SATUMEDIA.ID – Hampir 45 tahun telah berlalu, penulis kembali berkesempatan bertemu dengan teman-teman kuliah Fakultas Publisistik, yang sekarang menjadi Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjadjaran, angkatan 1981.
Momen pertemuan pada 27 September 2026 di rumah keluarga Ibu Rema, Jalan Ciateul Nomor 33, Bandung, menjadi saksi bertemunya kembali teman-teman yang pernah bersama-sama menempuh pendidikan di bangku kuliah.
Pemilihan waktu yang tepat membuat lebih dari 45 teman dapat menyempatkan diri hadir. Reuni atau silaturahmi seperti ini memiliki makna yang sangat penting, yaitu mempererat tali persahabatan dan kekerabatan.
Sesuai tema reuni “Temu Kangen 45 Tahun Fikom Unpad 81, Sosonoan Cangreud Pageuh Tali Silaturahim “ . Setelah sekian lama berpisah, pertemuan tersebut seolah membawa kami kembali ke masa-masa kuliah 45 tahun yang lalu.
Diawali MC kondang dari alumni FIkom 81, Jenny acara mengalir dimulai alumni diminta bercerita masa lalu dan kehidupan yang dijalani saat ini. Suasana semakin meriah ketika ditayangkan video berisi foto-foto lama. Banyak peserta tidak menyangka bahwa foto-foto yang sudah lusuh, penuh goresan, dan sebagian mulai lapuk ternyata mampu membangkitkan kembali kenangan masa lalu.
Foto-foto tersebut merupakan dokumentasi perjalanan kami selama masa kuliah, sekitar tahun 1981 hingga 1986 ditambah event pernikahan putra putri alumni Fikom 81. Lebih dari 200 foto berhasil dikumpulkan.
Walaupun sebagian sudah kusam dimakan usia dan kelembapan karena disimpan cukup lama, foto-foto itu tetap menarik untuk dilihat karena menjadi saksi bisu perjalanan hidup kami.
Penulis tentu berterima kasih kepada teman kami, Ronald, yang dengan waktu yang terbatas telah berusaha membuat konten video dari foto-foto jadul tersebut. Sederhana, tetapi justru dari kesederhanaan itulah muncul rasa haru, tawa, dan kenangan yang sulit dilupakan. Lanjut games menarik dan lucu dipandu Ani Yuningsih Alumni Fikom 81. Setelah isoma dilanjutkan tauziah oleh alumni ustadzah Wiwi.
Kondisi dekade 1980-an tentu sangat berbeda dengan keadaan sekarang. Banyak perubahan signifikan yang terjadi dibandingkan dengan zaman ketika kami masih kuliah. Teman-teman yang hadir kini telah menjalani berbagai profesi dan perjalanan hidup.
Ada yang menjadi dosen, guru besar, wiraswasta, penulis, manajer, direktur, pensiunan, serta berbagai profesi lainnya.Semua itu patut kita syukuri. Kita masih diberi kesempatan untuk bertemu kembali, diberi umur panjang, kesehatan, serta rezeki yang cukup untuk menjalani kehidupan.
Reuni ini juga mengingatkan kita pada makna silaturahmi. Setelah 45 tahun tidak selalu bertemu, kita kembali dipertemukan dalam suasana penuh keakraban. Dalam ajaran Islam, silaturahmi memiliki kedudukan yang penting. Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya menyambung silaturahmi.
Bagi lulusan Fakultas Publisistik/Ilmu Komunikasi, tantangan yang dihadapi pada era AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) juga semakin besar. Fenomena komunikasi saat ini semakin kompleks. Media sosial, misalnya, dapat menjadi ruang penyebaran DFK: disinformasi, fitnah, dan kebencian.
Gosip dan gibah juga mudah berseliweran. Karena itu, kita perlu semakin bijak dalam memilah dan memilih informasi. Jangan sampai kita begitu saja mengunggah atau meneruskan suatu konten hanya karena judulnya menarik. Dalam ilmu komunikasi, kita mengenal teori framing dari Robert N. Entman dapat diterapkan untuk menciptakan citra yang positif dan menarik untuk masyarakat.
Dalam pandangan Entman, konsep framing menyediakan cara “The Power of a Communicatin Text”, di mana framing pada dasarnya mengacu pada pemberitaan definisi, penjelasan, penilaian, dan rekomendasi dalam suatu wacana untuk menekankan suasana tertentu dari peristiwa yang dibahas.
Konsep framing membantu menjelaskan bagaimana suatu peristiwa dapat dipahami melalui bagian-bagian tertentu yang dipilih, ditonjolkan, atau diberi penekanan. Dalam praktik komunikasi, khususnya di media sosial, cara seseorang memilih dan menonjolkan bagian tertentu dari sebuah peristiwa dapat memengaruhi bagaimana masyarakat mempersepsikan peristiwa tersebut.
Informasi yang sebenarnya rinci dan lengkap dapat menjadi bias apabila hanya bagian tertentu yang ditonjolkan, sementara bagian yang lebih utama justru tidak disampaikan. Inilah salah satu pekerjaan rumah kita dalam menghadapi era AI: informasi bergerak jauh lebih cepat daripada proses klarifikasi. Karena itu, kemampuan komunikasi tidak cukup hanya dengan menyampaikan pesan secara cepat. Kita juga perlu mempertimbangkan konteks, kebenaran informasi, serta dampaknya terhadap orang lain.
Penulis juga masih teringat pada pemikiran Martin L. Hoffman, seorang psikolog yang banyak mengembangkan kajian tentang empati dan perkembangan moral. Menurut Hoffman, empati bukan sekadar memahami apa yang dirasakan orang lain, tetapi juga kemampuan untuk merespons keadaan orang lain dengan mempertimbangkan apa yang mereka alami.
Dalam perkembangannya, empati melibatkan unsur perasaan sekaligus kemampuan kognitif untuk memahami perspektif dan kondisi orang lain. Hoffman juga menjelaskan bahwa empati dapat menjadi dorongan bagi perilaku prososial, yaitu perilaku yang mendorong seseorang untuk peduli, membantu, dan memperhatikan kepentingan orang lain.
Jika kita kaitkan dengan komunikasi di era AI dan media sosial saat ini, pemikiran tersebut menurut penulis masih sangat relevan. Sebelum memberikan komentar, meneruskan informasi, atau mengunggah sesuatu, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Bagaimana perasaan orang lain dan apa dampaknya bagi mereka?
Dengan demikian, kemampuan berkomunikasi bukan hanya tentang bagaimana kita menyampaikan pesan, tetapi juga bagaimana kita memahami orang lain. Dengan empati, komunikasi dapat membangun hubungan sosial yang lebih kuat, manusiawi, dan bermakna. Ini tantangan nyata bagi alumni Fikom 1981 baik sebagai praktisi maupun ilmuwan.
Menurut alumni Fikom 81 Prof Dr Jenny Ratna Suminar,M.Si , saat ini AI (Artificial Intelligence )atau kecerdasan buatan menjadi bahan diskusi yang menarik di berbagai kalangan. Ada yang berpendapat setuju dan ada juga yang tidak setuju, namun kenyataannya berbagai aspek kehidupan sudah menggunakannya, seperti bidang kesehatan, keuangan, pendidikan, dan bidang lainnya.
Kemajuan teknologi digital memang sebuah keniscayaan yang tak terbendung, manusia harus mampu beradaptasi jika tidak ingin ditinggalkan kemajuan jaman. Teknologi hadir untuk memudahkan aktifitas manusia. Masih lekat dalam ingatan kita ketika mahasiswa Indonesia tahun 1980-an membuat skripsi masih menggunakan mesin tik, tak lama setelah itu sekira awal tahun 1990-an komputer hadir dan mempercepat pekerjaan para mahasiswa dalam membuat tugas-tugasnya.
Dan hampir semua aspek kehidupan manusia sangat bergantung dan dimudahkan dengannya. Disambung dengan hadirnya telepon genggam yang semakin memudahkan lagi pekerjaan manusia dilakukan digenggaman tangan dengan sangat cepat. Dan bisa kita perkirakan bahwa kemajuan teknologi ini akan terus berkembang.
Sehingga kehadiran AI sebagai hasil dari perjalanan panjang inovasi manusia bukanlah merupakan terminal dari kemajuan, namun bisa jadi merupakan terminal sementara. Artinya bahwa kita manusia harus selalu siap dengan hadirnya perubahan.
Menarik disimak apa yang disampaikan Prof. Stella Christie, PH.D. yang merupakan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknolog ketika dalam sebuah wawancara di salah satu Podcast Merry Riana dengan menceritakan apa yang terjadi dengan mahasiswa dari tiga universitas ternama di Amerika yang merupakan hasil periset MIT.
Ketika ingin mendapatkan data ilmiah mengenai AI, maka dilakukan riset kepada sejumlah mahasiswa yang kemudian dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama, diberikan tugas-tugas menulis essay selama sebulan dan para mahasiswa diperbolehkan menggunakan ChatGPT dan fasilitas digital lainnya.
Kemudian kelompok mahasiswa kedua diberi tugas yang sama namun tidak diperkenankan menggunakan ChatGPT tapi boleh melakukan search engine seperti penggunaan Google. Dan kelompok mahasiswa yang ketiga yang disebut dengan kelompok yang menggunakan brain only dengan tugas-tugas yang sama.
Bagaimana hasil riset tersebut, Prof. Stella menjelaskan bahwa ternyata mahasiswa kelompok yang ketigalah yang disebut kelompok brain only-lah yang essay-nya dinilai terbaik, bahkan pada riset ini dilakukan FMRI yang menjelaskan bagaimana otak para mahasiswa itu bekerja.
Wamen Diktisaintek ini memang mengakui terjadi perdebatan mengenai penggunaan AI di kalangan mahasiswa, ada yang setuju ada pula yang tidak setuju, secara logika memang hal ini cukup logis. Namun kita bisa mengambil pembelajaran dari hasil riset yang diceritakan ibu Wamen tersebut. Apakah kita ingin mendidik dan mengantarkan generasi muda menjadi insan akademik yang berkualitas?
Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian ketika hasil inovasi manusia itu hadir, teknologi bukan hanya untuk memudahkan aktifitas kehidupan.
Namun setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhitungkan: pertama, sudah siapkah beberapa pekerjaan dengan serta merta digantikan sistem teknologi yang otomatis, sementara penduduk Indonesia dengan jumlah yang besar masih perlu pekerjaan?; kedua, fenomena kesenjangan skill di antara masyarakat kita, dengan kata lain sudah siapkah masyarakat kita untuk terus belajar?; dan ketiga, Integritas dan Etika, penggunaan teknologi memerlukan validasi sumber daya yang kritis sehingga terhindar dari disinformasi dan penyalahgunaan data.
Beberapa perguruan tinggi di Indonesia secara sigap menyikapi mengenai AI ini dengan hadirnya Peraturan Rektor, misalnya, yang tidak melarang penggunaan AI, artinya AI bisa dimanfaatkan dalam aktifitas akademik namun dengan catatan sebatas alat bantu yang tidak sekedar copy paste dan harus tetap dielaborasi melalui pemikiran sendiri. Lalu AI sebagai alat bantu, mewajibkan mahasiswa mendeklarasikan penggunaan sebagai bagian dari etika akademik.
Pada akhirnya AI adalah sebuah pilihan yang merupakan alat bantu pekerjaan akademik di dunia perguruan tinggi yang tetap menjunjung integritas dan etika dalam penggunaannya.
Terakhir, penulis ingin menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada teman-teman pemrakarsa acara tali silaturahmi ini , khususnya Ibu Rema Karyanti, serta teman-teman alumni Fikom 81 sehingga acara ini dapat terlaksana dengan lancar dan berkesan.
Semoga silaturahmi ini terus terjaga dan menjadi pengikat persahabatan di antara kita. Insya Allah, segala usaha, kebaikan, dan kebersamaan ini menjadi ladang amal bagi kita semua.*
Penulis adalah Alumni Fakultas Publisistik/Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung, 1986 dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan, FEB Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 2012.