SATUMEDIA.ID – Tak ada air mata yang jatuh dari wajah Mohamed Salah saat peluit akhir berbunyi di Tangier. Yang terlihat hanyalah senyum tipis, senyum yang menyembunyikan kekecewaan besar setelah Mesir kembali terhenti di semifinal Piala Afrika. Untuk kesekian kalinya, langkah Salah dan kolega harus kandas oleh Senegal yang dipimpin mantan rekan setimnya di Liverpool, Sadio Mané.
Sepanjang turnamen di Maroko, Salah menjadi tumpuan utama Mesir. Dari lima laga yang ia mainkan sejak menit awal, penyerang berusia 33 tahun itu mencetak empat gol dan mengantar negaranya melaju hingga empat besar. Seusai kemenangan dramatis atas Pantai Gading di perempat final, Salah bahkan menyebut skuad Mesir kali ini sebagai yang terbaik sepanjang kariernya, menyoroti kekompakan, suasana positif, serta kerja keras di dalam dan luar lapangan.
Usai laga perebutan tempat ketiga melawan Nigeria di Casablanca, Salah dijadwalkan kembali ke Liverpool. Namun, masa depannya di Anfield masih diliputi tanda tanya. Ia terakhir kali tampil sebagai starter pada akhir November di Liga Champions, sebelum serangkaian kontroversi, termasuk wawancara panas yang menyinggung hubungannya dengan pelatih Arne Slot. Meski demikian, situasi mereda setelah Salah kembali ke skuad, menyumbang assist, dan mendapat sambutan hangat dari publik Anfield.
Di tengah absennya Salah, Liverpool justru mampu menjaga rekor tak terkalahkan, meski performa tim kerap menuai kritik. Kondisi semakin menantang dengan cedera yang menimpa beberapa pemain kunci. Kembalinya Salah dari tugas internasional pun dinanti, bukan hanya untuk memperkuat lini serang, tetapi juga untuk menjawab spekulasi besar soal kelanjutan kisah sang “Raja Mesir” bersama The Reds.*



