Memulihkan Sayap-Sayap Patah Para Pendosa

Ilustrasi sayap-sayap patah.(Pixabay).**

SATUMEDIA.ID – Seekor burung ingin terbang kembali dengan sayap-sayapnya yang patah. Sebelumnya, akibat keteledorannya, burung itu jatuh  menghantam batu cadas hingga terjerembab di tepi jurang yang penuh semak berduri, kubangan lumpur, dan hewan-hewan melata berlendir nan menjijikkan. Kini, ia tepisah dari kawanannya yang terbang di langit yang agung.

Ia ingin kembali bergabung bersama mereka. Dalam awal-awalnya kepakannya, sewajarnya ia terjatuh kembali. Terbang, jatuh kembali. Terbang, jatuh kembali.

Namun, bayangkanlah burung itu—yang sudah bersusah payah ingin terbang kembali ke langit, dengan luka di sayap dan dada yang belum sembuh. Ia mencoba mengepak pelan, mencoba menyentuh angin lagi meski tubuhnya gemetar. Tapi baru beberapa kali ia terangkat dari tanah, belum sempat menyeimbangkan diri, sudah datang batu-batu yang dilemparkan ke arahnya. Bukan dari pemangsa, melainkan dari burung-burung lain yang dulu terbang bersamanya, dari kawanannya sendiri.

Alih-alih diberi tempat untuk memulihkan diri, ia dihujani teriakan, “Mengapa kau jatuh sejauh itu?” “Mengapa kau kotor seperti ini?” “Kau mencemari langit yang suci ini!” Maka burung itu, yang sejak awal pun telah rapuh, merasa benar-benar kehilangan harapan. Ia mulai percaya bahwa langit memang bukan tempatnya lagi. Ia menoleh ke tanah yang becek dan berkata dalam hatinya, “Mungkin aku memang ditakdirkan untuk tinggal di sini. Mungkin aku bukan burung lagi. Mungkin aku tak perlu terbang.”

Sayap-sayapnya yang semula hanya patah, kini mulai membusuk karena tak ada yang merawat. Luka-lukanya yang semula seharusnya disembuhkan dengan pengertian dan kasih sayang, malah menganga semakin dalam oleh luka baru: penghakiman, penolakan, dan rasa hina nan memalukan yang ditancapkan oleh kuku-kuku mereka yang mestinya menjadi tempat pulang.

Dan akhirnya, ia berhenti mencoba. Ia diam di sudut gelap dunia, menyatu kembali dengan kubangan yang dulu ingin ditinggalkannya. Bukan karena ia tak ingin bangkit dan kembali mengepakkan sayapnya, tapi karena setiap kali mencoba, ia dipaksa merasa bahwa ia tidak layak mencapai langit nan suci.

Kurang-lebih demikian perumpamaan seseorang yang pernah terjerumus dalam dosa dan ingin kembali ke jalan suci menuju ridha dan kasih sayang-Nya. Proses perubahan dan taubat itu nyatanya tidak mudah. Ada jatuh-bangun, ada kegagalan di tengah niat baik, dan itu menjadi sunatullah dalam perjalanan spiritual.

Bagai burung yang ingin terbang lagi setelah sayapnya patah menggambarkan betapa berat dan rapuhnya kondisi batin orang tersebut. Keinginannya kuat, tetapi “alat” untuk mencapainya (mental, kebiasaan, kekuatan spiritual) belum sepenuhnya pulih.

Penting untuk disadari bahwa dalam proses taubat, kegagalan di awal bukanlah akhir dari segalanya. Namun, ketika kegagalan itu dibalas dengan kemarahan, cemoohan, dan penghakiman dari orang sekitar -bahkan orang-orang terdekat-, proses pemulihan itu bukan hanya terhenti, tetapi malah menjadi luka baru. Alih-alih membantu memulihkan “sayap”, mereka yang menghujat justru memperparah cedera, dan mendorong si pendosa untuk menyerah dan menetap dalam dosa sebagai “identitasnya.”

Padahal, mungkin jika ia diberi sedikit ruang, sedikit kehangatan, sedikit percaya—sayapnya bisa tumbuh kembali, dan ia bisa kembali ke langit. Tidak ada burung yang lahir untuk selamanya tinggal di lumpur. Tapi seringkali, yang menjebaknya bukan hanya dosanya, melainkan luka-luka yang dibuat oleh mereka yang tak sabar melihatnya mencoba terbang lagi.

Pada sebagian kasus, inilah cermin dari kenyataan batin banyak jiwa yang pernah terjerembab dalam dosa, lalu ingin kembali ke jalan Sang Maha Pengampun & Maha Penyayang. Ia bukan tak punya niat, bukan pula tak punya usaha—hanya saja, luka yang ia bawa terlalu dalam, dan dunia di sekitarnya sering kali terlalu cepat menghukumi, terlalu sedikit memberi harapan.

Taubat adalah perjalanan, bukan hasil instan. Dan mereka yang sedang meniti jalan pulang kepada Allah seringkali berjalan tertatih, dengan luka-luka yang tak tampak oleh mata. Dalam keadaan seperti itu, satu sikap penghakiman bisa menjadi beban yang menghentikan langkah mereka selamanya. Sebaliknya, satu uluran kasih, satu kalimat dukungan, bisa menjadi perban bagi luka yang mereka sembunyikan.

Jika kita sungguh peduli pada kebaikan, jangan hanya berdiri di tempat tinggi dan menunjuk-nunjuk ke bawah. Turunlah, dekati mereka yang jatuh, duduklah di samping mereka. Dengarkan, rangkul, dan bantu mereka berdiri. Kita tidak pernah tahu: bisa jadi orang yang hari ini tampak paling tenggelam dalam dosa, esok hari akan menjadi hamba yang paling dicintai Tuhan karena ketulusan taubat dan perjuangannya—sementara kita yang merasa sudah berada di atas jalan lurus, malah tergelincir karena kesombongan, kurangnya empati, dan bahkan tidak amanah dalam menyampaikan pesan Rahmat dari Allah bagi hamba-hambanya yang rindu bertaubat.

Karena itulah, bobot dosa seorang ahli ibadah yang sikapnya menyebabkan orang lain putus asa dari rahmat Allah boleh jadi lebih besar dari bobot amal ibadah yang konsisten ia lakukan. Menurut riwayat dari Zaid bin Aslam dari Umar, Ibnu Mas’ud berkisah bahwa pada suatu masa ada seorang laki-laki yang bersungguh-sungguh dan ketat terhadap dirinya dalam ibadah. Namun, selama hidupnya, ia sering membuat orang lain berputus asa atas ampunan dan kasih sayang Allah.

Niatnya memberi nasehat dan peringatan, namun sikap dan ucapannya membuat para pendosa yang sebenarnya telah rindu Allah malah merasa tidak lagi mempunyai kesempatan untuk menelusuri jalan baru menuju rahmat-Nya. Kecaman dan dakwaannya membuat jiwa-jiwa rapuh karena dosa tapi kangen dengan “belaian lembut” Allah malah tidak mengenal Allah sebagai Sang Maha Penyabar atas segala kedurhakaan hamba terhadap-Nya. Jiwa-jiwa itu akhirnya berprasangka buruk bahwa mereka memang pantas menjadi sasaran murka Allah. Setelah mati, laki-laki ahli ibadah itu bertanya, “wahai Rabb-ku, apa yang akan Engkau berikan untukku?”

“Neraka,” jawab Allah.

“Wahai Rabb-ku, lalu mana pahala ibadah dan kesungguhanku selama hidup di dunia?” tanyanya dengan heran.

“Engkau telah membuat orang lain berputus asa atas Rahmat-Ku di dunia. Maka, hari ini Aku menghapus Rahmat-Ku darimu,” jawab Allah.

Riwayat tersebut mengajarkan hikmah bahwa jangan menjadi tangan yang mendorong orang jatuh lebih dalam hanya karena ia tergelincir dalam langkah awalnya. Jadilah tangan yang membantu ia bangkit—sebab mungkin di hadapan Allah, langkah kecilnya jauh lebih bernilai daripada seluruh langkah kita yang tak disertai rasa kasih dan rendah hati.

Menghakimi itu mudah, memahami itu butuh jiwa besar. Dan mungkin, justru di situlah jalan kebaikan yang sejati dimulai—bukan sekadar menunjuk dosa orang lain, tapi dengan menjadi bagian dari kesembuhan mereka.

Dan, tahukah Anda, ternyata hal itu terkonfirmasi oleh temuan-temuan modern dalam psikologi?

Dengan memahami jiwa manusia melalui kacamata psikologi, kita dapat melihat bahwa proses kembali ke jalan kebaikan bukanlah perjalanan singkat dan bebas hambatan. Transtheoretical Model of Change_ yang dikembangkan oleh James Prochaska dan Carlo DiClemente menunjukkan bahwa perubahan perilaku (termasuk taubat dari dosa) lazimnya melewati beberapa tahap: mulai dari kontemplasi, persiapan, aksi, hingga mempertahankan perubahan, dan kadang mengalami kemunduran (relapse).

Dalam fase-fase tersebut, seseorang sangat rentan dan membutuhkan dukungan emosional, bukan kecaman. Terutama pada fase relapse, seseorang rentan kembali ke perilaku lamanya yang buruk. Namun, sangat perlu diperhatikan, itu bukan sebagai akhir, tapi sebagai bagian dari proses. Kegagalan sementara seseorang dalam perubahan menuju fase kebaikan bukanlah tanda penolakan terhadap pertaubatan, melainkan bagian dari proses pemulihan yang wajar secara psikologis.

Dalam pandangan Self-Stigma Theory dari Patrick Corrigan, seseorang yang terjerumus dalam kesalahan sering kali mengalami bukan hanya rasa bersalah, tetapi juga rasa malu yang menghancurkan jati diri. Ia merasa tak layak dicintai, bahkan oleh Tuhan. Ketika lingkungan sosial terus menghakimi, ia dapat mengalami internalisasi stigma (self-stigma), yaitu keyakinan dalam diri bahwa dirinya memang rusak, tak bisa berubah, dan tak pantas mendapat rahmat. Padahal, jika diberi dukungan sosial dan empati, ia bisa pulih dan menemukan kembali harga dirinya yang hilang.

Sementara itu, Carl Rogers, melalui pendekatan Person-Centered Therapy, menekankan bahwa perubahan positif dan pemulihan jiwa hanya dapat terjadi dalam suasana reward berbentuk jaminan aman, penuh empati, dan menerima tanpa syarat (unconditional positive regard).

Menurut Skinner, perilaku baik cenderung berulang dan semakin membaik jika diberi penguatan positif (reward), dan berhenti jika diberi hukuman terus-menerus, apalagi ketika motivasinya belum stabil. Dalam lingkungan seperti inilah luka-luka terdalam seseorang akibat kesalahan atau dosa (menurut keyakinan keagamaan) bisa sembuh, dan ia dapat kembali merasakan kehadiran Tuhan dalam jiwanya.

Maka, daripada menjadi hakim yang menghakimi dari tempat tinggi, jadilah teman yang turun duduk di tanah, mendengar tanpa menggurui, dan percaya bahwa setiap manusia masih punya cahaya—karena bisa jadi, mereka yang terjatuh paling dalam hari ini akan terbang paling tinggi esok hari di sisi Allah.*

Penulis Prima Firmansyah penyuka ilmu sosial dan humaniora.(Istimewa).**