SATUMEDIA.ID – Menurut Donald E. Knuth, algoritma adalah serangkaian langkah-langkah komputasi yang mengubah input menjadi output yang diinginkan. Artinya algoritma pada media sosial berarti serangkaian instruksi, sinyal, dan data yang mengatur cara konten difilter, diberi peringkat, dipilih, dan direkomendasikan kepada pengguna di suatu platform.
Algoritma menentukan informasi apa yang lebih sering kita lihat dan kepada siapa pesan kita ditampilkan. Algoritma pada Facebook, Instagram, TikTok, atau YouTube memilih konten berdasarkan berbagai faktor, seperti minat pengguna, interaksi sebelumnya, komentar, tontonan, dan popularitas konten.
Menurut Kifansa Naufal Fadhlurrohman, di balik setiap aplikasi yang kita gunakan sehari-hari, mulai dari media sosial, browser, hingga aplikasi navigasi seperti Google Maps atau Apple Maps, terdapat serangkaian langkah logis yang bekerja secara sistematis. Langkah-langkah inilah yang dikenal sebagai algoritma.
Meskipun istilah algoritma sering dikaitkan dengan dunia pemrograman, sebenarnya konsep algoritma sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia sejak lama, bahkan sebelum komputer diciptakan.
Secara sederhana, algoritma dapat diibaratkan sebagai resep masakan. Resep menjelaskan bahan yang dibutuhkan dan langkah-langkah yang harus dilakukan secara berurutan agar menghasilkan makanan yang diinginkan. Jika langkahnya diubah atau dilewati, hasil akhirnya dapat berbeda.
Dalam dunia komputer, algoritma menjadi dasar utama dalam pembuatan program. Komputer tidak dapat berpikir sendiri, sehingga membutuhkan instruksi yang jelas dan terstruktur agar dapat menjalankan tugas dengan benar.
Algoritma harus memiliki langkah-langkah yang jelas dan tidak ambigu sehingga mudah dipahami. Setiap langkah juga harus memiliki urutan yang logis dan dapat dijalankan dalam waktu yang terbatas. Selain itu, algoritma harus memiliki input dan menghasilkan output yang sesuai dengan tujuan awal.
Karakteristik lain yang penting adalah efisiensi. Algoritma yang baik mampu menyelesaikan masalah dengan penggunaan waktu dan sumber daya seminimal mungkin.
Algoritma bekerja dengan menerima data masukan, memproses data tersebut berdasarkan aturan tertentu, lalu menghasilkan keluaran berupa solusi atau informasi baru. Proses ini meliputi tiga tahap utama.
Tahap pertama adalah menerima input, yaitu data atau perintah awal. Tahap kedua adalah mengolah data menggunakan langkah-langkah logis. Tahap terakhir adalah menghasilkan output sebagai hasil dari proses tersebut. Sebagai contoh, ketika seseorang mencari lokasi menggunakan aplikasi peta digital, sistem akan menerima lokasi tujuan sebagai input, menghitung rute terbaik melalui algoritma tertentu, lalu menampilkan jalur perjalanan sebagai output.
Meskipun sering dianggap sebagai konsep teknis, algoritma sebenarnya sangat dekat dengan aktivitas sehari-hari. Banyak sistem digital yang kita gunakan bergantung pada algoritma untuk bekerja secara efisien. Kegunaan lainnya antara lain menentukan rekomendasi film atau musik berdasarkan preferensi pengguna, menghitung rute tercepat pada aplikasi navigasi, memfilter email spam secara otomatis, mengelola transaksi pada aplikasi perbankan digital, serta membantu mesin pencari menampilkan hasil yang paling relevan.
Tanpa algoritma, berbagai layanan digital modern tidak akan mampu memberikan pengalaman yang cepat dan personal seperti sekarang.
Kembali pada algoritma media sosial, terutama pada era digital ketika jumlah data terus meningkat setiap hari, algoritma berperan penting dalam mengolah data tersebut menjadi informasi yang berguna. Dengan algoritma yang tepat, proses yang kompleks dapat diselesaikan secara otomatis dan efisien.
Selain itu, algoritma juga menjadi fondasi perkembangan teknologi modern seperti kecerdasan buatan (AI), data mining, dan analisis big data. Kemampuan merancang algoritma yang efektif menjadi salah satu keterampilan utama dalam dunia teknologi informasi.
Dalam konteks media sosial, algoritma menentukan informasi apa yang lebih sering kita lihat dan kepada siapa pesan kita ditampilkan. Algoritma Facebook, Instagram, TikTok, atau YouTube memilih konten berdasarkan berbagai faktor, seperti minat pengguna, interaksi sebelumnya, komentar, tontonan, dan popularitas konten.
Akibatnya, pesan yang sebenarnya penting bisa saja tidak sampai kepada orang yang kita harapkan. Sebab, komunikasi yang efektif bukan hanya soal “apa yang kita sampaikan”, tetapi juga “siapa yang menerima, kapan menerima, dan apakah pesan tersebut benar-benar terlihat.”
Mengutip Buku Dasar-Dasar Algoritma Pemrogaman IT ,ada tantangan lain. Algoritma cenderung membuat orang melihat konten yang sesuai dengan minat mereka. Akibatnya, orang dapat berada dalam lingkungan informasi yang berbeda-beda. Dua orang yang menggunakan platform yang sama dapat melihat berita atau informasi yang sangat berbeda.
Di era digital, tantangan komunikasi bukan hanya bagaimana kita membuat pesan yang baik, tetapi juga bagaimana pesan tersebut dapat menembus algoritma dan sampai kepada orang yang tepat. Karena itu, organisasi harus mampu memahami cara berkomunikasi di berbagai platform digital tanpa kehilangan nilai, identitas, dan tujuan organisasinya.
Apakah algoritma dapat menciptakan atau memperlebar jarak antara komunikator dan komunikan? Dalam komunikasi tradisional, komunikator relatif lebih mudah mengetahui kepada siapa pesan disampaikan dan bagaimana responsnya.
Dalam komunikasi digital, algoritma kemudian menentukan banyak hal tentang bagaimana pesan tersebut hadir di hadapan kita. Dahulu, tantangan komunikasi adalah bagaimana menyampaikan pesan kepada komunikan. Sekarang, tantangannya bertambah bagaimana pesan tersebut dapat melewati algoritma sebelum sampai kepada komunikan.
Algoritma bukan sekadar teknologi yang mengatur arus informasi. Ia juga menjadi “penjaga gerbang” komunikasi digital yang dapat mendekatkan komunikator dengan komunikan, tetapi dalam kondisi tertentu juga dapat menciptakan jarak di antara keduanya. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa generasi sekarang perlu memahami komunikasi digital, bukan hanya memiliki kemampuan berbicara di depan orang.
Algoritma media sosial sangat penting karena menggunakan berbagai sinyal untuk menentukan konten yang ditampilkan kepada pengguna. Sinyal tersebut antara lain suka, berbagi, komentar atau keterlibatan pengguna, relevansi berdasarkan kata kunci dan hashtag, waktu dan frekuensi posting, kekinian konten, interaksi pengguna, akun yang diikuti, klik-tayang, otoritas profil, lokasi, jenis konten seperti video, gambar, dan teks, viralitas, serta waktu tonton.
Setiap platform media sosial memiliki algoritma yang berbeda sesuai dengan fitur dan perilaku penggunanya. Misalnya, Twitter memprioritaskan kekinian dan relevansi berdasarkan interaksi serta kata kunci pengguna, disertai skor reputasi profil.
Facebook mempertimbangkan waktu, demografi, kredibilitas akun, jenis konten, relevansi, tingkat keterlibatan, dan koneksi Facebook untuk memberikan skor relevansi terhadap suatu postingan. Instagram memiliki sistem yang berbeda untuk Feed, Stories, Explore, dan Reels.
Masing-masing mempertimbangkan sinyal seperti kekinian postingan, akun yang diikuti, aktivitas pengguna, jenis konten, dan riwayat interaksi.TikTok sangat bergantung pada interaksi pengguna, detail video, pengaturan perangkat dan akun, serta waktu tonton.
TikTok juga telah berkembang dari aplikasi hiburan menjadi kekuatan budaya dan ekonomi global, terutama karena kemampuannya menyajikan konten yang sangat dipersonalisasi. YouTube menggunakan banyak indikator untuk memberi peringkat pada video, termasuk performa video, rasio klik-tayang, waktu tonton, riwayat penelusuran dan tontonan, serta informasi demografis dan lokasi pengguna.
Pada platform profesional seperti LinkedIn, algoritma mempertimbangkan kualitas dan relevansi postingan, kemungkinan keterlibatan, hubungan personal, serta kredibilitas pengirim konten. Pinterest, yang berfokus pada konten visual, menyusun peringkat berdasarkan relevansi topik, kualitas pin dan domain, serta kedekatan dengan pengguna.
Reddit menggunakan pendekatan berbasis komunitas dengan memberi peringkat pada postingan berdasarkan sistem upvote dan downvote, jumlah suara, waktu unggahan, serta interaksi dalam komentar. Sementara itu, Tumblr menggunakan algoritma yang mempertimbangkan interaksi pengguna, isi konten, waktu posting, serta preferensi yang terlihat dari kebiasaan pengguna untuk memperluas jangkauan dan rekomendasi konten.
Kecerdasan buatan (AI) memainkan peran penting dalam algoritma media sosial. AI memungkinkan platform mendeteksi misinformasi dan berita palsu dengan menganalisis konten serta riwayat akun. AI juga membantu memoderasi konten untuk menjaga keamanan pengguna dengan mengidentifikasi postingan dan komentar yang mencurigakan untuk ditinjau lebih lanjut.
Selain itu, algoritma berbasis AI mempersonalisasi penyampaian konten dengan mengelompokkan pengguna berdasarkan informasi eksplisit maupun implisit untuk merekomendasikan konten yang disesuaikan dengan minat mereka.
AI juga memungkinkan platform menyediakan analitik secara real-time, yaitu mengumpulkan, memproses, dan menganalisis data segera setelah data tersebut dihasilkan. Hal ini membantu platform membuat prediksi secara cepat dan memahami pola hubungan serta perilaku pengguna.
Salah satu kelemahan algoritma media sosial adalah kecenderungannya untuk memberikan keuntungan jangkauan kepada akun-akun besar yang telah memiliki banyak pengikut dan tingkat keterlibatan yang tinggi. Kondisi ini dapat menyebabkan akun-akun yang lebih kecil mengalami penurunan jangkauan organik sehingga lebih sulit memperoleh visibilitas dan berkembang di platform.
Keseluruhan sistem tersebut memperlihatkan bahwa algoritma bukan hanya alat teknis, tetapi juga merupakan arsitektur tak terlihat yang membentuk cara kita berinteraksi, mengonsumsi informasi, dan memahami dunia digital di era media sosial.
Menarik untuk mengutip hasil Stadium Generale Program Magister Ilmu Komunikasi UGM yang menghadirkan Janoe Arijanto, Ketua Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I), sebagai pembicara utama.Dalam paparannya, Janoe menekankan bahwa industri komunikasi saat ini berada dalam dominasi platform digital global seperti Google, Meta, dan TikTok.
Menurut Janoe, pada tahun 2021 sekitar 75 persen belanja komunikasi atau iklan di Indonesia dialokasikan pada tiga platform tersebut. Kondisi ini membuat hampir semua saluran komunikasi masyarakat modern melewati dan dipengaruhi oleh platform-platform digital tersebut.
“Dunia komunikasi semakin matematis, semakin cybernetics. Sayangnya, kita tidak punya data yang sangat kuat mengenai siapa audiens kita secara real-time. Data itu sepenuhnya dikuasai oleh para raksasa platform,” ujar Janoe dalam pemaparannya.
Ia menekankan bahwa pemerintah Indonesia sejauh ini memiliki data demografis berupa jumlah dan distribusi penduduk. Namun, data perilaku (behavioral data) masyarakat Indonesia sebagian besar berada dalam penguasaan perusahaan teknologi global. Ketimpangan data ini, menurutnya, menciptakan apa yang disebut sebagai asimetris epistemik, yaitu perbedaan mendasar dalam akses dan penguasaan pengetahuan.
Pada akhirnya, memahami algoritma bukan lagi semata-mata persoalan teknologi. Bagi dunia komunikasi, pemahaman terhadap algoritma menjadi bagian penting dari kemampuan memahami bagaimana pesan diproduksi, disebarkan, diterima, dan bahkan diabaikan.
Dengan demikian, tantangan komunikasi di era digital bukan hanya bagaimana membuat pesan yang menarik, tetapi juga bagaimana memahami ekosistem algoritma yang menentukan apakah pesan tersebut akan ditemukan oleh komunikan atau justru berhenti sebelum sampai kepada mereka.*
*Penulis adalah Alumni Fakultas Publisistik/Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan, FEB Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

