SATUMEDIA.ID – Lafadz basmalah atau bismillahirrahmanirrahim pasti sudah tak asing lagi bagi umat Islam. Sebagai umat Islam, kita dianjurkan mengucapkannya di setiap awal aktivitas atau perkataan.
Karena menurut Imam Ibnu Katsir, lafadz ini serupa dengan keberkahan. Lafadz basmalah ini punya keunikan tersendiri. Bahwa setelah nama Allah SWT , diikuti langsung oleh dua kata sifat Allah, yaitu ar-rahman dan ar-rahim.
Prof. Quraish Shihab dalam bukunya Tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa kata ar-rahman dan ar-rahim diambil dari akar kata rahmah yang bermakna kasih sayang. Kebanyakan orang awam pasti mengira kedua kata tersebut serupa dan tidak ada bedanya. Karena dalam pemaknaan Bahasa Indonesia, keduanya bermakna Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Padahal jika diperinci terdapat perbedaan konteks dan makna pada kedua kata sifat Allah tersebut.
Menurut Ahmed Zaranggi, makna kasih sayang yang ada pada kata ar-rahman adalah yang Maha Pengasih. Dengan sifat kasih sayang Allah SWT ini semua makhluk yang ada di dunia ini dapat hidup terus menerus sampai ajal yang telah ditentukan.
Dalam Al Quran, kata ar-rahman disebutkan sebanyak 57 kali. Menurut Syekh Ali As-Shabuni, dikutip dari Imam Al-Qurthubi. Dikatakan bahwa kata ar-rahman secara kualitas dan kuantitas merupakan kasih sayang yang banyak dan besar, tetapi tidak bersifat selamanya. Artinya perihal kemaslahatan kasih Allah SWT begitu luas untuk segenap makhluk.
Prof. Nasaruddin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta meyatakan bahwa kata ar-rahman adalah sifat dan simbol kemahapengasihan Allah SWT . Sifat ini menunjukkan betapa Allah SWT dan seluruh makhluknya tidak bisa dipisahkan.
Semua yang diciptakan oleh Allah SWT mendapatkan kasih sayang dan rahmat-Nya. Dalam hal ini bisa dikatakan bahwa konteks dari ar-rahman ini adalah bersifat umum. Maksudnya kasih sayang yang diberikan Allah SWT ditujukan kepada seluruh makhluknya di dunia ini. Tidak memandang dia muslim atau non muslim , tanaman ataupun tumbuhan, bahkan hewan sekecil serangga pun tak luput dari belas kasih Allah SWT .
Mengutip dari Al-Qurthubi, Syekh Ali As-Shabuni mengatakan bahwa kata ar-rahim bermakna kasih sayang yang bersifat langgeng dan abadi. As-Shabuni juga mengutip dari Al-Khattabi dan mengatakan bahwa kata ar-rahim ditujukan pada kasih Allah SWT yang sifatnya lebih khusus untuk orang beriman, sebagaimana ayat: “Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.”
Dari semua pendapat itu, dapat dipahami bahwa konteks kata ar-rahim adalah bersifat khusus. Yakni kasih sayang Allah SWT hanya diperuntukkan bagi orang-orang beriman. Kata ar-rahim ini juga berlaku hanya di akhirat saja, dan sudah pasti sifatnya abadi. Karena di akhiratlah hakikat kehidupan yang sebenarnya.
Dialah Allah Yang Maha Pengasih, Pemilik dan sumber sifat kasih. Dialah Tuhan Yang menganugerahkan segala macam karunia, baik besar maupun kecil, kepada seluruh makhluk. Allah Maha Penyayang Yang selalu tiada henti memberi kasih dan kebaikan kepada orang-orang yang beriman.
Dialah satu-satunya pemilik hari pembalasan dan perhitungan atas segala perbuatan, yaitu hari kiamat. Kepemilikan-Nya pada hari itu bersifat mutlak dan tidak disekutui oleh suatu apa pun.
Pada ayat dua, Allah SWT menerangkan bahwa Dia adalah Tuhan seluruh alam. Maka untuk mengingatkan hamba kepada nikmat dan karunia yang berlipat-ganda, yang telah dilimpahkan-Nya, serta sifat dan cinta kasih sayang yang abadi pada diri-Nya, diulang-Nya sekali lagi menyebut ar-Rahman ar-Rahim.
Rasulullah SAW bersabda: “Allah sayang kepada hamba-hamba-Nya yang pengasih.” (HR at-Tabrani).”Orang-orang yang penyayang, akan disayangi oleh Allah yang Rahman Tabaraka wa Ta’ala. (Oleh karena itu) sayangilah semua makhluk yang di bumi, niscaya semua makhluk yang di langit akan menyayangi kamu semua.” (HR Ahmad, Abu Dawud at-Tirmidzi dan al-hakim).Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang kasih sayang meskipun kepada seekor burung (pipit) yang disembelih, akan disayangi Allah pada Hari Kiamat( HR Bukhari).
Maksud hadis yang ketiga ialah menggunakan aturan dan tata cara pada waktu menyembelih burung, misalnya memakai pisau yang tajam. Dapat pula dipahami dari urutan kata ar-Rahman, ar-Rahim, bahwa penjagaan, pemeliharaan dan asuhan Allah SWT terhadap seluruh alam, bukanlah karena mengharapkan sesuatu dari alam itu, tetapi semata-mata karena rahmat dan kasih sayang-Nya.
Boleh jadi ada yang terlintas dalam pikiran orang, mengapa Allah SWT membuat peraturan dan hukum, dan menghukum orang-orang yang melanggar peraturan itu? Pikiran ini akan hilang bila diketahui bahwa peraturan dan hukum, begitu juga azab di akhirat atau di dunia yang dibuat Allah SWT untuk hamba-Nya yang melanggar tidaklah berlawanan dengan sifat Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Karena, peraturan dan hukum itu rahmat dari Allah SWT demi untuk kebaikan manusia itu sendiri.
Begitu pula azab dari Allah SWT terhadap hamba-Nya yang melanggar peraturan dan hukum itu sesuai dengan keadilan-Nya.
Bentuk kasih sayang Allah SWT kepada makhluk-makhluk-Nya sangat banyak. Hal ini sesuai dengan asmaul husna Allah SWT , yakni ar-Rahman dan ar-Rahim. Arti dari kedua asma tersebut adalah Dzat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada semua makhluk-Nya.Sifat ar-Rahman Allah ditujukan untuk semua manusia, baik umat muslim maupun nonmuslim, yang taat maupun tidak, yang mukmin maupun fasik. Sementara itu, sifat ar-Rahim-Nya hanya ditujukan untuk orang Muslim, mukmin, dan taat terhadap perintah-Nya.
Bentuk kasih sayang lainnya yang diberikan oleh Allah SWT kepada makhluk-makhlukNya adalah memberikan banyak pahala meskipun amalan yang dilakukan tidak seberapa. Misalnya, umat muslim yang membaca surat Al-Ikhlas 3 kali akan memperoleh pahala yang setara dengan membaca Alquran satu juz. Selain itu, membaca satu huruf dalam Al Quran akan dibalas satu kebaikan yang selanjutnya kebaikan tersebut dilipatgandakan menjadi 10 kali.
Rasulullah SAW. bersabda: “Barang siapa membaca satu huruf dari kitab Allah, ia akan mendapat pahala satu kebaikan, satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak menyebut alif laam miim satu huruf, tapi alif satu huruf, laam satu huruf, dan miim satu huruf.” (HR Tirmidzi).
Bentuk kasih sayang Allah SWT kepada makhluk-makhlukNya yang disebutkan di atas patut disyukuri. Hal ini bisa dijadikan motivasi untuk menjadi umat muslim yang semakin taat kepada Allah SWT. Selain itu menurut Muqarramah Sulaiman Kurdi adapun jumlah kata Ar-Rahman di dalam Alquran muncul sebanyak 57 kali, dan kata Ar-Rahim berjumlah 114 kali.
Keduanya dalam makna yang hampir sama tetapi memiliki konteks esensi yang beragam. Ar-Rahman secara esensi diarahkan hanya untuk Allah Swt. Sedangkan Ar-Rahim bisa dikiaskan juga diperuntukkan kepada makhluk.
Hal ini didukung juga sebagaimana Rasulullah SAW menyebut “Wa kaana bil mu’minina rahimaa”, sebagai bentuk kasih seorang Rasul kepada umatnya. Ar-Rahim juga menunjukkan rahmat yang luas, dan Ar-Rahim menunjukkan makna pelimpahan rahmat kepada siapa saja yang dikhendaki-Nya sebagai Sang Pemilik rahmat. Adapun rahmat kasih sayang Allah meliputi segala sesuatu (Q.S. Al-A’raf: 156).
Oleh karenanya, baik secara mazaz maupun hakikat, sudah semestinya nilai-nilai luhur dan kebaikan keluar dari dalam diri manusia dalam keseharian karena cerminan dari hasil penghayatan tentang kelembutan, kebaikan, dan rahmat Allah SWT.
Besarnya kasih sayang Allah SWT yang dilimpahkan-Nya kepada seluruh makhluk tidak bisa diukur dan dikomparasikan dengan apapun. Norma seorang muslim atas nama kasih sayang di tengah masyarakat adalah pada prinsip Ummatan Wasathan, umat yang seimbang, pertengahan dan terbaik. Posisi Ummatan Wasathan memiliki nilai “adl” yang mengarah pada keharmonisan di antara masyarakat.
Keseimbangan dalam Ummatan Wasathan disebut Quraish Shihab sebagai komunitas masyarakat moderat yang tidak larut dalam ekstrim materialisme dan tidak terjerumus dalam tarahhub spiritualisme yang berlebihan. Oleh karena itu, keharmonisan hidup diwarnai secara proporsional antara ilmu dan amal, baik dalam ber-Aqidah, beribadah, ber-akhlakul karimah, dan berinteraksi dalam muamalah.
Selain itu, ketika menetapkan hati didasar pada kasih sayang, maka sikap hidup yang muncul adalah membangun persaudaraan, saling kenal mengenal, saling membangun ukhuwah, menghargai pluralitas, menghargai keragaman, yakni dengan cara mendorong dialog kreatif dan santun antar budaya dan visi moral yang berbeda. Pada dasarnya umat manusia mempunyai rasa belas kasih, ketika atas dasar kasih sayang mendominasi maka segala aktivitas dilaksanakan dengan rasa kecintaan dan penuh kebaikan.
Setiap individu memiliki tanggungjawab bersama untuk menciptakan harmoni dalam kehidupan sosial, mengakui adanya perbedaan, dan meyakini bahwa keragaman itu bagian dari sunnatullah, berperan aktif dalam membangun kehidupan yang damai, tentram, harmoni atas dasar kasih sayang.*
*Penulis Dede Supriatna Alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM