuai kemampuan dan kesempatan.

Pada akhirnya, rezeki tidak hanya berupa uang, harta, atau jabatan. Kesehatan, keluarga yang harmonis, persahabatan yang baik, hati yang tenang, dan kesempatan untuk beribadah juga merupakan rezeki yang patut disyukuri. Semoga dengan membiasakan salat Dhuha, kita semakin dekat kepada Allah SWT, diberi kemudahan dalam berikhtiar, serta memperoleh rezeki yang halal, cukup, dan penuh keberkahan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.*

*Alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM .

 

Pos terkait