SATUMEDIA.ID – Indonesia berpeluang memperkuat perannya dalam industri kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) melalui pengembangan mineral kritis, terutama nikel dan tembaga. Kedua komoditas tersebut dibutuhkan untuk menopang infrastruktur digital, mulai dari sistem kelistrikan hingga operasional pusat data.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan, potensi mineral Indonesia perlu dimanfaatkan untuk membangun rantai nilai industri yang lebih kuat. Hilirisasi tidak cukup hanya menghasilkan produk olahan, tetapi juga harus mampu menjawab kebutuhan industri teknologi yang terus berkembang.
Menurut Nezar, nikel dan tembaga memiliki peran strategis dalam ekosistem AI. Nikel berkaitan dengan kebutuhan penyimpanan energi melalui baterai, sedangkan tembaga dibutuhkan untuk berbagai peralatan kelistrikan dan jaringan transmisi.
Kebutuhan tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral sekaligus memperkuat posisi dalam rantai pasok teknologi global.
“Jika dunia meminta Indonesia menyediakan bahan baku bagi transisi energi dan transisi digital, Indonesia harus memastikan bahwa rantai nilai tersebut berkelanjutan bagi kedua belah pihak,” ujar Nezar dalam siaran pers dikutip, Senin (12/10/2026).
Nezar menyebut, Indonesia menyumbang sekitar 62 persen produksi tambang nikel dunia. Posisi tersebut menjadi modal penting untuk meningkatkan kontribusi Indonesia dalam rantai pasok industri global, termasuk sektor yang mendukung perkembangan AI.
Namun, besarnya produksi mineral harus diikuti upaya untuk memastikan kegiatan pengolahan memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan kepentingan masyarakat.
Nezar menegaskan, hilirisasi harus mencakup peningkatan kinerja lingkungan, ketertelusuran rantai pasok, praktik ketenagakerjaan yang bertanggung jawab, serta penggunaan energi rendah karbon.
Pengelolaan limbah dan air serta dampak industri terhadap masyarakat juga perlu menjadi perhatian agar pengembangan industri mineral berjalan secara berkelanjutan.
Dengan demikian, Indonesia tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan baku, tetapi juga dapat memperkuat kapasitas industri domestik dalam menghasilkan produk bernilai tambah.
Pengembangan AI juga membutuhkan infrastruktur yang tidak sederhana. Pusat data, misalnya, memerlukan pasokan listrik yang andal, jaringan serat optik, sistem pendingin, lahan, cip, serta tenaga ahli.
Karena itu, Nezar menilai pengembangan AI tidak bisa hanya mengandalkan kemajuan teknologi digital. Kebijakan energi, industri, pembiayaan, dan lingkungan juga perlu berjalan beriringan.
Indonesia dinilai memiliki peluang untuk menjadi pusat AI regional dengan dukungan posisi geografis yang strategis, pertumbuhan ekonomi digital, dan ketersediaan talenta digital.
Meski demikian, peluang itu perlu diimbangi kesiapan infrastruktur serta kemampuan untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri.
Nezar berharap perkembangan industri AI dapat mendorong penciptaan lapangan kerja berkualitas, memperkuat kemampuan industri nasional, dan menghadirkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
“Kita harus mengubah pertumbuhan ini menjadi penciptaan lapangan kerja bernilai tambah tinggi, penguatan kapabilitas dalam negeri, dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan,” tuturnya.*

