SATUMEDIA.ID – Yaumul mizan merupakan hari penimbangan amal ibadah manusia yang pernah dilakukan selama hidupnya di dunia. Yaumul Mizan salah satu fase kehidupan akhirat setelah terjadinya hari kiamat. Dan tentunya kita sebagai umat Islam juga harus meyakini adanya kehidupan setelah kematian, yaitu kehidupan di akhirat.
Peristiwa terjadinya hari kiamat adalah salah satu rukun iman yang kelima, yang harus umat muslim yakini. Kaum muslimin wajib mengimani peristiwa hari kiamat, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT pada QS. Al-A’raf ayat 187, yaitu kiamat akan datang secara tiba-tiba, dan hanya Allah SWT yang mengetahui kapan datangnya.
Artinya : Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat : “Bilakah terjadinya?” Katakanlah : “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku, tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah : “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.
Sesungguhnya pada hari Kiamat nanti ada seorang laki-laki yang besar dan gemuk, tetapi ketika ditimbang di sisi Allah, tidak sampai seberat sayap nyamuk”. (HR Al-Bukhari dan Muslim ).
Dalam Al Quran Surah Al-A’raf ayat 8-9, Allah SWT berfirman “ bahwa amal seseorang akan ditimbang pada hari kiamat dan mereka yang amalannya kurang baik akan merugi”.
Selanjutnya dalam surat Al Qariah ayat 6-9 ditegaskan bahwa mereka yang memiliki timbangan amal yang berat akan mendapatkan kebahagiaan, sedangkan mereka yang memiliki timbangan amal yang ringan akan menderita dalam neraka Jahanam.
Hadist riwayat Abu Hurairah menekankan pentingnya akhlak baik dalam menentukan timbangan amal seseorang di Hari Kiamat. Poin-poin di atas menunjukkan pentingnya Yaumul Mizan dalam Islam.
Amal perbuatan seseorang akan dinilai secara adil. Amalan yang baik dan berat akan membawa kebahagiaan, sementara amalan yang buruk dan ringan akan berujung pada penderitaan. Oleh karena itu, umat Islam harus berhati-hati dengan amal perbuatan dan perilaku mereka agar siap menghadapi Yaumul Mizan. Dalam Q.S Al-Zalzalah ayat 7-8: Artinya, (7) “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah, dia akan melihat (balasan)-nya. (8) Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah, dia akan melihat (balasan)-nya”.
Rasulullah SAW bersabda: Artinya: “Pada hari Kiamat, timbangan amal akan diletakkan. Andai langit dan bumi ditimbang atau diletakkan di atasnya, niscaya akan tertimbang. Kemudian para malaikat bertanya, “Wahai Tuhanku, untuk siapa timbangan ini?” Allah menjawab, “Untuk makhluk-Ku yang Aku kehendaki.” Malaikat pun berkata, “Maha suci Engkau, maka selamanya kami akan menyembah-Mu dengan sebenar-benarnya,” (HR Al-Hakim). Apa yang Ditimbang di Yaumul Mizan?.
Mengutip pendapat dr. Muhaimin Ashuri, mizan di hari Kiamat adalah sesuatu yang hakiki dan benar-benar ada. Hanya Allah SWT yang mengetahui seberapa besar ukurannya. Seandainya langit dan bumi diletakkan dalam daun timbangannya, niscaya mizan tersebut akan tetap lapang. Allah SWT berfirman “Dan Kami akan tegakkan timbangan yang adil pada hari Kiamat, sehingga tidak seorang pun yang dirugikan walaupun sedikit. Jika amalan itu hanya seberat biji sawipun, pasti Kami akan mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiya’: 47).
Pendapat Pertama: Yang Ditimbang Adalah Amal. Pendapat ini didukung oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:“Ada dua kalimat yang ringan diucapkan oleh lisan, tetapi berat dalam timbangan (pada hari Kiamat), dan dicintai oleh ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih): Subhaanallohi wa bihamdihi dan Subhanallohil ‘Azhim.” (HR Bukhari dan Muslim). Pendapat ini yang dipilih oleh Ibnu Hajar al-Ashqolani rahimahullah.
Beliau berpendapat bahwa yang ditimbang adalah amal, karena Rasulullah SAW bersabda:“Tidak ada sesuatu yang lebih berat ketika ditimbang (di hari Kiamat) daripada akhlak yang mulia.” (HR Bukhari ). Pendapat Kedua: Yang Ditimbang Adalah Orangnya.Ada beberapa hadits yang menunjukkan bahwa yang ditimbang adalah orangnya. Berat atau ringannya timbangan tergantung pada keimanannya, bukan berdasarkan ukuran tubuh, berat badannya, atau banyaknya daging yang ada di tubuh mereka.
Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya pada hari Kiamat nanti ada seorang laki-laki yang besar dan gemuk, tetapi ketika ditimbang di sisi Allah, tidak sampai seberat sayap nyamuk.” Lalu Rasulullah SAW bersabda: ”Bacalah.“Dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari Kiamat.” (QS. Al-Kahfi: 105).
Abdullah ibnu Mas’ud RA adalah seorang sahabat betisnya kecil. Tatkala ia mengambil ranting pohon untuk siwak, tiba-tiba angin berhembus dengan sangat kencang dan menyingkap pakaiannya, sehingga terlihatlah kedua telapak kaki dan betisnya yang kecil. Para sahabat yang melihatnya pun tertawa. Maka Rasulullah SAW bertanya: “Apa yang sedang kalian tertawakan?” Para sahabat menjawab, “Kedua betisnya yang kecil, wahai Nabiyullah.”
Rasulullah SAW bersabda:“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kedua betisnya itu di mizan nanti lebih berat dari pada gunung uhud.” (HR Ahmad ).Pendapat Ketiga: Yang Ditimbang Adalah Lembaran Catatan Amal.Pendapat ketiga terakhir apa yang akan ditimbang pada saat yaumul mizan kelak adalah lembaran catatan amalnya. Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash RA. Rasulullah SAW bersabda (yang artinya): “Sungguh Allah akan membebaskan seseorang dari umatku di hadapan seluruh manusia pada hari Kiamat dimana ketika itu dibentangkan 99 gulungan catatan (dosa) miliknya.
Setiap gulungan panjangnya sejauh mata memandang, kemudian Allah berfirman: ‘Apakah ada yang engkau ingkari dari semua catatan ini? Apakah para (Malaikat) pencatat amal telah menganiayamu?,’ Dia menjawab: ‘Tidak wahai Rabbku,’ Allah bertanya: ‘Apakah engkau memiliki udzur (alasan)?,’ Dia menjawab: ‘Tidak Wahai Rabbku.’ Allah berfirman: “Bahkan sesungguhnya engkau memiliki satu kebaikan di sisi-Ku dan sungguh pada hari ini engkau tidak akan dianiaya sedikitpun. Kemudian dikeluarkanlah sebuah kartu (bithoqoh) yang di dalamnya terdapat kalimat: Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.
Lalu Allah SWT berfirman: ‘Hadirkan timbanganmu.’ Dia berkata: ‘Wahai Rabbku, apalah artinya kartu ini dibandingkan seluruh gulungan (dosa) itu?,’ Allah berfirman: ‘Sungguh kamu tidak akan dianiaya.’ Kemudian diletakkanlah gulungan-gulungan tersebut pada satu daun timbangan dan kartu itu pada daun timbangan yang lain. Maka gulungan-gulungan (dosa) tersebut terangkat dan kartu (laa ilaaha illallah) lebih berat. Demikianlah tidak ada satu pun yang lebih berat dari sesuatu yang padanya terdapat Nama Allah.” (HR At-Tirmidzi dan Ahmad) .
Pendapat terakhir inilah yang dipilih oleh al-Qurthubi. Beliau mengatakan, “Yang benar, mizan menimbang berat atau ringannya buku-buku yang berisikan catatan amal…” . Tiga pendapat di atas tidak saling bertentangan satu sama lain. Sebagian orang ada yang ditimbang amalnya, sebagian yang lain ditimbang buku catatannya, dan sebagian yang lain ditimbang dirinya. Syaikh Muhammad bin sholih al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa secara umum yang ditimbang adalah amal perbuatannya, karena kebanyakan dalil-dalil menunjukkan bahwa yang ditimbang adalah amal perbuatan.*
*Penulis Dede Supriatna alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM .