SATUMEDIA.ID – Punclut menjadi jalur alternatif ketika terjadi kemacetan di jalur utama, Jalan Setiabudi menuju Lembang. Terutama pada long weekend maupun akhir pekan.
Namun kondisi jalan yang berkelok-kelok, banyak turunan curam dan tanjakan mengharuskan hanya kendaraan yang kondisinya fit yang dianjurkan melewati jalur Punclut.
Jadi kalau kendaraan baik itu mobil, maupun sepeda motor yang tidak kuat menanjak dan remnya bermasalah lebih baik hindari jalur Punclut. Dan tak kalah penting kemampuan mengemudi juga sangat penting.
Jangan sampai seperti kejadian pemotor yang mengalami rem blong saat melintasi sebuah turun di Kampung Sukasirna, Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Kejadian itu terekam video dan viral di media sosial. Terlihat detik-detik pengendara sepeda motor itu tak bisa menghentikan laju kendaraannya yang meluncur deras.
Kejadian fatal berhasil dicegah lantaran adanya lajur darurat berupa jaring penyelamat menyerupai gawang sepak bola.
Lajur darurat dibuat secara swadaya menggunakan ban mobil, kayu, dan besi. Sehingga ketika motor menghantam membantu mencegah kejadian lebih fatal.
Lajur darurat di wilayah tersebut diketahui merupakan inisiatif warga lantaran kerap terjadi kecelakaan, terutama sepeda motor.
Salah seorang warga penggagas lajur darurat, Toni Alfin mengakui, keberadaan lajur darurat tersebut belum maksimal karena belum bisa mencegah pengendara tidak terluka.
“Pengendara mengalami luka tak dapat dihindari meskipun tidak parah. Warga pun kemudian mengusulkan ke Pemkab Bandung Barat untuk memaksimalkan tempat tersebut. Ini dari dulu bikinnya sama Karang Taruna sama warga, dikarenakan posisinya tidak layak jadi pengajuan ke PUPR, ya baru tiga bulanan. Ide gawang ini dari PUPR,” tuturnya, beberapa hari lalu.
Menurutnya, kawasan tersebut merupakan jalur ekstrem terutama bagi pemotor. Pada saat libur panjang Isra Miraj dan Tahun Baru Imlek kemarin, dalam satu hari 15 hingga 20 kecelakaan terjadi di jalur tersebut.
“Kalau pada hari libur itu kecelakaan rem blong bisa terjadi 15 sampai 20 kejadian. Tapi tidak dititik ini aja, ada tiga, yang di atas sini sama bawah,” kata Toni.
Ia sempat mengajukan pembuatan gawang darurat di tiga titik rawan Kecelakaan. Namun, hbaru satu titik yang direspon, bahkan itu pun setelah adanya pelajar yang menjadi korban meninggal dunia.
“Oleh karena itu, saya mengajukan tiga. Untuk di atas, di sini, dan di bawah,” tukasnya.*

