Dari Lahan Kritis Jadi Ekowisata, EIGER Nature Hijaukan Megamendung

Chairman EIGER Nature Ronny Lukito.(Dicky Mawardi/Satumedia).**

SATUMEDIA.ID – EIGER Nature mengembangkan kawasan ekowisata di Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dengan menggabungkan upaya restorasi lingkungan, konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat.

Kawasan yang dikembangkan memiliki luas sekitar 326,6 hektare. Area tersebut berasal dari kerja sama pemanfaatan kawasan kehutanan di zona pemanfaatan serta lahan milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 2 seluas 73 hektare.

Chairman EIGER Nature Ronny Lukito mengatakan, pengembangan kawasan tersebut merupakan bagian dari komitmen EIGER untuk menghadirkan ruang yang memungkinkan masyarakat lebih dekat dengan alam.

“Sebagai brand yang lahir di Jawa Barat, kami ingin memberikan sumbangsih melalui ekowisata. Inisiatif ini mengintegrasikan restorasi dan konservasi, edukasi lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat,” kata Ronny, belum lama ini

Menurut dia, pengembangan EIGER Nature di Megamendung melanjutkan semangat yang sebelumnya diterapkan melalui Dusun Bambu.

Kedua inisiatif tersebut, kata Ronny, dikembangkan dengan gagasan untuk menghadirkan ruang berbasis alam yang tidak hanya menawarkan pengalaman bagi pengunjung, tetapi juga memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

Ronny menjelaskan, sebagian lahan yang kini dikembangkan EIGER Nature sebelumnya merupakan lahan okupansi yang didominasi tanaman sayuran musiman.

Lahan milik PTPN seluas 73 hektare tersebut kemudian menjalani proses penghijauan dan menjadi bagian dari pengembangan kawasan ekowisata.

Selain itu, EIGER Nature juga mendukung upaya konservasi di Zona Pemanfaatan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).

Sejak 2021, upaya restorasi yang dilakukan mencakup penanaman lebih dari 120.000 pohon dan perdu. Kegiatan tersebut juga mencakup penanaman lebih dari 8 juta tanaman semak dan penutup tanah.

Ronny mengatakan, restorasi tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan kawasan EIGER Nature.

“Harapannya, generasi muda semakin dekat dan bersentuhan dengan alam serta belajar darinya. Ketika kita semakin mengenal alam, kita akan semakin memahami pentingnya menjaga dan merawatnya,” ujar Ronny.

Dalam pengembangannya, EIGER Nature menggunakan pendekatan ekowisata yang mengintegrasikan berbagai aspek kehidupan masyarakat dan lingkungan.

Ronny menjelaskan, konsep awal yang digunakan adalah 3E, yakni ekologi, etnologi, dan ekonomi.

Konsep tersebut kemudian diperluas menjadi 7E yang mencakup ekologi, etnologi, ekonomi, edukasi, estetika, etika, serta hiburan atau entertainment.

Melalui konsep tersebut, EIGER Nature tidak hanya diarahkan sebagai destinasi wisata berbasis alam. Kawasan ini juga dikembangkan sebagai ruang untuk memberikan pengalaman sekaligus pembelajaran mengenai lingkungan.

“Alam dapat menjadi ruang untuk menggerakkan kehidupan selama manusia hadir untuk menjaga, memulihkan, dan belajar darinya,” kata Ronny.

Menurut Ronny, pendekatan tersebut menjadi landasan perjalanan EIGER Nature di Megamendung, mulai dari pemulihan lingkungan hingga penciptaan ruang yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pengembangan kawasan itu diharapkan dapat memperkuat hubungan antara manusia dan alam sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan.*

Pos terkait