SATUMEDIA.ID – Ratusan peserta didik dari 16 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) se-Kota Cimahi memadati kawasan Alam Wisata Cimahi, mengikuti ajang bergengsi Gebyar Pesta Pendidikan Kesetaraan (Pesdiktara) 2026, Selasa (2/6/2026).
Kegiatan tahunan yang sudah memasuki tahun keempat ini menjadi wadah strategis bagi anak-anak yang tersisih dari pendidikan formal untuk menampilkan bakat, membangun kepercayaan diri, sekaligus membantah anggapan bahwa lulusan pendidikan kesetaraan berada di bawah standar sekolah umum.
Berbeda dengan penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya yang mendapat dukungan penuh, tahun ini kegiatan ini berlangsung berkat kekompakan dan gotong royong antarlembaga.
Kebijakan penghematan anggaran yang diterapkan Dinas Pendidikan Kota Cimahi memaksa para pengelola PKBM mengandalkan dana iuran atau swadaya agar ajang ini tetap bisa digelar.
Meski dengan dana terbatas, antusiasme peserta justru terlihat memuncak, membuktikan semangat belajar dan berkarya anak-anak ini tidak surut meski dukungan pemerintah sempat berkurang.
Ketua Pelaksana Gebyar Pesdiktara 2026, Ahmad Daud menerangkan, kegiatan ini bukan sekadar seremonial semata, melainkan bentuk ekspresi nyata para siswa Paket A, B, dan C dalam memamerkan potensi yang selama ini terpendam.
“Sebagian besar peserta pendidikan kesetaraan berasal dari latar belakang putus sekolah, kurang mampu, atau memiliki karakter tertutup akibat merasa tersisih dari lingkungan pendidikan formal,” kata Ahmad, Selasa (2/6/2026).
Melalui lomba futsal, seni vokal, tarian, hingga cerdas cermat, sambung dia, mereka diajak untuk tampil, berinteraksi dan perlahan membangun rasa percaya diri yang kuat sebagai bekal melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi atau terjun ke dunia kerja.
“Kebanyakan anak-anak ini bersifat introver dan mengurung diri. Di sekolah formal mungkin mereka merasa tidak nyaman atau tertinggal. Di sini, kami buktikan bahwa mereka punya kemampuan,” ujarnya.
“Lewat futsal atau kesenian, mereka jadi bangga, lalu mengajak teman-temannya, ‘Ayo ikut ke sini, di PKBM ada kegiatan seru’. Akhirnya, yang tadinya malas datang belajar, jadi semangat karena ada tujuannya. Ini cara kami mendongkrak semangat belajar sekaligus mengasah soft skill dan hard skill mereka,” sebutnya.
Dalam perhelatan keempat ini, tercatat ada 23 PKBM aktif di Cimahi, namun yang berpartisipasi secara langsung berjumlah 16 lembaga dengan jumlah peserta terbanyak pada cabang olahraga futsal yang diikuti 16 tim.
“Keunikan ajang tahun ini menjadi prioritas pemberian kesempatan kepada peserta pemula. Panitia sengaja tidak mendahulukan mereka yang sudah memiliki segudang prestasi, agar anak-anak yang belum pernah merasakan kemenangan atau apresiasi sekalipun bisa mendapatkan momen kebanggaan dan pengakuan atas usaha keras mereka,” paparnya.
Ahmad mengakui, penyelenggaraan Gebyar Pesdiktara tahun ini yang masih mengandalkan swadaya. Ia berharap ke depan Pesdiktara bisa dikelola lebih profesional.
Tak cuma itu, dirinya juga menaruh harapan besar kepada pemerintah daerah dan pihak swasta untuk turut ambil bagian, baik lewat dukungan pendanaan maupun sponsor, agar persiapan lebih matang, kualitas perlombaan meningkat, dan ajang ini bisa menjadi agenda rutin yang lebih besar, bukan hanya di lingkup Kota Cimahi, namun bisa menjadi percontohan bagi daerah lain.
“Kami bersyukur kegiatan ini tetap jalan berkat gotong royong. Tapi ke depan, kami ingin persiapan lebih lama, dukungan lebih banyak, dan kualitasnya makin naik,” ujarnya.
“Anak-anak ini berhak mendapat panggung terbaik untuk menunjukkan bahwa mereka juga bagian dari pencerdasan anak bangsa,” ucapnya.
Ketua Forum PKBM Kota Cimahi, Daryu menegaskan, eksistensi pendidikan kesetaraan kini semakin kokoh dan setara dengan pendidikan formal.
Bahkan, ia mengaku bangga lantaran sejumlah lulusan PKBM Cimahi telah berhasil menembus perguruan tinggi negeri ternama, bahkan ada yang meraih beasiswa penuh lewat jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Kini, PKBM sudah diakui secara resmi sebagai jalur pendidikan sah, setara dengan sekolah formal maupun swasta.
“Jangan pernah remehkan anak pendidikan kesetaraan. Kemampuan mereka tidak kalah, bahkan banyak yang berprestasi luar biasa. Ada lulusan kami yang kuliah di PTN dan dapat beasiswa,” kata Daryu.
“Pesdiktara ini kami jadikan magnet lewat kegiatan-kegiatan seru, kami tarik anak-anak yang putus sekolah atau tidak sekolah untuk kembali menuntut ilmu.
Daryu menyebut, sasaran utama pihaknya memang menuntaskan angka putus sekolah, dan pemerintah mulai mengakui perannya, termasuk memasukkan lulusan PKBM dalam jalur penerimaan mahasiswa baru.*