Harga Jual Rp700 Per Kilogram, Petani Lembang Bagikan Tomat ke Warga

Harga tomat yang jatuh membuat petani enggan memanen. Mereka membiarkan buah tomat membusuk di kebun. Bahkan mempersilahkan warga untuk mengambil.(Istimewa).**

SATUMEDIA.ID – Harga jual tomat di tingkat petani dalam satu bulan terakhir anjlok luar biasa. Di Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) banyak petani yang memilih tak memanen.

Saat ini harga tomat di tingkat petani Rp700 per kilogram menjadi yang terendah selama beberapa tahun terakhir. Karena itulah, petani yang kebun tomatnya berada di pelosok membiarkan tomatnya membusuk.

“Bagi yang kebunnya di pinggir jalan masih bisa memanen, tapi yang lahannya berada jauh ke dalam sebagian besar tidak memanen. Ongkos angkut dari kebun ke pinggir jalan jauh lebih mahal ketimbang harga jual. Mereka pada akhirnya mempersilahkan warga untuk memetik atau mengambil sendiri,” kata salah seorang petani sayuran, Ulus Pirmawan asal Kampung Gandok RT 01/RW 01, Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Minggu (28/7/2024).

Sekalipun dipanen untuk dijual, tapi sama sekali tidak mampu menutup modal yang sudah dikeluarkan. Baik dari pembelian bibit, obat-obatan, pestisida, upah pekerja sampai biaya pemeliharaan.

Ulus menyebut untuk lahan seluas 1 hektare kebun tomat, biaya yang dikeluarkan petani berkisar antara Rp80 juta sampai Rp100 juta. Sementara dengan harga tomat Rp700 per kilogram diperkirakan hanya menghasilkan uang sekitar Rp4 juta.

“Jelas petani rugi besar. Ada yang masih bisa menjual, tapi masih sangat jauh dari modal yang sudah dikeluarkan. Parahnya lagi, tak sedikit petani yang malah sama sekali tidak mendapat uang sepeserpun,” ungkapnya.

Menurutnya, merosotnya harga jual tomat dipengaruhi faktor daya beli masyarakat dan panen serentak. Namun, ia menyebut paling dominan akibat penurunan daya beli masyarakat.

“Kalau daya beli masyarakat tinggi, sekalipun tomat melimpah dipasaran harganya tidak akan separah seperti sekarang. Petani masih bisa menjual Rp5.000 per kilogram,” ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi yang terjadi sekarang disaat daya beli masyarakat menurun terjadi panen raya tomat. Akibatnya, sekalipun harga jual sudah turun tapi tetap pembelinya kurang.

Berdasarkan pantauan Satumedia.Id di lapangan, tomat dijual rata-rata Rp5.000 per kilogram. Bahkan ada yang menjual di mobil bak terbuka Rp10.000 per 3 kilogram.

“Karena memang daya beli masyarakat rendah, walau dijual murah tetap saja tidak laku. Malah tidak ada yang sampai berani memborong banyak,” keluh Ketua Kelompok Tani Wargi Panggupay ini.

Situasi seperti ini, lanjut Ulus, seolah terjadi rutin setiap tahun. Bersamaan dengan tahun ajaran baru sekolah.

“Ketika menghadapi tahun ajaran baru, para orang tua pasti lebih fokus untuk biaya pendidikan anak-anaknya. Daftar masuk SD saja perlu biaya, buat seragam, buku dan lainnya. Apalagi yang masuk SD swasta ada yang harus membayar biaya pendaftaran bisa lebih dari Rp 8 juta. Belum SMP, SMA, maupun perguruan tinggi. Ya, karena habis buat biaya pendidikan jadinya untuk belanja kebutuhan lain dikurangi,” tuturnya.

Ulus menyebut, sebenarnya tidak hanya tomat yang harga jualnya turun drastis. Tapi juga menimpa sayuran jenis lain.

“Hanya memang yang paling terpuruk itu harga jual tomat,” ucapnya.*