SATUMEDIA.ID – Kisah ini dimulai saat itu Nabi Ayyub AS, seorang kaya raya ( punya peternakan domba, kuda, dan unta), juga seorang dermawan di depan rumahnya tersedia meja-meja bundar untuk makan para tamu dan fakir miskin. Meski kekayaannya terus bertambah , beliau tidak lupa bersyukur dan berzikir kepada Allah SWT.
Suatu ketika, Allah SWT menguji keteguhan iman Nabi Ayyub yakni kekayaan Nabi Ayyub yang banyak itu tiba-tiba sedikit demi sedikit menyusut kemudian habis. Nabi Ayyub AS menjadi seorang yang miskin. Itu tidak menggoyahkan imannya dan beliau tetap husnudzan (berbaik sangka) kepada Allah SWT. Ini semua ujian dan harta itu titipan dari Allah SWT.
Ujian berikutnya anak-anaknya satu persatu meninggal dunia. Nabi Ayyub tetap dalam keimanannya karena anak juga titipan dari Allah. Setelah ditinggal putra putrinya, ujian Nabi Ayyub datang lagi yaitu penyakit kulit seluruh tubuhnya ditumbuhi bintik darah bercampur nanah serta ada ulatnya. Dua dari ketiga istrinya tidak betah lagi menunggui Nabi Ayyub , mereka meminta cerai.
Tinggallah satu istrinya yang bernama Rahmah . Istrinya Siti Rahmah mendesak agar Nabi Ayyub AS berdoa kepada Allah . Sebagaimana dengan firman Allah surat Sad ayat 41: Ingatlah hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya, “Sesungguhnya aku telah diganggu setan dengan penderitaan dan siksaan /rasa sakit “.
Menjawab seruan dan doa Nabi Ayyub tadi, Allah SWT berfirman “ Hentakkanlah kakimu (ke bumi)! Inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum.” Surat Sad : 42. Seketika Nabi Ayyub sehat Kembali setelah mandi dan minum air itu.
Ada lagi kisah lainnya yakni kisah seorang penasihat yang senantiasa husnudzan
kepada Allah. Suatu hari, seorang raja yang hobinya berburu bersama penasihatnya yang bijak beserta para pengawalnya pergi ke hutan untuk berburu rusa.
Namun pada saat berburu rusa terjadi sebuah kecelakaan. Ternyata sang penasihat secara tidak sengaja menembakkan anak panahnya kearah sang raja, sehingga jari kelingking raja tersebut terputus.
Sang penasihat meminta maaf dan berkata,”Tuanku ,inilah hal terbaik yang Allah berikan untuk Anda”. Seketika itu sang raja murka dan sang penasihat dipenjarakan.Sang penasihat pun berkata pada dirinya sendiri.”Inilah hal terbaik yang Allah berikan untuk saya”.
Setelah beberapa lama , sang raja berkeinginan untuk kembali pergi berburu ,tetapi kali ini tanpa penasihatnya karena dia dipenjarakan olehnya. Lalu hanya ditemani para pengawalnya saja .
Namun sungguh malang raja ini ketika berburu mereka bertemu segerombolan manusia kanibal. Raja dan pengikutnya ditangkap dan ditawan untuk dijadikan makanan.
Satu per satu pengikut raja mati sebagai makanan manusia kanibal, raja semakin tegang karena tinggal dia sendiri yang masih selamat.Setelah saatnya tiba giliran dia disantap, ternyata sang raja dibebaskan. Karena ternyata manusia kanibal ini mempunyai kriteria untuk menjadikan manusia sebagai makanan yakni manusia tersebut tidak boleh cacat.
Betapa leganya ia karena tidak jadi mati dan dibebaskan. Sang raja baru sadar sekarang terbukti benarlah yang dikatakan oleh penasihatnya bahwa yang terjadi padanya ( pada saat terputus jarinya) adalah yang terbaik yang Allah SWT berikan untuknya dan sekarang telah mendapatkan kebaikan yang melebihi pikiran yang dulu ia berburuk sangka kepada musibah yang dia alami.
Dua kisah tadi mengingatkan untuk selalu berpikir husnudzan (berbaik sangka) ketimbang suuzan (berburuk sangka). Dalam Islam umatnya diharuskan memiliki sifat husnudzan dan menghindari sifat suuzan Sebab sifat suuzan merupakan sifat yang tercela.
Di sisi lain, husnudzan merupakan sifat terpuji di sisi Allah. Suuzan merupakan sifat berprasangka buruk yang ada dalam diri seseorang. Sifat yang satu ini bukanlah perbuatan yang baik. Allah SWT akan membalasnya dengan dosa. Allah SWT berfirman dalam Surat Al Hujurat ayat 12 yang artinya, “ Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
Husnudzan merupakan perilaku mulia berbaik sangka. Dengan sikap ini merupakan cara pandang seseorang dalam melihat suatu hal secara positif sehingga hati dan pikirannya akan bersih dari prasangka yang belum tentu kebenarannya. Sifat husnudzan sendiri tidak hanya sebatas berprasangka baik kepada sesama manusia saja, namun juga kepada Allah SWT.
Ada ungkapan yang sangat menggugah dari seorang sufi : “ yang paling penting adalah bagaimana kita selalu baik kepada semua orang. Kalau kemudian ada yang tidak baik kepada kita , itu bukan urusan kita, tapi urusan orang itu dengan Allah SWT”.
Secara umum ciri-ciri orang yang husnudzan (berbaik sangka) diantaranya : setiap melihat masalah sebagai tantangan dan segera mencari solusi , menikmati hidupnya dengan tenang , pikirannya senantiasa terbuka untuk menerima saran dan ide, mensyukuri apa yang dimilikinya, tidak mendengarkan gosip, menghindari gibah apalagi membuat atau meneruskan hoaks.
*Penulis Dede Supriatna alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM
