Rahasia Seruan Azan

Dede Supriatna Alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM.(Istimewa).**

SATUMEDIA.ID – Azan sebagai syiar Islam dengan tujuan untuk mengajak umat muslim melaksanakan ibadah salat lima waktu sesuai dengan perintah Allah di Al Quran.

Mengutip paparan Dr. Ramly M. Yusuf, MA., azan memiliki sejarah yang paling unik dalam Islam. Azan yang kita kenal sekarang adalah hasil mimpi seorang sahabat Rasulullah SAW , yaitu Abdullah bin Zaid, lalu Rasulullah SAW merestuinya.

Pada mulanya azan belum dikenal oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Guna menentukan bagaimana cara memanggil orang melaksanakan shalat bila waktu salat tiba, Rasulullah SAW mengajak para sahabat bermusyawarah.

Ada yang berpendapat untuk menandai setiap waktu shalat adalah dengan menaikkan dan mengibarkan bendera. Ada yang mengusulkan cara menentukan waktu shalat dengan menyalakan api unggun, meniup terompet dan memukul lonceng. Namun tidak disetujui Rasulullah SAW dan para sahabat pun menyangkalnya, karena hal itu sudah digunakan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Dalam suasana alot tersebut Umar bin Khathab tampil mengemukakan pendapatnya, yaitu cara memanggil orang untuk melakukan salat cukup dengan menetapkan seorang juru panggil untuk menyerukan saat waktu salat tiba. Ash-Shalah, ash-Shalah (Mari kita shalat, mari kita shalat).

Ternyata Rasuulullah SAW dan para sahabatnya menyetujui pendapat terakhir, seperti yang dikemukakan oleh Umar. Setelah menyetujui pendapat tersebut, Rasulullah SAW langsung mengintruksikan kepada sahabatnya Bilal bin Rabah, “Hai Bilal, bangunlah, dan panggillah dengan kalimat ash-shalah. Maka untuk selanjutnya bila tiba waktu shalat, sahabat Bilal berseru, “Mari ayo shalat bersama-sama! Shalat bersama-sama!”

Dalam Riwayat lain seorang sahabat Rasulullah SAW yang bernama Abdullah bin Zaid sedang berada di antara tidur dan jaga,bermimpi bertemu seseorang dan mengatakan: “Maukah kamu kuberikan yang lebih baik dari lonceng ini kepadamu? Sahabat Abdullah menjawab: Ya, Saya mau. Cobalah tunjukkan. Orang itu mengatakan: Bacalah: Allahu Akbar – Allahu Akbar – Allahu Akbar – Allahu Akbar. Asyhadu alla ilaha illallah – Asyhadu alla ilaha illallah. Asyhadu anna Muhammadarrasullulah – Asyhadu anna Muhammadarrasullulah. Hayya `alash shalah – Hayya `alash shalah. Hayya `alal falah – Hayya `alal falah. Allahu Akbar, Allahu Akbar. La ilaha illallah.”

Keesokan harinya, Abdullah bin Zaid dengan tergopoh-gopoh menghadap Rasulullah SAW dan melaporkan tentang mimpinya itu. Setelah Rasulullah SAW mendengar apa yang dikatakan oleh Abdullah kepadanya, beliau bersabda, “Sesungguhnya mimpi itu benar. Insya Allah. Maka, pergilah engkau menghadap Bilal bin Rabah, karena Bilal itu suaranya lebih tinggi dan merdu, dan nafasnya lebih panjang. Lalu, ajarkan kepadanya lafaz-lafaz yang telah diucapkan orang itu kepadamu dan hendaklah Bilal memanggil orang untuk melakukan shalat dengan lafadh-lafadh yang telah diajarkan oleh seseorang itu.”

Abdullah pun menemui Bilal dan mengajarkan lafaz azan dan iqamah itu kepadanya. Kemudian, pada saat datang waktu salat, Bilal mengumandangkan azan sebagaimana yang diajarkan oleh Abdullah bin Zaid tersebut. Mendengar suara azan Bilal itu, Umar bin Khathab RA datang dengan serta-merta menemui Rasulullah SAW.

Lalu ia mengatakan, “Ya Rasulullah, demi zat yang telah mengutus engkau dengan benar, sungguh semalam saya telah bermimpi sebagaimana yang diucapkan Bilal. Kalau sekiranya Abdullah tidak menyampaikannya kepadamu, maka saya sampaikan mimpi saya kepadamu wahai Rasulullah. Rasulullah SAW bersabda, Maka semua puji bagi Allah, maka demikian itulah yang lebih tetap dan mantap.”

Azan memiliki nilai yang sangat tinggi bagi siapa yang memperhatikan dan merenunginya. Mengulang lafaz azan maksudnya mengucapkan kembali sebagaimana yang diucapkan oleh Muazin, kecuali lafaz hayya ‘alash shalah dan hayya ‘alal falah saja sebagai gantinya diucapkan , lahaula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adhim. Setelah itu, bershalawat kepada Nabi paling kurang membaca (Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa’ala ali Muhammad). Atau membaca salawat secara lengkap seperti yang dibaca dalam tasyahhud.

Kemudian membaca doa setelah azan, Allahumma Rabba hadzihid Dakwatit Tammah Washshalatil Qaimah. Ati Muhammadanil wasilata Wal Fadhilah Wab’atshul Maqamal Mahmudalladzi wa’attah. Begitu agung nilai azan dalam ajaran Islam yang diberikan Allah SWT kepada Rasulullah SAW dan umatnya. Belum lagi melakukan shalat akan tetapi baru mendengar azan dan mengulangnya, bershalawat dan memohon diberikan wasilah kepadanya, Rasulullah SAW berjanji akan memberikan syafa’at (pertolongan)-nya di hari akhirat kelak.

Dalam azan mengandung ungkapan kebesaran Allah SWT yaitu lafaz Allahu akbar, mengandung pengakuan dan kesaksian terhadap kebesaran Allah. Sedangkan Asyhadu alla ilaha illah wa asyhadu anna Muhammadarrasulullah adalah kesaksian tentang keesaan Allah SWT dan kerasulan Muhammad SAW . Setelah itu ungkapan hayya ‘alashshalah, mengadung ajakan untuk mengerjakan shalat setiap masuk waktu secara berjamaah.

Lafaz hayya ‘alal falah mengandung panggilan ke tempat shalat (masjid, mushalla atau surau) sebagai suatu lambang kemenangan dan kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat kelak. Kemudian ditutup dengan ungkapan Allahu akbar dan Lailaha Illallah (kebesaran dan keesaan Allah). Itulah azan yang dikumadangkan dan tetap terus membahana sampai hari kiamat. Dan azan ini tidak pernah terputus setiap waktu, karena di setiap negara dan benua selalu punya waktu shalat masing-masing sesuai dengan peredaran dan perputaran planet bumi.*

*Penulis Dede Supriatna alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM.