SATUMEDIA.ID – Globalisasi tak hanya memberikan pengaruh positif tapi juga negatif. Dampak buruknya bisa menjadi masalah besar di samping terorisme dan narkotika.
Globalisasi yang memiliki efek merusak tersebut,sudah terlihat dari budaya anak muda masa kini yang tidak lagi memiliki nilai juang dan segalanya ingin cepat saji.
“Prihatin dengan fenomena yang terjadi di tengah masyarakat saat ini, kami dari Wahana Jaringan Informasi Terpadu (Wajit) bersinergi dengan Kementerian Pertahanan RI melalui Universitas Pertahanan (Unhan) menyelenggarakan seminar Dampak Globalisasi Terhadap Sistem Demokrasi Pancasila,” kata Ketua Wajit, Haris Bunyamin di Resto Sancang Parahyangan, Padalarang, Sabtu (1/6/2024).
Menurut Haris, menjamurnya media sosial bisa meracuni anak bangsa. Hal inilah yang menjadi persoalan tersendiri dan perlu disikapi dengan seksama.
Ia berharap melalui gerakan Ketahanan Nasional dan Bela Negara dapat mengantisipasi dampak dari arus globalisasi tersebut.
“Saya berharap melalui penyelenggaraan Bela Negara dan Ketahanan Nasional, bisa mempersiapkan generasi muda yang tangguh dalam mewujudkan Indonesia emas,” ujarnya.
Kegiatan ini menampilkan sejumlah narasumber dari berbagai elemen, yaitu
Prof. DR. Didin Muhafidin, S.Ip. M Si. (UNPAD), Pj Bupati Bandung Barat Drs. Arsan Latief, M.Si, Laksamana Muda TNI DR. Sri Yanto, ST. M Si, Marsekal Muda TNI DR. Agus Sudarya, SE. SH. MM. M Sc, Kolonel Tek. DR. Ir. Hikmat Zakky Almubarok, SPd. M Si. CIQaR, CIQnR, MCF, DR. Editha Praditya, Duarte, S Sos. MIS, MA, Rifky Ahmad Sulaeman, dan Drs. H Djamu Kertabudhi, M.Si.
Salah satu narasumber Kol.Tek Dr.Ir. Hikmat Zakky Almubarok dari Universitas Pertahanan (Unhan) menilai Indonesia bisa menjadi negara adidaya apabila bisa mengelola bonus demografi dengan baik.
Menurutnya, puncak bonus demografi Indonesia terjadi pada tahun 2030 dan menjadi peluang untuk meraih Indonesia emas pada tahun 2045.
Zakky Almubarok menyebutkan negara yang mampu mengelola bonus demografi dengan baik, antara lain Cina dan Belanda.
Ia mencontohkan Cina, saat ini tinggal menikmati hasil bonus demografi lantaran negara tersebut bisa mengelolanya dengan baik. Pada saat rakyatnya tengah berusia produktif, negara Cina memanfaatkannya dengan mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik.
Begitu juga dengan Indonesia, akan mencapai puncak keemasan pada tahun 2045 apabila bisa mengelola bonus demografinya. Namun, apabila bonus demografi ini tidak dikelola dengan baik, maka bonus demografi akan berubah jadi bencana.
“Bonus demografi bakal berubah menjadi bencana jika salah dalam mengelolanya,” tandasnya.*
