Ada Cerita di Balik Ornamen Grand Hotel Preanger Bandung, dari Kotak Pos hingga Karung Goni

Grand Hotel Preanger Bandung memperbarui wajahnya setelah bergabung dengan Tribute Portfolio, bagian dari jaringan Marriott Bonvoy.(Dok.Diskominfo Kota Bandung).**

SATUMEDIA.ID – Grand Hotel Preanger Bandung memperbarui wajahnya setelah bergabung dengan Tribute Portfolio, bagian dari jaringan Marriott Bonvoy. Namun, di tengah perubahan desain dan peningkatan layanan, hotel yang telah berdiri sejak 1897 ini tetap menjadikan sejarah sebagai identitas utamanya.

Melalui konsep Heritage, Reimagined, Grand Hotel Preanger berupaya mempertemukan warisan arsitektur masa lalu dengan kenyamanan modern tanpa menghilangkan karakter bangunan yang telah menjadi bagian dari perjalanan Kota Bandung.

Multi-Property General Manager Grand Hotel Preanger Bandung, a Tribute Portfolio Hotel, Lily Wijaya, menegaskan bahwa pembaruan hotel bukan berarti menghapus jejak sejarah yang telah melekat selama lebih dari satu abad.

“Untuk mempertahankan karya dari zaman dahulu, seninya tetap, DNA-nya tetap, budayanya tetap,” ujar Lily dikutip dari laman Humas Pemkot Bandung, Minggu (25/10/2026).

Menurut Lily, sejumlah bagian bangunan lama sengaja dipertahankan sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai historis Grand Hotel Preanger. Pintu kamar dan kamar mandi, misalnya, masih menggunakan elemen lama yang diperbarui melalui pengecatan dan penambahan aksen.

Sentuhan warna biru dan emas serta penggunaan kaca bergaya vintage juga memperkuat karakter klasik hotel, sekaligus memberikan suasana yang lebih segar.

“Grand Preanger ini sejarahnya sangat melekat sekali dan kita tidak mau meninggalkan sejarah itu,” katanya.

Berlokasi di Jalan Asia Afrika, Grand Hotel Preanger menyimpan perjalanan panjang yang berkaitan dengan perkembangan Bandung sebagai kota perdagangan, pusat pemerintahan, hingga tempat berlangsungnya peristiwa penting dunia.

Hotel ini mulai berdiri pada 1897 dan dirancang ulang pada 1929 oleh arsitek C.P. Wolff Schoemaker. Dalam proses perancangannya, Soekarno, yang kemudian menjadi Presiden pertama Republik Indonesia, turut memberikan sentuhan desain.

Arsitektur Tropical Art Deco yang melekat pada bangunan tersebut menjadi salah satu ciri khas yang dipertahankan dalam pembaruan hotel.

Upaya menjaga sejarah juga terlihat melalui ornamen interior yang menyimpan cerita tentang Bandung pada masa lalu.

Aksen kotak pos, misalnya, merujuk pada Postweg, sebutan untuk Jalan Pos pada masa lampau. Sementara itu, ornamen karung goni menggambarkan aktivitas perdagangan di kawasan tersebut pada abad ke-19.

Hotel ini turut menampilkan nama-nama tamu yang menginap saat Konferensi Asia Afrika 1955. Dokumentasi itu menjadi pengingat atas peran Bandung dalam diplomasi internasional sekaligus memperkuat nilai historis bangunan.

Lily mengatakan, sejarah akan tetap menjadi bagian penting dari identitas hotel, meskipun pengembangan konsep dan layanan terus dilakukan.

“Sejarah tetap dipertahankan. Ke depannya, kita mengangkat tema-tema yang lebih modern, tetapi sejarah tidak ditinggalkan,” tuturnya.

Ia berharap, keberadaan hotel dapat menjadi sarana bagi masyarakat untuk mengenal sejarah Bandung secara lebih dekat. Menurutnya, bangunan bersejarah bukan hanya menarik bagi mereka yang ingin bernostalgia, tetapi juga dapat menjadi media pembelajaran bagi generasi muda.

Selain mempertahankan karakter arsitektur, Grand Hotel Preanger juga melakukan pembaruan pada sejumlah fasilitas untuk memenuhi kebutuhan wisatawan masa kini.

Hotel ini memiliki 188 kamar dan suite dengan luas mulai dari 32 meter persegi. Desainnya memadukan fasilitas modern dengan nuansa Art Deco yang menjadi ciri khas bangunan.

Renovasi dilakukan secara bertahap, dimulai dari area lobi, restoran, dan kamar. Pengembangan berikutnya mencakup The Saloon Lounge, ruang pertemuan, serta ballroom.

The Saloon Lounge dirancang sebagai tempat berkumpul yang lebih santai, baik bagi tamu hotel maupun masyarakat umum. Area ini akan menghadirkan suasana untuk menikmati minuman, berbincang, dan membangun interaksi sosial.

Adapun Huis Van Preanger menjadi pilihan untuk menikmati hidangan internasional, masakan Indonesia, hingga kuliner khas Jawa Barat.

Hotel juga menghadirkan Dutch Corner yang menawarkan sajian berciri Belanda sebagai bentuk penghormatan terhadap hubungan sejarah kedua negara.

Sementara itu, The Saloon Lounge akan melengkapi pengalaman pengunjung melalui sajian kopi lokal, afternoon tea, serta pertunjukan musik Sunda dan jazz.

Untuk kegiatan bisnis dan acara, Grand Hotel Preanger menyediakan area pertemuan seluas 1.993 meter persegi, termasuk ballroom berkapasitas hingga 800 orang dan 11 ruang pertemuan.

Pengembangan fasilitas belum berhenti sampai di situ. Hotel berencana menghadirkan spa dan pusat kebugaran baru pada 2027.

Bergabung dengan Tribute Portfolio menjadi langkah Grand Hotel Preanger untuk memperluas jangkauan pasar sekaligus memperkenalkan karakter uniknya kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.

Sebagai hotel Tribute Portfolio pertama di Jawa Barat, Grand Hotel Preanger mengandalkan perpaduan sejarah, desain, kuliner, dan budaya lokal sebagai daya tarik.

Letaknya yang berada di kawasan Jalan Asia Afrika juga memudahkan wisatawan mengunjungi sejumlah tempat bersejarah, seperti Gedung Merdeka, Museum Konferensi Asia Afrika, Jalan Braga, dan Alun-Alun Bandung.

Lily berharap, pembaruan yang dilakukan dapat memperkuat posisi hotel sebagai salah satu ikon Kota Bandung, tanpa menghilangkan nilai sejarah yang telah diwariskan selama lebih dari satu abad.

“Kita ingin supaya hotel ini bisa menjadi ikon untuk Kota Bandung juga,” ujarnya.

Ia menambahkan, pelestarian bangunan bersejarah perlu disertai upaya menyampaikan cerita di baliknya. Dengan begitu, warisan masa lalu tidak hanya bertahan secara fisik, tetapi juga tetap dikenal dan dipahami oleh generasi mendatang.

Lily pun mengundang masyarakat untuk melihat langsung wajah baru Grand Hotel Preanger dan merasakan perpaduan suasana klasik dengan fasilitas modern yang kini dikembangkan.

“Buat warga Bandung yang belum pernah ke sini atau sudah pernah ke sini di waktu yang lampau, datanglah ke sini untuk melihat perbedaan atau perubahan kita ke depan, untuk menjadi lebih baik lagi,” katanya.*