Mengenal Tiga Gaya Kendang Pencak, Jejak Sejarah yang Masih Bertahan

Praktisi Terompet Penca sekaligus Ketua Umum Pamenca Jabar-Banten, Dede Yanto.(Istimewa).**

SATUMEDIA.ID – Kekayaan seni kendang pencak di Jawa Barat tercermin dari keberadaan tiga gaya utama yang hingga kini menjadi rujukan para pelaku seni, yakni gaya Cimande, gaya Cianjur-Sukabumi, dan gaya Bandung. Ketiganya berkembang dengan karakter, sejarah, serta pengaruh budaya yang berbeda-beda.

Praktisi Terompet Penca sekaligus Ketua Umum Pamenca Jabar-Banten, Dede Yanto, menjelaskan bahwa setiap gaya lahir dari lingkungan budaya dan tradisi pencak silat yang berbeda sehingga menghasilkan pola tabuhan yang khas.

Menurut Dede, gaya Cimande yang berkembang di wilayah Bogor merupakan salah satu aliran kendang pencak tertua di Jawa Barat. Karakter tabuhannya yang kuat dan sarat nilai tradisi menjadikannya sebagai fondasi bagi lahirnya berbagai pengembangan gaya kendang pencak di sejumlah daerah.

Sementara itu, gaya Cianjur-Sukabumi memiliki identitas yang berbeda karena berakar dari tradisi Maenpo. Gaya ini tumbuh di lingkungan kaum menak atau bangsawan dan dikenal memiliki nuansa musikal yang lebih kental, terutama karena pengaruh iringan kecapi dan suling yang menyertainya pada masa lalu.

“Adapun Bandung berkembang sebagai pusat kreativitas dan pengembangan kendang pencak modern. Berbagai unsur dari gaya-gaya daerah diadopsi dan dipadukan sehingga melahirkan corak permainan yang lebih fleksibel,” kata Dede, Rabu (17/6/2026).

Menurutnya, tak heran jika gaya Bandung kini banyak digunakan sebagai rujukan dalam pelatihan, pertunjukan, hingga pengembangan seni kendang pencak di berbagai wilayah Jawa Barat.

“Dominasi gaya Bandung dalam perkembangan kendang pencak saat ini menjadi tantangan tersendiri. Banyak generasi muda lebih mengenal gaya tersebut, sementara karakter asli dari gaya Cimande maupun Cianjur-Sukabumi mulai jarang dipahami secara mendalam,” jelasnya.

Sementara itu, kegiatan Pelatihan Kendang Penca 3 Jawa Barat di Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) diikuti 50 peserta dari Bandung Raya, Banten, Purwakarta, hingga Garut digelar untuk memperkenalkan kembali ketiga gaya kendang pencak secara utuh.

Kegiatan tersebut juga menjadi upaya pelestarian sekaligus pendokumentasian sejarah dan kekhasan masing-masing gaya agar tidak hilang ditelan zaman.

Dede menambahkan, ketertarikan terhadap kendang pencak Jawa Barat juga datang dari luar negeri, khususnya Eropa. Para penikmat seni mancanegara disebut tertarik mempelajari pola tabuhan asli serta keselarasan antara irama kendang dan gerakan pencak yang menjadi ciri khas kesenian tersebut.*