Kader Mubaligh dan Mubalighah yang Mumpuni

Penutupan kulliatil muballighin kursus reguler pembinaan kader muballigh.(Dede Supriatna).**

SATUMEDIA.ID – Secara etimologis, kata mubalig atau mubaligh ini mengakar pada kata balagho yang maknanya adalah penyampai atau bisa pula disebutkan sebagai yang menyampaikan. Mubaligh bisa diartikan sebagai seseorang yang membawa ilmu dan menyampaikan ilmu yang dibawanya tersebut kepada orang lain.

Mubaligh berada pada posisi sebagai subjek dakwah, dalam arti ia adalah sosok pelaksana dari kegiatan dakwah baik itu yang sifatnya individual atau pun berkelompok. Memang ada sedikit perbedaan, mubalig adalah menyampaikan sedang da’i adalah menyeru atau memanggil.

Mubaligh atau da’i adalah manusia yang hidup dalam pikiran Islam, bergerak untuk meninggikan agama Allah SWT dengan serba kekuatan yang dimiliki sebagai suatu kewajiban yang harus dilaksanakan berdasarkan perintah Allah SWT.

Dalam bahasa Arab, orang yang menyampaikan tabligh disebut mubaligh, bila yang bersangkutan adalah seorang laki-laki. Sementara untuk perempuan disebut mubalighah. Mubaligh dan mubalighah adalah salah satu ujung tombak panutan masyarakat yang memiliki potensi untuk turut serta dalam memberdayakan perempuan dan men- sosialisasikan kesetaraan keadilan gender. Mubaligh dan mubalighah juga berfungsi memberi pesan yang signifikan dalam ajaran agama bagi masyarakat.

Peran kader mubaligh dan mubalighah yang mumpuni atau mempunyai kompetensi yaitu menguasai bidang tugasnya. Tidak hanya menguasai teori tetapi juga cakap, terampil dalam mengaplikasikannya.

Jadi mubaligh dan mubalighah mumpuni adalah seseorang yang mempunyai kualifikasi professional dibidangnya, mempunyai kualitas dan mutu diri yang unggul yang mampu membawa perubahan yang lebih baik dalam melaksanakan dakwah.

Perintah dakwah untuk setiap muslim tertuang dalam surat Al-Imran ayat 104, yang berbunyi : “Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Selanjutnya dalam melakukan dakwah, proses atau metode yang dilakukan tak boleh dengan paksaan. Hal ini sesuai firman Allah SWT pada surat Al Baqarah ayat 256 yang berbunyi: “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

Sebelum hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW mengajarkan syariat Islam dengan cara bersembunyi. Setelah beberapa bulan, turun Surat Al Hijr ayat 94 sebagai perintah untuk Rasulullah SAW agar berdakwah secara terang-terangan. Artinya: “Maka sampaikanlah (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang yang musyrik.

Selanjutnya “Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Jika tidak kuasa maka dengan lisannya, jika tidak kuasa dengan lisannya, maka dengan hatinya, yang sedemikian itu adalah selemah-lemahnya iman (HR Muslim) .”Hadist tersebut merupakan perintah untuk setiap muslim agar menegakkan dakwah sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Selain itu Rasulullah SAW juga menyampaikan , “Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu
ayat.”( HR Bukhari) . Dalam hadis di atas, Rasulullah SAW menganjurkan kepada seluruh umatnya untuk melakukan dakwah sesuai dengan ilmu yang dimiliki walaupun sedikit.

Dan Rasulullah SAW bersabda, “Lakukanlah amar ma’ruf dan nahi munkar sebelum kalian menyeru namun seruan kalian tidak disambut.( HR Ibnu Majah). Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW menyerukan umat Islam untuk melakukan amalan yang ingin diajarkan sebelum berdakwah kepada orang lain.

Seperti diketahui umumnya tugas mubaligh dan mubalighah yakni mengkomunikasikan pesan Islam kepada manusia. Dalam proses komunikasi , aktivitas dakwah dapat menimbulkan berbagai peristiwa di tengah masyarakat seperti harmoni, ketegangan, dan kontroversial.

Padahal dakwah ditujukan kepada manusia (madʻū) yang bukan hanya memiliki telinga, tetapi juga memiliki jiwa, dapat berpikir, dan merasa. Oleh karena itu, mubaligh dan mubaligahah tidak cukup hanya menguasai materi, tetapi juga menguasai karakter manusia yang menjadi madʻū. Mubaligh dan mubalighah dipersepsi dan mendapat atribut publik sebagai figur yang menguasai ilmu agama yang luas.

Oleh karena itu, mereka memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk opini, pandangan, dan wawasan publik tentang berbagai isu, khususnya keagamaan. Karena perannya, mereka memiliki otoritas untuk menginterpretasi fakta-fakta sosial kemasyarakatan dan kenegaraan berdasarkan nas-nas firman Allah SWT dan sabda Rasulullah SAW.

Di tengah dinamika dan tantangan dakwah yang kian kompleks, maka proses dan upaya penciptaan mubalig dan mubalighah yang profesional menjadi mutlak dan sangat strategis untuk dilakukan.

Untuk itu para kader mubaligh dan mubalighah hendaknya untuk terus belajar dan meningkatkan keilmuannya agar memahami agama Islam secara komprehensif, tepat dan benar, memiliki al-akhlak al-akarimah, seorang pribadi yang menyampaikan ajaran yang mulia, dan mengajak orang menuju kemuliaan, tentulah seorang mubaligh dan mubalighah harus memiliki akhlak mulia yang terlihat dalam seluruh aspek kehidupannya, seorang mubaligh juga harus memiliki sifat shiddiq, amanah, sabar, tawadhu, adil, lemah lembut dan selalu ingin meningkatkan kualitas ibadahnya, dan sifat-sifat mulia lainnya,lebih dari itu kunci utama keberhasilan seorang mubaligh dan
mubalighah adalah satu kata dengan perbuatan .

Kesempatan untuk menjadi kader mubaligh dan mubalighah yang mumpuni atau mempunyai kompetensi kiranya insya Allah akan ditemui pada Pendidikan dan Pelatihan Kader Muballigh Yayasan Asyakur Angkatan ke 32 tahun 2024 M bertempat di Hotel Lingga- Jln Sukarno Hatta No 464 Bandung. Berlangsung tiap hari Sabtu dan Minggu mulai pukul 13.00-17.00 dimulai tanggal 31 Agustus sampai dengan 24 Nopember 2024. Infak kuliah Rp 850.000 plus pendaftaran Rp 100.000, disediakan konsumsi saat perkuliahan.

Materi kuliah yang disajikan beragam dalam rangka mencetak kader mubaligh-mubalighah yang mumpuni diantaranya Ulumul Quran, Ulumul Hadist, Aqidah, Tafsir, Fiqih Madzab,Ilmu Dakwah, Retorika Dakwah, Etika Dakwah, Ilmu Komunikasi Dakwah, Jurnalistik, Public Speaking dan materi menarik lainnya. Perlu diketahui Prof dan Doktor pemateri atau dosen yang mengajar datang dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung dan perguruan tinggi ternama lainnya.

Selain teori yang mumpuni , peserta juga mendapat praktek sebagai mubaligh atau mubalighah baik perorangan atau kelompok, podcast, wawancara dan praktek lapangan lainnya . Penulis yang bukan lulusan pesantren atau pendidikan formil Islam mulanya agak kagok juga maklum ada beberapa dosen mengajar dengan bahasa Arab tapi itu bagian dari menuju kader mubaligh yang mumpuni.

Diawal pertemuan peserta diminta mengisi pre test untuk mengetahui kedalaman dan pengetahuan keislaman dan diharapkan pada angkatan selanjutnya diikuti post test, mengukur perubahan peserta tentang pengetahuan dan keterampilan sebelum dan sesudahnya.

Pada angkatan penulis (peserta 60 lebih) komponen yang dinilai dari kegiatan ini meliputi kehadiran, tugas tulisan, praktek dan resume materi pendidikan. Jadi tunggu apalagi segeralah mendaftar karena kouta terbatas.

*Penulis Dede Supriatna alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM