Layani 124.576 Warga, Puskesmas Taman Sari Jakarta Kini Punya Gedung Baru

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di gedung baru Puskesmas Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat, Senin (26/10/2026).(Dok.Humas Pemprov DKI Jakarta).**

SATUMEDIA.ID – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memperkuat pelayanan kesehatan tingkat pertama melalui peresmian gedung baru Puskesmas Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat, Senin (26/10/2026).

Fasilitas ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan layanan kesehatan bagi sekitar 124.576 warga, terutama melalui pencegahan penyakit dan pemeriksaan kesehatan sejak dini.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, keberadaan gedung baru tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih menyeluruh. Layanan puskesmas, menurut dia, perlu mencakup seluruh kelompok usia, mulai dari ibu hamil, bayi, balita, hingga lansia.

Puskesmas Kecamatan Taman Sari memiliki luas lahan 976 meter persegi dengan luas bangunan 2.725 meter persegi. Setiap hari, fasilitas ini rata-rata melayani 500 pasien.

Jangkauan pelayanannya diperkuat oleh lima puskesmas pembantu (Pustu) dan 63 pos pelayanan terpadu (Posyandu) yang telah menerapkan Smart Posyandu.

Pramono menilai, fasilitas kesehatan tingkat pertama memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan masyarakat, bukan sekadar memberikan pengobatan kepada pasien yang sudah sakit.

Karena itu, gedung baru Puskesmas Taman Sari dilengkapi fasilitas yang mendukung pelayanan kesehatan bagi berbagai kelompok usia, termasuk sarana aktivitas fisik untuk lansia.

“Pelayanan kesehatan perlu menjangkau masyarakat sejak sebelum kelahiran hingga usia lanjut. Dengan fasilitas yang tersedia, puskesmas diharapkan dapat menjalankan fungsi pencegahan, pemeliharaan kesehatan, dan pengobatan secara terpadu,” ujar Pramono.

Untuk meningkatkan jangkauan pelayanan, Puskesmas Kecamatan Taman Sari juga menjalankan sejumlah program inovasi yang menyasar kebutuhan kesehatan masyarakat.

Program PELITA difokuskan pada penanganan tuberkulosis (TBC) dan kusta. Sementara itu, TARI menyediakan stimulasi untuk mendukung tumbuh kembang anak, sedangkan BEKEL memberikan pendampingan bagi ibu hamil dan ibu nifas.

Program BEKEL setiap bulan mendampingi sekitar 36 ibu hamil dan 11 ibu nifas. Adapun TARI, yang mulai dilaksanakan pada Agustus 2026, melayani sekitar 25 balita setiap bulan.

Puskesmas tersebut juga mengadakan Kelas Opa Oma yang diikuti sekitar 120 lansia per bulan. Kegiatannya meliputi pemeriksaan kesehatan, latihan fisik, serta aktivitas pemberdayaan.

Berbagai program tersebut memperlihatkan upaya puskesmas memperluas pelayanan dari yang semula berfokus pada pengobatan menjadi layanan yang juga menekankan pencegahan dan pemeliharaan kesehatan.

Pramono turut menyoroti pentingnya akses pelayanan bagi warga yang membutuhkan, termasuk masyarakat yang tidak memiliki KTP Jakarta.

Ia menegaskan, pelayanan dasar harus menjadi salah satu bentuk nyata manfaat pembangunan yang dirasakan masyarakat. Oleh karena itu, perhatian pemerintah tidak hanya diarahkan pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada kesehatan, pendidikan, dan perlindungan sosial.

Menurut Pramono, anggaran pemerintah yang berasal dari pajak perlu diterjemahkan menjadi layanan publik yang dapat diakses masyarakat sesuai kebutuhannya.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati mengatakan, perpindahan Puskesmas Kecamatan Taman Sari dari Jalan Blustru ke gedung baru membuka peluang untuk meningkatkan kapasitas pelayanan.

Dengan bangunan yang lebih luas, puskesmas dapat mengembangkan layanan tanpa meninggalkan pelayanan dasar yang selama ini berjalan, termasuk layanan 24 jam dan rawat bersalin.

Ani menjelaskan, pengembangan layanan akan diarahkan pada kegiatan promotif dan preventif, seperti pemeriksaan kesehatan serta upaya mencegah munculnya penyakit.

Sementara itu, bangunan lama di Jalan Blustru tidak lagi dibiarkan kosong, tetapi dialihfungsikan menjadi Pustu Taman Sari. Fasilitas tersebut akan membantu mempertahankan jangkauan pelayanan kesehatan bagi warga di sekitarnya.

Ani menambahkan, seluruh 44 kecamatan di Jakarta telah memiliki puskesmas kecamatan yang beroperasi selama 24 jam.

Pemprov DKI Jakarta juga terus membangun dan mengembangkan fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk menjangkau masyarakat di wilayah yang membutuhkan tambahan layanan.

Pada 2025, pembangunan fasilitas kesehatan dilakukan di delapan lokasi, terdiri atas dua puskesmas kecamatan dan enam Pustu.

Adapun pada 2026, pembangunan tiga Pustu di Jakarta Barat masih berlangsung, yakni di Slipi II, Tegal Alur, dan Kedoya Utara.

Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah memperkuat layanan kesehatan dasar agar semakin mudah dijangkau masyarakat, sekaligus meningkatkan perhatian terhadap pencegahan penyakit dan pemeliharaan kesehatan sepanjang kehidupan.*

 

Pos terkait