Permukiman Diusik Monyet Liar, Pakar IPB Beberkan Akar Masalahnya

Seekor monyet liar tengah duduk di atas rumah warga di Desa Langensari, Kecamatan Lembang, KBB, Selasa (10/9/2024).(Dicky Mawardi/Satumedia).**

SATUMEDIA.ID – Dalam beberapa hari terakhir, warga Bogor dikejutkan oleh kemunculan kelompok monyet ekor panjang yang memasuki permukiman. Sejumlah lokasi menjadi titik kemunculan, mulai dari  kawasan Sempur hingga area Kampus IPB Dramaga.

Kepala Pusat Studi Satwa Primata (PSSP) IPB University, Prof Huda S Darusman, menilai fenomena ini sebagai bagian dari pola adaptasi primata terhadap dinamika lingkungan yang terus berubah.

“Satwa primata adalah satwa yang paling mudah beradaptasi dan sangat cepat belajar perilaku baru,” ujar Prof Huda dikutip dari laman IPB University, Selasa (25/11/2025).

Prof Huda menjelaskan, meski musim hujan biasanya menyediakan pakan alami yang melimpah, monyet ekor panjang kerap memilih sumber makanan yang lebih mudah dijangkau. Ketergantungan terhadap makanan dari manusia mulai dari sampah hingga pemberian langsung menjadi salah satu pemicu satwa tersebut semakin berani mendekati kawasan berpenduduk.

Prof Huda mengatakan bahwa monyet cenderung mencari sisa makanan manusia dari sampah terbuka. “Mereka memulung makanan karena itu strategi hidup yang efektif. Sampah makanan yang berserakan menjadi sumber pakan paling mudah,” jelasnya.

Populasi monyet ekor panjang telah ada di sekitar Kampus IPB Dramaga sejak tahun 1970-an. Fragmentasi habitat yang semakin masif membuat satwa semakin mendekati manusia.

“Perubahan lahan menjadi permukiman, tempat wisata, dan pembangunan fasilitas lain memaksa kelompok primata mencari lokasi baru yang menyediakan pakan,” tutur Prof Huda.

Terkait kekhawatiran masyarakat terhadap agresivitas satwa, Prof Huda mengingatkan bahwa interaksi fisik justru berbahaya bagi kedua pihak. “Kita dan primata memiliki banyak kemiripan penyakit, sehingga gigitan dan cakaran berpotensi menularkan penyakit,” ujarnya.

“Pada dasarnya, monyet takut pada manusia. Akan tetapi, mereka dapat bereaksi agresif jika merasakan ketakutan manusia,” jelas Prof Huda.

Fenomena ini disebut bukan peristiwa pertama. Sejak 2017, PSSP IPB University mencatat sejumlah kejadian serupa dan telah melakukan penghalauan, penangkapan selektif, hingga translokasi.

Salah satu metode efektif adalah mengidentifikasi alpha male atau pemimpin kelompok. “Begitu pemimpinnya ditangkap untuk penanganan medis dan translokasi, struktur kelompok buyar dan tingkat invasi menurun,” kata Prof Huda.

Untuk langkah jangka panjang, IPB University tengah mengkaji opsi pengendalian ekosistem, termasuk menyediakan feeding point di dekat habitat asli dan reboisasi pohon pakan. Namun, menurut Prof Huda langkah ini harus dibarengi budaya membuang sampah secara tertutup.

“Kalau manusia masih menghasilkan sampah makanan terbuka, primata tetap akan kembali,” pungkasnya.*

Pos terkait