Jembatan Gantung Eiger Nature, Usung Filosofi Sunda, dari Persaudaraan hingga Pelestarian Alam

Jembatan gantung Eiger Nature sepanjang 543 meter yang membentang di atas lembah dan hutan di Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (20/10/2026).(Dicky Mawardi/Satumedia).**

SATUMEDIA.ID – Jembatan gantung sepanjang 543 meter yang membentang di atas lembah dan hutan di Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat menarik perhatian publik. Namun, di balik bentang panjang yang menjadi ikon Eiger Nature itu, ada cerita lain yang tak kalah menarik: perjuangan memulihkan lahan kritis dan mengembalikan fungsi ekologis kawasan

Membentang di atas lembah dan kawasan hutan di zona pemanfaatan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Bahkan, beredar anggapan bahwa jembatan tersebut merupakan salah satu jembatan gantung terpanjang di Asia Tenggara.

Namun, keberadaan jembatan itu tidak hanya ditujukan untuk menghadirkan pengalaman wisata di tengah alam. Eiger Nature juga menyematkan filosofi tentang hubungan manusia, alam, dan budaya melalui konstruksi yang dirancang oleh Hans Pfaffen dari Swiss, diproduksi CRESTAGEO asal Swiss, serta dirakit di Eiger Nature.

Direktur Utama Eiger Nature Imanuel Wirajaya mengatakan, jembatan tersebut mengusung filosofi Patali Marga, yang menggambarkan keterhubungan antara manusia, alam, dan kebudayaan.

“Patali Marga memiliki makna tentang perjalanan yang menghubungkan berbagai hal. Bukan semata-mata menyatukan dua sisi yang terpisah, melainkan juga mempererat hubungan antarmanusia serta hubungan manusia dengan alam dan budaya,” kata Imanuel, Selasa (20/10/2026).

Menurut dia, filosofi tersebut juga berkaitan dengan ungkapan Sunda nyambungkeun duduluran, yang berarti menyambungkan persaudaraan.

Jembatan, kata Imanuel, menjadi simbol bahwa perbedaan dan jarak tidak seharusnya menjadi penghalang untuk membangun hubungan. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu terhubung dengan keluarga, sahabat, masyarakat, hingga orang-orang yang sebelumnya tidak dikenal.

“Menjadi jembatan berarti membangun hubungan, bukan menciptakan pemisah. Kita tidak hidup sendiri karena setiap langkah selalu membuka peluang untuk terhubung dengan orang lain,” ujarnya.

Filosofi lainnya tercermin dalam nilai silih asih, silih asah, silih asuh, yakni saling mengasihi, saling belajar, dan saling menjaga.

Imanuel menuturkan, nilai tersebut juga berlaku dalam hubungan manusia dengan lingkungan. Alam bukan sekadar tempat beraktivitas, melainkan bagian dari kehidupan yang perlu dirawat bersama.

Ia berharap keberadaan jembatan itu dapat mengingatkan pengunjung bahwa hubungan manusia dengan sesama dan lingkungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan.

Jembatan gantung Eiger Nature membentang di atas lembah dan kawasan hutan di zona pemanfaatan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).(Dicky Mawardi/Satumedia).**

Pulihkan Lahan Kritis

Di balik pembangunan jembatan gantung tersebut, Eiger Nature juga menjalankan upaya pemulihan lingkungan di Desa Sukagalih. Perusahaan itu mengembangkan program restorasi pada lahan bekas perkebunan teh yang telah mengalami degradasi.

Imanuel menjelaskan, upaya tersebut dilakukan setelah Eiger Nature mendapat kepercayaan untuk mengelola zona pemanfaatan di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Dalam proses pengembangan kawasan, pihaknya harus melewati lahan milik PTPN yang sebelumnya digunakan sebagai perkebunan teh. Setelah aktivitas perkebunan tidak lagi berjalan, kondisi sebagian lahan mengalami penurunan kualitas hingga menjadi lahan kritis.

Melihat kondisi tersebut, Eiger Nature melakukan restorasi dengan menanam lebih dari 120.000 pohon lokal dan endemik. Selain itu, sekitar 8 juta tanaman semak dan penutup tanah atau ground cover turut ditanam untuk membantu pemulihan kondisi lahan.

“Pemulihan ini kami lakukan karena kawasan bekas perkebunan teh tersebut sudah tidak aktif dan mengalami degradasi. Kami berupaya mengembalikan fungsi lingkungannya melalui penanaman pohon lokal dan endemik, disertai tanaman semak serta penutup tanah,” kata Imanuel.

Menurut dia, kegiatan penanaman tersebut merupakan bagian dari upaya jangka panjang untuk memperbaiki kondisi lahan sekaligus meningkatkan kembali fungsi ekologisnya.

Di sisi lain, Eiger Nature juga menyatakan komitmennya untuk menjaga kelestarian kawasan taman nasional seluas 253 hektare yang berada di seberang lahan restorasi.

Imanuel menjelaskan, kedua kawasan itu memiliki pendekatan pengelolaan yang berbeda. Lahan bekas perkebunan teh menjadi sasaran pemulihan, sedangkan kawasan taman nasional difokuskan pada upaya konservasi.

“Lahan yang sudah mengalami kerusakan membutuhkan restorasi agar kondisinya dapat dipulihkan. Sementara itu, kawasan taman nasional harus dijaga melalui konservasi supaya kelestarian alam yang masih ada tetap terpelihara,” ujarnya.

Dirintis Sejak 2017

Pengembangan Eiger Nature telah dirintis sejak 2017. Menurut Imanuel, dua hingga tiga tahun pertama diisi dengan berbagai persiapan, mulai dari survei, perencanaan, penataan lahan, sosialisasi kepada masyarakat, hingga penanaman pohon.

Pembangunan kawasan tersebut kemudian ditandai dengan peletakan batu pertama atau groundbreaking pada Oktober 2021.

Dengan demikian, pada Oktober 2026, pembangunan Eiger Nature memasuki tahun kelima sejak dimulainya tahap konstruksi.

Imanuel mengakui, perjalanan pengembangan kawasan tersebut tidak selalu berjalan sesuai rencana. Pandemi Covid-19 menjadi salah satu tantangan yang memengaruhi pelaksanaan sejumlah kegiatan.

Meski menghadapi berbagai kendala, ia menilai proses tersebut memberikan pelajaran mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara pengembangan destinasi wisata dan perlindungan lingkungan.

“Berbagai tantangan yang kami alami semakin menguatkan pemahaman bahwa lingkungan harus dijaga bersama. Pemulihan lahan yang rusak dan perlindungan kawasan yang masih lestari sama-sama penting,” tuturnya.

Aktivis Lingkungan Apresiasi Restorasi

Ketua Forum Penyelamat Lingkungan Hidup (FPLH) Jawa Barat, Thio Setiowekti, mengatakan, kawasan tersebut sebelumnya merupakan lahan perkebunan yang mengalami penyerobotan dan perubahan fungsi.

Thio mengaku pernah mendatangi lokasi di Desa Sukagalih itu pada 2019. Saat itu, sebagian lahan dimanfaatkan warga untuk menanam sayuran, tetapi kemudian ditinggalkan dalam kondisi terbengkalai. Sejumlah bangunan liar juga ditemukan di kawasan tersebut.

Ia mengapresiasi langkah pemulihan yang dilakukan Eiger Nature. Menurut Thio, upaya itu menunjukkan bahwa kawasan yang sebelumnya mengalami kerusakan dapat kembali dikembangkan dengan memperhatikan fungsi lingkungan.

“Alhamdulillah, lahan yang sebelumnya kritis kini mulai dipulihkan melalui Eiger Nature. Ini menjadi contoh bahwa pelaku usaha dapat mengambil peran dalam mengembalikan fungsi lingkungan, bukan hanya memanfaatkan sumber daya alam,” kata Thio.

Ia mengingatkan bahwa pengembangan ekowisata seharusnya tidak hanya mengejar jumlah kunjungan atau keuntungan ekonomi. Pengelola juga perlu memastikan kegiatan wisata berjalan seiring dengan pelestarian alam, pemberdayaan masyarakat setempat, dan edukasi bagi pengunjung.

Thio menilai, penanaman pohon dan pemulihan lahan bekas perkebunan teh menjadi langkah penting untuk memperbaiki kondisi kawasan yang telah terdegradasi.

Di saat yang sama, kawasan taman nasional tetap dijaga agar keaslian ekosistemnya tidak terganggu oleh aktivitas wisata.

“Saya berharap pengelolaan Eiger Nature dapat menjadi contoh pengembangan ekowisata lainnya, yang mengintegrasikan kepentingan ekonomi, keterlibatan masyarakat, dan perlindungan lingkungan hidup,” pungkasnya.*

 

 

Pos terkait