Warga Ciburuy Keluhkan Polusi Debu, Geruduk PT Kurnia Marmer

Puluhan ibu rumah tangga melakukan aksi protes di PT Kurnia Marmer di Kampung Pamuncatan, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (25/7/2026).(Istimewa).**

SATUMEDIA.ID – Puluhan ibu rumah tangga melakukan aksi protes di PT Kurnia Marmer di Kampung Pamuncatan, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (25/7/2026). Mereka memprotes dugaan pencemaran debu yang disebut telah bertahun-tahun mengganggu kesehatan dan aktivitas warga di sekitar kawasan pabrik.

Aksi yang diikuti warga dari RW 10, RW 11, dan RW 12 Desa Ciburuy itu juga menyoroti getaran mesin akibat operasional pabrik selama 24 jam serta rencana pembangunan benteng yang disebut dilakukan tanpa musyawarah dengan masyarakat.

Salah seorang warga, Lintang (27), mengatakan dugaan pencemaran debu menjadi persoalan utama yang dikeluhkan warga. Menurut dia, debu hitam diduga berasal dari proses pembakaran di area pabrik dan hampir setiap hari masuk ke permukiman.

Ia menuturkan, lantai rumah yang baru dibersihkan kembali dipenuhi debu hitam hanya dalam hitungan jam. Debu juga menempel pada pakaian yang dijemur di luar rumah dan diduga memicu gangguan kesehatan.

“Setiap pagi setelah menyapu rumah, lantai kembali dipenuhi debu hitam seperti abu arang. Pakaian yang dijemur di luar juga terkena debu. Banyak warga mengalami gatal-gatal dan sesak napas,” ujar Lintang.

Menurut dia, warga telah berulang kali menyampaikan keluhan kepada pihak perusahaan. Namun, hingga kini belum ada penyelesaian yang dinilai mampu mengatasi persoalan pencemaran debu tersebut.

Lintang juga menduga perusahaan menggunakan bahan bakar petroleum coke (petcoke) sebagai pengganti batu bara. Menurutnya, bahan bakar tersebut berpotensi menghasilkan emisi dan debu yang lebih besar sehingga dikhawatirkan berdampak terhadap kesehatan masyarakat.

“Petcoke mengandung sulfur. Nilai kalorinya memang lebih tinggi daripada batu bara, tetapi efek polusinya juga lebih besar. Debu hasil pembakarannya beterbangan ke mana-mana dan diduga menjadi penyebab gangguan kesehatan warga,” katanya.

Selain pencemaran debu, warga turut mempersoalkan getaran mesin yang dirasakan hampir sepanjang hari akibat operasional pabrik selama 24 jam. Mereka juga menolak rencana pembangunan benteng di Kampung Pojok Angkasa yang dinilai belum pernah disosialisasikan kepada masyarakat.

“Kami sudah beberapa kali menyampaikan aspirasi, tetapi belum ada solusi yang benar-benar menyelesaikan persoalan. Debunya tetap masuk ke rumah-rumah warga,” ujar Lintang.

Pernyataan senada disampaikan Nengsi (58), warga Kampung Pojok Angkasa RW 11, Desa Ciburuy. Ia mengatakan dugaan polusi debu dari aktivitas pabrik menjadi persoalan yang paling dirasakan masyarakat. Menurut dia, kondisi tersebut diduga berdampak pada kesehatan warga, terutama gangguan pernapasan yang semakin sering dialami.

“Kami sering sesak napas. Anak-anak di lingkungan sini juga banyak yang batuk dan flu akibat debu yang setiap hari masuk ke permukiman,” ujar Nengsi.*