Kekuatan Zikir dalam Salat oleh Dede Supriatna

Dede Supriatna Alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM.(Istimewa).**

SATUMEDIA.ID – Berzikir adalah salah satu cara untuk menenangkan hati dan pikiran. Saat seseorang berzikir, ia akan fokus pada kalimat zikir yang diucapkannya, sehingga dapat membantu menghilangkan kecemasan dan stres yang dirasakan.

Kekuatan zikir, sangat luar biasa dalam menenangkan perasaan hati kita saat dalam selain cemas,stress juga keadaan resah dan khawatir. Zikir merupakan cara terbaik untuk menghindari dan mengobati perasaan hati yang tak tenang untuk mengarahkan hati menjadi tenang.

Melakukan dzikir secara teratur akan mengisi kembali hati dan jiwa, mengisinya dengan cahaya iman. Melalui dzikir ,jiwa mendambakan saat damai dan tenteram. Dalam melaksanakan dzikir terdapat beberapa langkah diantaranya membaca Tasbih (Subhanallah- Maha Suci Allah.), Tahmid (Alhamdulilah-segala puji bagi Allah SWT), Takbir (Allahu Akbar- Allah maha besar) dan Tahlil (Laa ilaaha illallah- tiada Tuhan selain Allah SWT).

Selain itu, lafaz dzikir lain yang utama adalah bacaan istighfar (permohonan ampun kepada Allah dengan ucapan dan perbuatan). Sesuai firman Allah SWT : “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu,”(Q.S Al Baqarah :152). Itu mengatakan bahwa sebagai balasan dari zikir Anda kepada Allah SWT, Dia akan melimpahkan tambahan karunia-Nya kepada Anda.
Berikut ayat Al Quran dan hadist tentang keutamaan dan kekuatan melakukan dzikir.

Allah SWT berfirman “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Alquran) dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah SWT (shalat dan dzikir) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S Al-Ankabut: 45).

Juga firman Allah SWT yang lainnya “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. (Q.S As-Saffat: 143-144) dan “Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya. (Q.S Al-Anbiya: 20).

Sementara dzikir ada pada hadist “Ada dua kalimat, yang ringan di lisan, berat pada timbangan, dan dicintai oleh Allah yang Maha Rahman yaitu: Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya, Maha Suci Allah yang Maha Agung.” (HR Al-Bukhari). Juga Rasulullah SAW bersabda, “Ucapan yang paling dicintai Allah adalah empat: maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan Allah maha besar. Tidak ada masalah bagimu dengan yang manapun kamu mulai.” (HR Muslim).

Oleh karena itu Allah SWT   memerintahkan hambanya mendekatkan diri dengan zikir. Ini dijelaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Lahab ayat 41.”Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dengan zikir yang sebanyak-banyaknya.”

Dr Aisyah Dahlan mengungkapkan tentang kekuatan dzikir dihubungkan dengan kesehatan kita. Dzikrullah atau zikir kepada Allah SWT adalah mengingat dan merasakan kehadiran Allah SWT dengan menggunakan potensi pikiran bawah sadar. Artinya, makna dzikrullah adalah membangkitkan kembali ingatan bawah sadar kita tentang Allah SWT.

Tiap pagi jika dirasakan dalam kondisi khusyuk, maka Allah SWT ‘hadir’ dalam kesadaran kita. Namun tidak terbatas pada itu saja. Pada saat kita melafalkan dzikir, akan membawa banyak manfaat bagi tubuh. Dimulai dari otak kita. Ternyata pada saat kita berzikir, maka program neuron di otak kita akan terakses, kemudian jalan ke batang otak, lalu ke sumsum tulang belakang. “Apa yang terjadi ketika kita berzikir? Maka badan kita dan kita ini bisa melakukan kegiatan yang penuh kasih sayang. Bahkan lebih dari itu, kalimat-kalimat thayyibah pada saat kita lafazkan, akan berjalan di sistem saraf. Pertama jalan ke otak, kemudian ke sistem saraf.

Pada saat berzikir suaranya direndahkan. Pada saat kita membisikkan, itu akan terjadi pertukaran karbondioksida dan oksigen di mulut dan di hidung kita. Jadi, otak diberikan darah oleh jantung untuk membawa oksigen. Kalau kita bernapas dalam, itu mengambil oksigen yang banyak,” Karena diucapkan dengan nada rendah, pada saat kita melafalkan kalimat dzikir, thayyibah dan asmaul husna, karbondioksida keluar dari mulut dan otomatis hidung menarik oksigen lebih banyak. Maka, otak akan menjadi lebih sehat.

Dalam zikir, terkandung doa-doa yang bisa menjadi media untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sementara dalam doa, terdapat kalimat zikir yang mampu menuntun manusia untuk mengingat Rabbnya. Jadi pada hakikatnya, tidak ada perbedaan mendasar antara doa dan dzikir. Lalu kapan zikir efektif dilakukan seyogyanya berbarengan dengan doa yang mustajab.

Rasulullah SAW bersabda “ Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabbnya ialah pada saat ia sedang sujud, maka perbanyaklah doa ( didalamnya) ( HR Muslim). Selain itu waktu doa dan dzikir mustajab sesuai sabda Rasulullah SAW “ Doa antara azan dan iqamah tidak akan ditolak (HR Tirmidzi).

Di antara waktu paling mustajab lainnya adalah sepertiga malam terakhir khususnya pada saat solat tahajud. Dzikir dan doa adalah dua perbuatan yang disyariatkan di dalam Islam. Secara umum keduanya merupakan hal yang dianjurkan (sunnah). Salah satu amalan sunnah setelah sholat fardhu adalah membaca tiga macam dzikir sebanyak 33 kali.

Zikir yang disunnahkan dibaca setelah sholat fardhu masing-masing sebanyak 33 kali adalah tasbih, tahmid, dan takbir. Membaca kalimat Tayyibah di atas lebih dari 33 kali bahkan kurangpun tidaklah mengapa, seperti hadist yang terdapat dalam Sahih al-Bukhari yang lain dzikir di atas dibaca 10 kali. Tentunya lebih banyak lebih baik karena waktu mengingat Allah SWT semakin lama.

Disebutkan, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang membaca istighfar sebanyak seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR. Ibnu Majah). Oleh karena itu, sangat dianjurkan bagi setiap muslim untuk memperbanyak membaca istighfar

Menurut Abu Utsman Kharisman, kadang orang sulit untuk mengingat Allah SWT dalam shalat karena ia tidak terbiasa. Ia terbiasa lalai dari mengingat Allah SWT . Pada saat datang waktu shalat, maka ia baru berjuang mengingat Allah SWT . Bagi orang yang banyak berzikir, baik di luar maupun di dalam shalat, ketika datang panggilan shalat, lebih mudah baginya untuk menata hati menghadap Allah SWT karena ia telah terbiasa dengan dzikir, sedangkan shalat pada hakikatnya adalah untuk mengingat (berdzikir) kepada Allah. “…Dan tunaikanlah shalat untuk mengingat-Ku…” (Q.S. Thaha: 14). Menghayati dan meyakini bahwa setiap kita berdzikir, baik di dalam maupun di luar shalat, kita sedang berdialog dengan Allah SWT. Allah SWT menjawab bacaan kita dengan jawaban yang sesuai (H.R. At-Tirmidzi ). Iringi dengan keyakinan bahwa Allah SWT senantiasa melihat gerak-gerik kita dalam shalat (Q.S. Asy-Syu’ara: 219–220).

Meminta pertolongan kepada Allah SWT agar kita bisa mempersembahkan ibadah yang terbaik kepada-Nya, kemudian bertawakal hanya kepada Allah SWT . Salah satu doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW adalah: “Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan mempersembahkan ibadah yang terbaik untuk-Mu” (H.R. Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ahmad). Permohonan kepada Allah SWT ini merupakan bagian yang sangat penting, karena tanpa pertolongan-Nya, kita tidak akan mampu khusyu’ dalam sholat. Termasuk di dalamnya adalah berlindung dari godaan setan yang selalu berusaha mengganggu dalam salat.*

*Penulis alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM