Batik Ciprat dari RW 07 Husein Sastranegara Kota Bandung, Tumbuh Jadi Produk Pesanan Luar Kota

Dari tangan warga RW 07, Kelurahan Husein Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, kain batik tak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga sumber penghasilan. (Dok.Humas Pemkot Bandung).**

SATUMEDIA.ID – Dari tangan warga RW 07, Kelurahan Husein Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, kain batik tak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga sumber penghasilan.

Warga mengembangkan Batik Ciprat sebagai kegiatan produktif sekaligus upaya mendorong kemandirian ekonomi masyarakat di tingkat kewilayahan.

Batik Ciprat tersebut bermula dari pelatihan membatik yang digelar di Sentra Wyata Guna. Setelah pelatihan selesai, warga mendapatkan dukungan modal dan melanjutkan produksi secara mandiri di lingkungan RW 07.

Ketua Kelompok Batik Ciprat, Yuliana, mengatakan kelompoknya kini memproduksi batik sesuai pesanan masyarakat. Produk yang dibuat pun beragam, mulai dari kain batik, pakaian hingga ikat kepala.

“Pelatihan itu menjadi bekal bagi kami untuk terus membatik. Setelah selesai pelatihan, kami mendapat modal untuk melanjutkan produksi. Sampai sekarang, pesanan masih terus berdatangan,” kata Yuliana dilansir dari laman Humas Pemkot Bandung, Selasa (6/10/2026).

Pesanan Batik Ciprat RW 07 tidak hanya datang dari Kota Bandung. Produk buatan warga tersebut juga telah menjangkau daerah lain, di antaranya Tasikmalaya dan Cimahi.

Teknik ciprat menjadi ciri khas

Sesuai namanya, Batik Ciprat memiliki teknik pembuatan yang menjadi ciri khas tersendiri.

Motif batik dibuat dengan teknik ciprat menggunakan lilin atau malam. Setelah itu, kain menjalani sejumlah tahapan, mulai dari pewarnaan, pencucian hingga penjemuran yang dilakukan secara berulang.

Dalam proses tersebut, warga menggunakan waterglass untuk mengunci warna. Teknik ini dilakukan agar warna batik lebih kuat dan tidak mudah luntur.

Untuk harganya, satu lembar kain Batik Ciprat dibanderol sekitar Rp 130.000 hingga Rp 150.000. Sementara produk pakaian dijual mulai dari sekitar Rp 250.000.

Pengembangan Batik Ciprat turut mendapat dukungan dari Pemerintah Kelurahan Husein Sastranegara.

Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan Kelurahan Husein Sastranegara, Iwan Achmad Setiawan, mengatakan potensi ekonomi warga terus dipetakan agar dapat dikembangkan menjadi kegiatan usaha.

Menurut dia, Batik Ciprat merupakan salah satu potensi UMKM yang dinilai dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

“Setelah kami melakukan pendataan, ternyata cukup banyak potensi warga yang bisa dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi. Batik Ciprat di RW 07 salah satunya,” ujar Iwan.

Pemerintah kelurahan, lanjut dia, berupaya mendorong pembentukan kelompok UMKM sekaligus memberikan akses informasi mengenai berbagai program pelatihan.

Upaya tersebut diharapkan dapat membuka lebih banyak peluang usaha dan meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat, termasuk warga penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH).

“Peran pemerintah kelurahan adalah hadir dan mendampingi masyarakat. Kami berusaha melengkapi serta mendorong potensi yang sudah dimiliki warga, terutama yang berkaitan dengan pengembangan ekonomi,” katanya.

Antusiasme terhadap Batik Ciprat juga terlihat dari keinginan warga lain untuk mendapatkan keterampilan serupa.

Ketua RW 07, Iyon Tahyan, mengatakan sejumlah warga yang belum mengikuti pelatihan tertarik untuk belajar membatik.

Ia berharap pelatihan tidak berhenti pada kelompok yang sudah terbentuk, tetapi dapat diperluas hingga ke setiap RT di lingkungan RW 07.

“Minat warga cukup tinggi. Mereka yang belum pernah mengikuti pelatihan juga ingin belajar. Kami berharap nantinya pelatihan bisa dilakukan di setiap RT sehingga semakin banyak warga yang memiliki keterampilan dan bisa mendapatkan tambahan penghasilan,” tutur Iyon.

Momentum Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober menjadi salah satu pengingat bahwa batik memiliki nilai lebih dari sekadar warisan budaya.

Di RW 07 Husein Sastranegara, keterampilan membatik dikembangkan menjadi aktivitas produktif yang membuka peluang ekonomi bagi warga.

Batik Ciprat pun menjadi contoh bagaimana pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat.*