Kebon Raya Cibodas di Usia 173 Tahun Oleh Dede Supriatna

Selokan air jernih dari air terjun curug Ciismun.(Dok.Dede Supriatna).**

SATUMEDIA.ID – Dengan membayar Rp15.500 untuk kunjungan di hari biasa dan Rp25.500 kunjungan di akhir pekan. Pengunjung Kebon Raya Cibodas akan dapat menikmati mekarnya Taman Sakura.

Taman Sakura adalah ikon utama Kebun Raya Cibodas pada saat mekar, lalu menjelajah Taman Lumut, menyegarkan diri di Curug Ciismun, belajar tentang tumbuhan di Taman Liana, eksplorasi konservatorium tanaman ( Rumah Kaca), menikmati gemercik air selokan dari air terjun Ciismun , main bola plastik bersama anak dan cucu dan menikmati alam segar hawa kebon raya Cibodas.

Jangan lupa membawa bekal yang cukup untuk di santap sambil gelar tikar plastik dan lengkapi dengan payung, topi dan jaket antisipasi gerimis dan hujan.

Seperti diketahui Kebun Raya Cibodas didirikan pada 11 April 1852 oleh Johannes Elias Teijsmann, seorang kurator Kebun Raya Bogor pada waktu itu, dengan nama Bergtuin te Tjibodas (Kebun Pegunungan Cibodas).

Selama 173 tahun berdiri, Kebun Raya Cibodas di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, memiliki koleksi ilmiah tumbuhan hingga 2.844 spesies dan 12.458 spesimen. Selain itu, kawasan konservasi seluas 84,99 hektar ini juga memiliki koleksi tumbuhan terancam punah baik dari dalam maupun luar negeri.

Koleksi tersebut, antara lain, berupa anggrek, gesneriaceae (tumbuhan berbunga), kaktus, nephentes, paku, sukulen, liana, dan tanaman obat. Brugmansia suaveolens termasuk dalam tanaman perdu atau pohon kecil dari keluarga Solanaceae (terong-terongan) yang terkenal dengan bunga besar berbentuk trompetnya yang harum di malam hari.

Namun, semua bagiannya sangat beracun dan mengandung senyawa seperti skopolamin, bisa menyebabkan halusinasi hingga kematian jika dikonsumsi.

Pengunjung juga dapat menikmati dan belajar di rumah kaca atau konservatori Kebun Raya Cibodas karena memiliki beragam koleksi tanaman beriklim tropis dan sedikit kering yang disesuaikan dengan habitat aslinya agar mampu bertahan di Kawasan Cibodas yang memiliki suhu dingin.

Berbagai tanaman yang tumbuh, antara lain berbagai macam Sukulen, Bromelia, Rhododendron, Paku-pakuan, dan Bougenville. Di bagian tengah, terdapat kolam yang dilengkapi dengan air mancur guna mempercantik tampilan dalam konservatori. Kebun Raya Cibodas merupakan salah satu kawasan konservasi ilmiah yang berada di bawah kedeputian Infrastruktur Riset dan Inovasi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Foto dokumentasi Dede Supriatna.

Kebun Raya Cibodas memfokuskan kegiatannya dalam mengkonservasi tumbuhan secara ex situ, baik tumbuhan asli Indonesia maupun tumbuhan yang dari luar negeri.

Sejak didirikan 11 April 1852 lalu, Kebun Raya Cibodas telah berperan penting dalam bidang penelitian dan konservasi serta berkontribusi dalam menjaga flora nusantara maupun mancanegara khususnya flora yang berasal dari dataran tinggi basah.

Untuk menjaga keberlangsungan dan penyelamatan flora, selama dilakukan beberapa kegiatan antara lain melakukan pengumpulan material tanaman dari berbagai belahan bumi nusantara (eksplorasi flora nusantara), penelitian perbanyakan tanaman seperti kultur jaringan, generatif dan vegetatif, penelitian tentang kesehatan pohon dan pemeliharaan koleksi secara kontinuitas.

Pengunjung dapat merasakan air jernih asli pegunungan yakni air terjun Ciismun lokasinya agak lebih jauh dan air terjunnya lebih tinggi dibanding air terjun Cibogo. Berlokasi di antara dua bukit besar yaitu bukit Gunung Batu (Agropolitan) dan bukit Cibodas.

Air Terjun ini juga merupakan salah satu keindahan tersembunyi yang dimiliki oleh kebun raya Cibodas dengan ketinggian air terjun hampir 25 meter. Air terjun Ciismun berjarak kurang lebih 1 km dari gerbang 3 Kebun Raya Cibodas. Air Terjun Ciismun berada pada ketinggian 1.275 meter di atas permukaan laut.

Bisa ditempuh dengan perjalanan 25 menit sembari melihat panorama alam memesona yang memanjakan mata dan pengunjung akan merasakan udara segar dan dinginnya Kebun Raya Cibodas.*

*Penulis mantan pekerja Bank BRI dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM

Pos terkait