SATUMEDIA.ID – Setiap Piala Dunia selalu terasa berbeda ketika Brasil tampil. Negara pemilik lima gelar juara dunia itu kembali datang dengan mimpi besar: mengakhiri penantian panjang yang sudah berlangsung lebih dari dua dekade.
Perjalanan Selecao di Piala Dunia 2026 akan dimulai dengan menghadapi Maroko pada Minggu (14/6/2026) pukul 05.00 WIB. Laga yang berlangsung di Grup C tersebut diprediksi berlangsung menarik mengingat Maroko datang sebagai salah satu kekuatan baru sepak bola dunia usai menjadi finalis Piala Afrika 2025. Selain kedua tim, Grup C juga dihuni Skotlandia dan Haiti.
Sorotan terbesar tentu tertuju kepada sosok Carlo Ancelotti. Setelah sukses menaklukkan hampir seluruh kompetisi elite Eropa di level klub, kini pelatih asal Italia itu menghadapi tantangan yang berbeda: mengembalikan Brasil ke singgasana sepak bola dunia. Sejak ditunjuk pada Mei 2025, Ancelotti perlahan mulai membentuk identitas permainan Selecao dengan memadukan pengalaman para pemain senior dan energi generasi baru yang tengah bersinar di Eropa.
Harapan publik Brasil tidaklah kecil. Sudah 24 tahun berlalu sejak terakhir kali mereka mengangkat trofi Piala Dunia pada 2002. Saat itu, dunia dibuat terpukau oleh generasi emas yang dihuni Ronaldo Nazario, Ronaldinho, Rivaldo, Roberto Carlos, Lucio, Gilberto Silva, hingga Kaka muda. Sejak momen bersejarah tersebut, Brasil memang selalu hadir sebagai favorit, tetapi belum pernah lagi mampu menuntaskan misinya.
Kini, Ancelotti membawa skuad yang tak kalah menjanjikan. Di bawah mistar gawang berdiri Alisson Becker yang sarat pengalaman di level tertinggi. Lini belakang diperkuat Marquinhos yang baru saja mengantar Paris Saint-Germain menjuarai Liga Champions serta Gabriel Magalhaes yang tampil konsisten bersama Arsenal. Di sektor tengah, kombinasi Bruno Guimaraes dan Casemiro diharapkan mampu memberikan keseimbangan antara kreativitas dan kekuatan bertahan.
Sementara itu, lini depan menjadi alasan utama mengapa banyak pengamat menjagokan Brasil melangkah jauh. Vinicius Junior dan Raphinha siap menghadirkan kecepatan serta kreativitas dari kedua sisi lapangan. Di tengah, Matheus Cunha datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah menjalani musim yang impresif bersama Manchester United. Trio ini diprediksi menjadi senjata utama Ancelotti untuk membongkar pertahanan lawan.
Namun di antara deretan bintang tersebut, ada satu nama yang paling menyita perhatian: Neymar Jr.
Setelah lebih dari dua tahun absen akibat cedera panjang, sang megabintang akhirnya kembali mengenakan seragam kuning-hijau. Kehadirannya bukan hanya soal kualitas di atas lapangan, tetapi juga tentang pengalaman, kepemimpinan, dan harapan. Bagi banyak pendukung Brasil, Neymar masih menjadi simbol generasi yang belum sempat mewujudkan impian menjadi juara dunia.
Piala Dunia 2026 bahkan diyakini bisa menjadi turnamen terakhir Neymar bersama tim nasional. Karena itu, setiap pertandingan berpotensi menjadi bagian dari bab terakhir perjalanan salah satu pemain terbaik dalam sejarah sepak bola Brasil. Faktor emosional tersebut diyakini dapat menjadi bahan bakar tambahan bagi Selecao untuk tampil habis-habisan sepanjang turnamen.
Di atas kertas, Brasil merupakan favorit utama untuk memuncaki Grup C. Kedalaman skuad, kualitas individu, serta pengalaman Carlo Ancelotti membuat mereka berada satu tingkat di atas para pesaingnya. Namun sejarah Piala Dunia telah berulang kali membuktikan bahwa status favorit tidak menjamin kesuksesan.
Pertanyaannya sekarang, apakah generasi Brasil kali ini mampu mengakhiri penantian sejak 2002 dan mengembalikan trofi Piala Dunia ke Negeri Samba? Ataukah mereka kembali harus menyaksikan mimpi itu menguap di tengah jalan?
Semua akan mulai terjawab saat Vinicius Junior, Neymar, dan kawan-kawan melangkah ke lapangan untuk memulai petualangan mereka di Piala Dunia 2026. Sebuah perjalanan yang bisa menjadi awal dari kebangkitan sang raja dunia, atau justru melahirkan kisah baru yang tak pernah diduga sebelumnya.*





