Pembalut dari Pelepah Pisang Karya Tiga Mahasiswi ITB, Ramah Lingkungan dan Aman bagi Kesehatan Wanita

Pembalut berbahan pelepah pisang. (Istimewa).**

SATUMEDIA.ID – Pembalut kerap dikaitkan dengan masalah lingkungan, karena bekasnya sulit terurai, menghasilkan gas metana, serta mengandung bahan-bahan yang dapat mencemari tanah dan air.

Tapi kini, ada solusi yang bisa menjawab persoalan pembalut tersebut. Adalah Salwa Salsadila, Kezia Wira Keren, dan Diola Suprapti tiga mahasiswa Rekayasa Pertanian Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati – Rekayasa (SITH-R) Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berhasil membuat pembalut ramah lingkungan dan
solusi berkelanjutan bagi kesehatan wanita.

Ketiganya, tergabung dalam Tim The Bananabees membuat pembalut yang diberi nama Mennapads, sebuah inovasi berupa pembalut biodegradable yang diproduksi dari sisa pelepah pisang.

Untuk memastikan produknya sepenuhnya ramah lingkungan, Mennapads dirancang dengan lapisan awal dan akhir berbahan bioplastik sehingga 100% dapat terurai secara alami.

Tidak hanya itu, kemasannya juga menggunakan bioplastik. Hal ini menjadikan Mennapads sebagai solusi yang lebih berkelanjutan bagi kesehatan wanita dan juga kelestarian lingkungan.

Untuk memastikan produknya sepenuhnya ramah lingkungan, Mennapads dirancang dengan lapisan awal dan akhir berbahan bioplastik sehingga 100% dapat terurai secara alami. Tidak hanya itu, kemasannya juga menggunakan bioplastik. Hal ini menjadikan Mennapads sebagai solusi yang lebih berkelanjutan bagi kesehatan wanita dan juga kelestarian lingkungan.

Spesifikasi produk Mennapads

Produk ini dirancang untuk memberikan solusi terhadap dua permasalahan utama. Salah satu tujuan utama Mennapads adalah mengurangi limbah plastik dari pembalut konvensional.

Saat ini, sekitar 95% wanita di Indonesia menggunakan pembalut saat menstruasi yang menyumbang timbunan sampah hingga 26 ton setiap harinya. Dengan hadirnya Mennapads, penggunaan pembalut sekali pakai berbahan plastik dapat diminimalkan sehingga membantu mengurangi pencemaran lingkungan.

Kedua, pemanfaatan limbah pertanian. Pelepah pisang diolah menjadi lapisan penyerap alami yang mampu menggantikan bahan sintetis dalam pembalut.

“Dalam sistem produksi pisang, satu pohon hanya menghasilkan satu tandan pisang sebelum akhirnya ditebang. Akibatnya, limbah pelepah pisang terus meningkat dengan perkiraan produksi mencapai 640.000 batang per tahun,” kata Salwa yang dikutip dari laman ITB, Jumat (6/6/2025).

“Limbah ini umumnya tidak dimanfaatkan dan hanya berakhir sebagai sampah organik. Nah, kami melihat limbah pertanian yang sering terbuang sia-sia sebagai peluang besar dan ingin mengolahnya menjadi produk yang lebih bernilai,” sambung Salwa.

“Selain mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, Mennapads juga berkontribusi pada ekonomi sirkular dengan memberdayakan petani lokal dan membuka peluang ekonomi baru di sektor pertanian,” tambah Kezia.

Mennapads berhasil meraih juara 3 dalam Business Plan Competition yang diselenggarakan dalam kompetisi Agricultural Food Competition (AFC) Season 16. Kompetisi ini diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman dan berlangsung dari 1 Januari hingga 23 Februari 2025.

AFC Season 16 mengusung tema “The Actualization of Sustainable Development Goals through Agricultural Innovation in the Society 5.0 Era”. Kompetisi ini bertujuan untuk mendorong generasi muda dalam mengembangkan ide bisnis inovatif di bidang pertanian yang berkelanjutan.

The Bananabees berkompetisi dengan berbagai tim dari universitas ternama di Indonesia, seperti Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Sebelas Maret (UNS), Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Dalam kompetisi ini, Tim The Bananabees memilih subtema Utilization of Agriculture Waste and Material dengan fokus pada pengelolaan limbah secara berkelanjutan.*

Pos terkait