Jangan Berbuat Zalim

Dede Supriatna Alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM.(Istimewa).**

SATUMEDIA.ID – Zalim (Arab: dzholim) dalam ajaran Islam adalah meletakkan sesuatu/ perkara bukan pada tempatnya. Orang yang berbuat zalim disebut zalimin dan lawan kata dari zalim adalah adil.

Zalim merupakan istilah dalam bahasa Arab yang merujuk pada perlakuan yang tidak adil, kejam, atau sewenang-wenang terhadap orang lain. Konsep ini tidak hanya terbatas pada tindakan fisik, tetapi juga mencakup perlakuan yang tidak adil secara sosial, ekonomi, dan politik.

Menurut Sunnatullah, pengajar Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Bangkalan , Islam sebagaimana agama paripurna yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemuliaan dan keluhuran tidak pernah membenarkan adanya perbuatan zalim atau aniaya kepada orang lain.

Ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW ini tidak pernah membenarkan adanya tindakan zalim dengan alasan dan motif apa pun. Segala perbuatan yang dinilai merugikan orang lain merupakan perbuatan yang terlarang dan tidak bisa dibenarkan.

Allah SWT dalam Al Quran memberikan peringatan yang sangat tegas perihal larangan berbuat zalim, dan ancamannya, orang-orang yang berbuat zalim tidak hanya mendapatkan dosa namun juga mendapatkan laknat dari Allah dan siksa yang pedih dalam neraka. Sesuai firman Allah SWT surat Al-Hud ayat 11, “Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) kepada orang yang zalim.”.

Selain itu firman Allah SWT dalam surat yang lain , “Dan Kami katakan kepada orang-orang yang zalim, ‘Rasakanlah olehmu azab neraka yang dulu kamu dustakan.’” (QS Saba’ : 40). Artinya, “(Yaitu) hari ketika permintaan maaf tidak berguna bagi orang-orang zalim dan mereka mendapat laknat dan tempat tinggal yang buruk.” Artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak beruntung.” (QS Al-An’am 21).

Rasulullah SAW dalam beberapa haditsnya juga sering mengingatkan umat Islam perihal larangan berbuat zalim. Rasulullah SAW bersabda: “Bertakwalah kalian semua kepada Allah, dan takutlah kalian dari perbuatan zalim, karena sesungguhnya kezaliman itu akan menjadi kegelapan pada hari kiamat.” (HR Bukhari dan Muslim). Oleh karena itu, sebisa mungkin perbuatan zalim ini harus benar-benar ditinggalkan.

Pembelaan Islam pada orang yang dizalimi Jika orang yang berbuat zalim pada orang lain mendapatkan dosa dan ancaman yang sangat pedih, maka orang yang terzalimi juga akan mendapatkan pahala yang sangat besar dari Allah SWT.

Sesuai sabda Rasulullah SAW “Takutlah kalian pada doa orang yang dizalimi, karena sesungguhnya ia akan dibawa ke atas awan, kemudian Allah berkata: Dengan kemuliaan-Ku dan kebesaran-Ku, Aku pasti akan menolongmu, sekalipun nanti.” (HR at-Thabrani).

Berkaitan dengan hadits tersebut, Imam Abul Hasan al-Mubarakfuri hadits ini merupakan pembelaan dari Allah SWT kepada orang-orang yang dizalimi. Allah SWT tidak akan pernah lupa pada orang-orang yang pernah berbuat zalim dan orang yang dizalimi akan senantiasa mendapatkan pembelaan dari Allah SWT untuk membalaskan perbuatan zalim yang diperbuat kepada mereka sekalipun harus menunggu waktu yang lama.

Selain itu, menurut Imam Abu Abdillah Syamsuddin al-Qurthubi menjelaskan bahwa Allah SWT akan memberikan kebebasan untuk orang yang dizalimi kepada hari kiamat. Orang yang zalim dan yang dizalimi akan Allah pertemukan, kemudian orang yang pernah dizalimi akan mengambil pahala ibadah dan kebaikan yang dilakukan oleh orang yang zalim dengan seukuran kezaliman yang dilakukan kepadanya.

Selanjutnya jika pahala ibadah itu tidak cukup untuk menebus kezaliman yang pernah diperbuat, maka orang yang dizalimi akan memberikan dosa-dosa yang pernah ia lakukan selama di dunia kepada orang yang pernah berbuat zalim kepadanya. Demikian penjelasan perihal larangan berbuat zalim dan pembelaan Islam kepada orang-orang yang dizalimi.
‎
Untuk memperkaya kedalaman kita mengapa harus dihindari berbuat zalim dapat dibaca dan dipahami dari ayat al Quran dan hadist berikut ini .

1. “Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras” (QS. Hud: 102).

2. “Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya” (QS. Ghafir: 18).

3. “Allah Tabaaraka wa ta’ala berfirman: ‘wahai hambaku, sesungguhnya aku haramkan kezaliman atas Diriku, dan aku haramkan juga kezaliman bagi kalian, maka janganlah saling berbuat zalim’” (HR. Muslim)

4. “Jauhilah kezaliman karena kezaliman adalah kegelapan di hari kiamat” (HR. Al Bukhari , Muslim).

5. “Seorang Muslim itu adalah saudara bagi Muslim yang lain, tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh menelantarkannya” (HR. Muslim )

6. “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa” (QS. Al Maidah: 8).

7. ”Dan berhati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah” (HR. Bukhari dan Muslim).

8. “Siapa yang pernah berbuat aniaya (zhalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham” (HR. Al-Bukhari).

9. “Kezaliman akan berubah menjadi kegelapan pada hari kiamat nanti (HR. Bukhari-Musli. Tirmidzi dan Ahmad).

10. “Akan ada penguasa yang fasik dan zalim, siapa saja yang membiarkan kedustaan mereka dan membantu kezaliman mereka, dia bukanlah termasuk golonganku dan akupun bukan termasuk golongan dia.”(HR. An-Nasa’i dan Ahmad).*

*Penulis Dede Supriatna alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM