SATUMEDIA.ID – Perfilman Indonesia kembali mencuri perhatian melalui film Empat Musim Pertiwi (Four Seasons in Java). Karya sutradara Kamila Andini ini tak hanya menghadirkan kisah pergulatan batin seorang penyintas kekerasan seksual, tetapi juga menyoroti stigma sosial, pengucilan, dan perjuangan kelompok marginal untuk mendapatkan kehidupan yang lebih manusiawi.
Film yang dibintangi Putri Marino dan Arya Saloka tersebut tayang serentak di bioskop Indonesia pada 8 Oktober 2026. Empat Musim Pertiwi juga mendapat kesempatan mewakili Indonesia dalam kategori Best International Feature Film di ajang Academy Awards atau Piala Oscar 2027.
Film ini mengisahkan Pertiwi (Putri Marino), seorang perempuan yang kembali ke kampung halamannya setelah lebih dari 20 tahun meninggalkan desa akibat dipenjara karena membunuh pria yang berusaha memperkosanya.
Kepulangan Pertiwi bukan perkara mudah. Rumah yang dahulu menjadi tempatnya tumbuh besar kini terasa asing. Hubungan dengan keluarga dan orang-orang terdekatnya telah berubah, termasuk dengan kedua orang tuanya yang menyambut kedatangannya dengan sikap dingin.
Terakhir kali keluarga melepas Pertiwi, usianya baru 16 tahun. Kini, setelah puluhan tahun berlalu, ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa kepulangannya tidak serta-merta membuatnya diterima kembali.
Alih-alih menemukan kehangatan, Pertiwi justru berhadapan dengan kecanggungan, penolakan, dan lingkungan yang kembali mengingatkannya pada pengalaman kelam di masa lalu.
Kabar kepulangan Pertiwi segera menyebar ke seluruh penjuru desa. Berita itu juga sampai kepada Bisma (Arya Saloka), mantan kekasih Pertiwi yang kini telah berkeluarga.
Pertemuan mereka membangkitkan kembali kenangan dan perasaan yang pernah tumbuh di antara keduanya. Bisma berusaha mendekati Pertiwi, seolah ingin menghidupkan kembali kisah cinta yang terputus oleh waktu.
Namun, Pertiwi tidak ingin terjebak dalam hubungan masa lalu. Ia memilih menyusuri kampung yang sudah lebih dari dua dekade tak dikunjunginya dan mencari orang-orang yang pernah menjadi bagian penting dalam kehidupannya.
Perjalanan tersebut mempertemukannya kembali dengan berbagai kenyataan pahit, termasuk nasib orang-orang yang tersisih dari lingkungan sosial mereka sendiri.
Salah satunya adalah Mak Ira (Christine Hakim), yang harus bertahan hidup di sebuah warung di kawasan padang pasir Pegunungan Tengger. Latar belakangnya sebagai mantan pekerja seks komersial membuat Mak Ira mengalami pengucilan dan tidak diterima oleh masyarakat desa.
Pertiwi juga menemukan Kuntet (Dwika Pradnyana), seorang penyandang disabilitas yang berada dalam kondisi terpasung karena dianggap mengalami gangguan kejiwaan.
Kondisi keduanya membuat Pertiwi melihat kampung halamannya dari sudut pandang berbeda. Baginya, masyarakat yang selama ini menjunjung norma justru membiarkan orang-orang yang dianggap berbeda hidup dalam keterasingan.
Pengalaman menyaksikan penderitaan orang-orang di sekitarnya mendorong Pertiwi mengambil langkah nyata. Ia berinisiatif membangun rumah aman bagi dirinya dan orang-orang yang mengalami penolakan dari masyarakat.
Rumah tersebut diharapkan menjadi tempat bagi mereka untuk hidup lebih layak, memperoleh penerimaan, dan terbebas dari perlakuan diskriminatif.
Namun, niat Pertiwi tidak berjalan mulus. Ia harus berhadapan dengan penolakan serta pandangan sosial yang telah mengakar kuat di masyarakat.
Konflik inilah yang menjadi salah satu inti cerita Empat Musim Pertiwi. Film ini menggambarkan bahwa perjuangan untuk memperoleh kehidupan yang bermartabat tidak berhenti pada keberanian menghadapi trauma pribadi, tetapi juga menuntut perlawanan terhadap stigma dan ketidakadilan sosial.
Melalui perjalanan Pertiwi, Kamila Andini menghadirkan cerita tentang perempuan yang berusaha berdamai dengan masa lalu sekaligus memperjuangkan ruang aman bagi mereka yang selama ini tidak mendapatkan tempat di masyarakat.
Selain Putri Marino dan Arya Saloka, film ini turut menampilkan sejumlah aktor dan aktris, antara lain Christine Hakim sebagai Mak Ira, Hana Pitrashata Malasan sebagai Niken, Iswadi Pratama sebagai Ayah Pertiwi, Hargi Sundari sebagai Ibu Pertiwi, Nagra Pakusadewo sebagai Jonet, serta Totos Rasiti sebagai Fajar.
Proyek Empat Musim Pertiwi pertama kali diumumkan secara resmi pada Oktober 2024. Film ini diproduksi melalui kerja sama Fourcolours Films (Forka), yang melibatkan Ifa Isfansyah, serta Anthony Chen dari Giraffe Pictures.
Produksinya merupakan kolaborasi internasional yang melibatkan delapan negara, yakni Indonesia, Singapura, Belanda, Norwegia, Jerman, Perancis, Polandia, dan Thailand.
Sebelum tayang di bioskop Indonesia, cuplikan eksklusif berdurasi 10 menit film ini ditampilkan dalam Jogja-NETPAC Asian Film Festival ke-20 pada 30 November 2025.
Film tersebut kemudian menjalani pemutaran perdana dunia (world premiere) dalam program Centrepiece di Festival Film Internasional Toronto 2026.
Dengan mengangkat isu kekerasan seksual, stigma, dan pengucilan terhadap kelompok marginal, Empat Musim Pertiwi membawa persoalan sosial ke layar lebar sekaligus membuka ruang refleksi mengenai arti penerimaan, keadilan, dan kesempatan bagi setiap orang untuk menjalani kehidupan yang lebih manusiawi.*


