SATUMEDIA.ID – Kerbau menjadi salah satu pilihan masyarakat sebagai hewan kurban. Selain memiliki harga yang lebih terjangkau dibandingkan sapi, daging kerbau juga dikenal kaya protein dan dapat menjadi sumber gizi yang baik bagi keluarga.
Namun, di balik keunggulannya, daging kerbau masih sering dipandang sebelah mata karena dianggap lebih keras dan sulit diolah. Anggapan inilah yang membuat sebagian masyarakat lebih memilih daging sapi.
Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof Irma Isnafia Arief, mengatakan tekstur daging kerbau memang cenderung lebih padat dibandingkan daging sapi. Meski demikian, hal tersebut bukan berarti daging kerbau tidak bisa menghasilkan masakan yang empuk dan lezat.
“Daging kerbau memiliki tekstur lebih keras dibandingkan daging sapi, sehingga memerlukan perlakuan khusus agar hasilnya empuk dan enak disantap,” kata Irma, dikutip dari laman IPB University, Selasa (2/6/2026).
Menurut dia, proses pengolahan menjadi kunci utama dalam menentukan kualitas hidangan berbahan daging kerbau. Langkah sederhana seperti memotong daging melawan atau melintang serat dapat membantu menghasilkan tekstur yang lebih lembut saat dikonsumsi.
Selain itu, masyarakat juga dapat memanfaatkan bahan-bahan alami yang mudah ditemukan di dapur. Daun pepaya dan nanas menjadi pilihan yang efektif karena mengandung enzim yang mampu membantu melunakkan serat daging.
Irma menjelaskan, daging cukup dibungkus menggunakan daun pepaya selama sekitar 10 menit atau dicampur dengan irisan nanas selama lima hingga 10 menit sebelum dimasak. Namun, proses tersebut tidak boleh dilakukan terlalu lama agar tekstur daging tidak menjadi terlalu lunak dan hancur.
Tak hanya soal tekstur, aroma khas daging kerbau yang terkadang kurang disukai juga dapat diatasi dengan penggunaan rempah-rempah. Jahe, serai, daun jeruk, hingga air jeruk nipis dapat digunakan sebagai bahan marinasi untuk mengurangi aroma sekaligus memperkaya cita rasa.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak memasak daging kerbau menggunakan api besar. Cara tersebut justru membuat kandungan air di dalam daging cepat hilang sehingga teksturnya menjadi lebih keras.
Sebaliknya, metode memasak perlahan dengan api kecil atau menggunakan panci presto dinilai lebih efektif untuk menghasilkan daging yang empuk tanpa mengurangi kelezatannya.
Menurut Irma, rendahnya minat sebagian masyarakat terhadap daging kerbau bukan semata karena kualitasnya, melainkan karena kurangnya pengetahuan mengenai teknik pengolahan yang tepat. Padahal, jika dimasak dengan benar, daging kerbau dapat menjadi alternatif sumber protein yang lezat, bergizi, dan ramah di kantong.
“Jika tahu cara mengolahnya, daging kerbau bisa jadi alternatif sumber protein hewani yang lezat, sehat, dan ekonomis,” ujarnya.*