Gaya Belanja Pengguna E- Commerce

Dede Supriatna.(Dokumen pribadi)**

SATUMEDIA.ID – Mengamati gaya dan kecenderungan pengguna e-commerce saat ini menunjukkan perubahan perilaku dan yang utama terjadi peningkatan pengguna atau konsumen yang luar biasa .

Riset We Are Social Indonesia’ menunjukkan, dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 278,7 juta orang dan 185,3 juta (66,5 persen) di antaranya merupakan pengguna internet, aktif memakai teknologi untuk belanja lewat e-commerce.

Lembaga riset e-commerce dari Jerman, ECDB, menyebut Indonesia menjadi negara dengan proyeksi pertumbuhan e-commerce tertinggi di dunia pada 2024. Tingkat pertumbuhannya menyentuh 30,5%.

Proyeksi itu lebih tinggi hampir tiga kali lipat dari rerata global yang sebesar 10,4%.
Ini data yang bukan kaleng-kaleng makanya banyak e-commerce yang sering digunakan di Indonesia diantarnya Tokopedia, Shopee, Lazada, Bukalapak, Blibli, Ralali, JD.ID, Upwork, Freelancer, dan masih banyak lagi tiap saat melakukan strategi marketing yang makin masif.

Kompetisi sengit diantara mereka bagi pengguna tentu diuntungkan karena mendapat insentif, discount dan kemudahan lainnya. Misalnya Insentif promo ongkos kirim gratis dan berbagai diskon lainnya yang ada di platform perdagangan elektronik atau e-commerce ternyata menjadi daya tarik bagi konsumen.

Merujuk hasil riset We Are Social menunjukkan, 59,3 persen dari jumlah pengguna internet berusia 16 sampai 64 tahun di Indonesia melakukan pembelian produk atau jasa melalui media online. Bahkan, dari pengguna internet tersebut, 52,3 persennya melakukan pembelian online karena alasan kupon atau diskon.

Selain itu riset dari berbagai lembaga menyatakan kecenderungan pengguna atau konsumen belanja, salah satunya dilatarbelakangi karena adanya insentif tarif jasa kurir dari platform e-commerce.

Selanjutnya data riset Populix mencatat bahwa sebanyak 54 persen masyarakat Indonesia memilih untuk berbelanja di e-commerce, dengan mayoritasnya dilakukan oleh gen Z. Namun, sebanyak 42 persen masyarakat masih berbelanja secara offline, sisanya berbelanja di social commerce.

Fenomena ini menunjukkan perubahan pada model belanja masyarakat yang cukup cepat terjadi dari yang awalnya melakukan transaksi secara offline, menjadi online. Ongkir gratis dan kecepatan pengiriman barang turut menjadi pertimbangan.

Sebanyak 47,4 persen responden, menyatakan layanan ongkir gratis menjadi pilihan favorit dan menjadi alasan berbelanja daring. Yang kedua, layanan Next Day (28,5 persen) disukai para pengguna sehingga makin mendorong seseorang berbelanja. Riset lain menunjukkan, terdapat sejumlah alasan konsumen lebih memilih berbelanja e-commerce, dibanding secara konvensional datang ke toko.

Hasil riset Populix yang fokus mengamati branding suatu perusahaan dan market analysis, menyebut, alasan responden berbelanja ecommerce salah satunya lantaran hemat tenaga dan waktu (79 persen), gratis ongkos kirim (72 persen), harga lebih murah (62 persen), hingga ragam diskon belanja di e-commerce (61 persen).

Hasil riset dua lembaga kredibel ini menyiratkan dampak utama dari perkembangan e-commerce terhadap bisnis ritel tradisional adalah perubahan pola konsumen dan preferensi pembelian. Konsumen kini memiliki akses yang lebih mudah dan cepat ke berbagai produk dan layanan melalui platform e-commerce.

E-commerce yang pertama kali hadir di Indonesia pada tahun 1990-an, ketika internet mulai dikenal masyarakat. Pada saat itu, belanja online masih terasa asing dan canggung. Tapi seiring waktu, e-commerce terus berkembang pesat seiring dengan meningkatnya pengguna internet di Indonesia. Konsumen kini memiliki akses yang lebih mudah dan cepat ke berbagai produk dan layanan melalui platform e-commerce.

Mereka dapat melakukan pencarian produk ,membandingkan harga, dan membaca ulasan pengguna sebelum melakukan pembelian. Penulis yang sudah lebih lima tahun pengguna Shopee merasakan betul manfaat baik soal harga, akses kualitas produk, mencari pembanding harga untuk barang yang sama, respon complain, pembatalan dan sop manajemen Shopee terkenal tegas kepada penjual atau seller bila melanggar aturan yang sudah disepakati.

Penjual dan konsumen diberikan hak dan kewajiban sesuai diawal. Namun tidak dapat dipungkiri penulis pernah mendapat kiriman barang tidak sesuai iklan/gambar dan tersedia mekanisme complain kepada penjual.

Dari beberapa complain via Shoppe dapat diselesaikan tepat waktu dan tidak dirugikan. Tidak heran Shopee termasuk peringkat pertama e- commerce baik layanan maupun sistemnya. Shopee, e -commerce yang bernuansa orange ini ,menampilkan berbagai pilihan berdasarkan katagori harga, kecepatan dan layanan pengiriman. Namun pembeli masih dapat mengganti perusahaan logistik yang tersedia berdasarkan katagori yang mereka pilih setelah checkout, sebelum penjual mengirimkan barangnya.

Contoh itu menjadi salah satu perubahan perilaku konsumen dan mendorong mereka untuk lebih memilih berbelanja secara online dari pada pergi ke toko . Selain itu, perkembangan e-commerce juga telah menghadirkan persaingan yang semakin ketat dalam industri ritel. E-commerce memungkinkan pengecer dari berbagai tempat untuk menjual produk mereka kepada konsumen secara global tanpa batasan geografis.

Hal ini membuka pintu bagi pengecer online yang lebih kecil dan baru untuk bersaing dengan bisnis ritel tradisional yang telah lama mapan. Dengan biaya operasional yang lebih rendah dan kemampuan untuk menawarkan harga yang lebih kompetitif, pengecer e-commerce mampu menarik sebagian besar pangsa pasar yang sebelumnya dikuasai oleh bisnis ritel tradisional.

Adapun faktor yang turut mempengaruhi pertumbuhan e-commerce di Indonesia diantaranya meningkatnya jumlah penduduk, meningkatnya pengguna smartphone, pengguna internet dan media sosial yang makin banyak dan meningkatnya perkembangan fintech di Indonesia.*

*Penulis Dede Supriatna Mantan Pekerja Bank BRI, alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur
Angkatan 31/2023 dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM

 

 

Pos terkait