SATUMEDIA.ID – Faisal Weskurni (26), warga Desa Wangunsari, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat (KBB), menjadi salah satu penumpang yang selamat dari tenggelamnya KMP Virgo Transport 8.
Faisal harus bertahan di tengah laut setelah kapal yang ditumpanginya tenggelam pada Sabtu (19/9/2026) malam.
Faisal harus bertahan di tengah gelombang setelah kapal mengalami kemiringan dan akhirnya terbalik pada Sabtu (19/9/2026) malam. Ia menjadi salah satu penumpang yang selamat dari kecelakaan tersebut.
Berdasarkan manifes, KMP Virgo Transport 8 mengangkut 243 orang. Hingga Senin (21/9/2026), sebanyak 126 orang masih belum ditemukan.
Faisal mengungkapkan, sebelum kapal mengalami kecelakaan, kondisi laut sudah membuat penumpang tidak nyaman. Gelombang cukup kuat hingga membuat dirinya muntah.
Namun, situasi berubah drastis sekitar pukul 00.15 waktu setempat. Saat sedang merokok, Faisal mendengar suara keras dari bagian kiri kapal. Tak lama kemudian, kapal mulai miring.
“Tiba-tiba terdengar suara ledakan dari sebelah kiri. Setelah itu kapal terasa miring,” kata Faisal saat dihubungi, Senin (21/9/2026).
Faisal langsung berusaha memperingatkan penumpang lain. Ia mengambil pelampung dan membangunkan teman-temannya.
“Saya langsung berteriak supaya orang-orang tahu kapal sudah miring. Setelah itu saya mengambil pelampung dan membangunkan teman-teman,” ujarnya.
Menurut Faisal, kepanikan semakin besar karena tidak ada peringatan dari awak kapal sebelum kondisi kapal memburuk.
Ia mengaku tidak mendengar alarm ataupun pengumuman yang mengarahkan penumpang untuk melakukan evakuasi.
“Tidak ada pemberitahuan sebelumnya dari kru mengenai kondisi kapal. Alarm juga tidak terdengar dan kami tidak mendapatkan arahan evakuasi,” tuturnya.
Faisal sempat melihat sekoci diturunkan sebelum kapal benar-benar terbalik. Namun, dia tidak mengetahui siapa saja yang berhasil masuk ke sekoci.
Ketika kapal semakin miring, penumpang berusaha menyelamatkan diri. Sebagian melompat ke laut, sementara sebagian lainnya masih terjebak di dalam kapal.
“Terakhir saya ingat ada sekitar 11 orang bersama saya. Setelah itu saya terbawa arus. Banyak yang meminta pertolongan, tetapi kami tidak bisa berbuat apa-apa,” katanya.
Di tengah situasi tersebut, Faisal melihat sejumlah penumpang berusaha menenangkan diri dengan beribadah.
“Ada yang salat dan ada yang mengaji. Kami hanya bisa berusaha bertahan dalam keadaan seperti itu,” ujarnya.
Faisal kemudian terbawa arus setelah azan Subuh berkumandang. Sejak saat itu, ia berusaha mempertahankan diri selama tujuh hari di laut. Gelombang, rasa lapar, dan ketidakpastian menjadi bagian dari perjuangannya untuk tetap hidup.
Di tengah kondisi tersebut, Faisal terus mengingat istri dan dua anaknya yang masih kecil.
“Saya terus memikirkan keluarga. Istri dan anak-anak menjadi alasan saya untuk terus bertahan,” katanya.
Setelah tujuh hari terombang-ambing di laut, Faisal akhirnya selamat dan kini telah kembali ke rumahnya di Bandung Barat.
Kepulangannya didampingi Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bandung Barat. Pemerintah Kabupaten Bandung Barat juga memberikan bantuan serta fasilitas kepulangan.
Meski telah berada di rumah, Faisal mengaku masih mengalami trauma. Rencana keberangkatannya ke Kalimantan Tengah untuk bekerja sebagai sopir perkebunan kelapa sawit dengan kontrak satu tahun pun ditunda.
“Untuk naik kapal besar lagi saya masih trauma. Sekarang saya ingin beristirahat dan menenangkan pikiran terlebih dahulu,” ucapnya.
Faisal berharap pengalaman tersebut menjadi perhatian terhadap aspek keselamatan penumpang kapal.
Menurut dia, sistem peringatan dan kesiapan awak kapal sangat diperlukan agar penumpang memiliki waktu untuk menyelamatkan diri ketika terjadi keadaan darurat.
“Penumpang harus mendapat informasi secepatnya ketika kapal mengalami masalah. Awak kapal juga harus siap melakukan evakuasi agar keselamatan penumpang bisa lebih terjamin,” katanya.*
