Menikmati Sejuta Pesona Desa Adat Panglipuran Bali

Penulis saat liburan bersama istri di Desa Adat Penglipuran, Bali. Sebuah desa yang menampilkan sejuta pesona keindahan.(Dok.Dede Supriatna).**

SATUMEDIA.ID – Berlibur ke Pulau Dewata Bali tidak lengkap rasanya bila tidak menyempatkan singgah di Desa Adat Penglipuran. Sebuah desa wisata di Pulau Bali yang bebas kendaraan, bebas polusi, dan penuh ketenangan.

Ditemani guide Kadek merangkap driver kami menyusuri Desa Panglipuran yang berasal dari kata Pengeling Pura, yang berarti “menghormati tempat suci.” Nama ini mencerminkan dedikasi masyarakat desa dalam melestarikan warisan leluhur mereka sejak zaman Kerajaan Bangli.

Filosofi tersebut menggambarkan penghormatan masyarakat desa terhadap leluhur mereka, yang tetap dijunjung tinggi hingga saat ini. Oleh karena itu, Desa Adat Penglipuran adalah bukti nyata bagaimana tradisi dan budaya Bali dapat hidup berdampingan dengan modernitas tanpa kehilangan identitasnya.

Desa wisata Penglipuran tidak hanya memikat lewat keindahannya, tetapi juga melalui beragam tradisi dan acara budaya diantaranya hari raya Galungan dan Kuningan, tradisi Ngerebeg dan penglipuran Village Festival.

Desa Panglipuran yang masih menganut konsep Tri Mandala di mana lahan dibagi menjadi 3 zona. Zona pertama disebut Utama Mandala, yaitu tempat suci berisi pura sebagai tempat memuja para dewa. Kemudian ada zona kedua, yaitu Madya Mandala yang merupakan tempat tinggal manusia, dalam hal ini warga desa. Terakhir, ada zona Nista Mandala yang merupakan pemakaman desa.

Mengunjungi Desa Panglipuran akan menikmati tata ruang desa yang teratur dan tetap mengikuti adat istiadat menjadikan Penglipuran Bangli sebagai cerminan budaya Bali yang autentik.

Selain itu, desa wisata ini menawarkan pengalaman unik seolah wisatawan dapat melihat kembali Bali dalam versi klasiknya. Salah satu keistimewaan Penglipuran Bangli adalah larangan mengendarai kendaraan bermotor di jalan utama desa.

Hal ini membuat udara di desa menjadi bersih, serta tercipta suasana yang tenang.
Selain area desa, Hutan Bambu di Penglipuran juga menjadi daya tarik utama bagi wisatawan.

Saat memasuki area hutan Bambu pengunjung akan merasakan suasana sejuk dan pemandangan alami. Area hutan sangat bagus untuk lokasi berfoto. Hutan bambu di Desa Wisata Penglipuran sangat terjaga kelestariannya.

Bambu tetap bisa dimanfaatkan oleh masyarakat penglipuran sebagai alternatif bahan bangunan yang berkelanjutan maka perlu jaga kelestariannya, karena bambu merupakan suatu tanaman yang mempunyai banyak fungsi salah satunya adalah sebagai bahan material bangunan karena kelenturannya dan mudah dimanfaatkan.

Penduduk desa meyakini bahwa melestarikan hutan ini adalah bentuk kewajiban menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Desa Penglipuran di Bali memadukan keindahan budaya tradisional dengan keberlanjutan lingkungan. Di sepanjang jalan utama, parit-parit bersih memastikan aliran air lancar, menjaga desa tetap asri dan nyaman bagi pengunjung. Keindahan desa ini berkat kontribusi warga melalui Pengelolaan Sampah Mandiri,setiap rumah tangga memilah sampah organik dan non-organik dan larangan kendaraan bermotor, jalan utama hanya untuk pejalan kaki, menciptakan suasana tenang dan bebas polusi.

Keunikan deretan rumah tradisional di Penglipuran Village Bali.Desa Penglipuran Bali memiliki 77 rumah utama dengan desain arsitektur seragam, mulai dari gerbang Angkul-Angkul yang terbuat dari batu bata hingga atap tradisional. Keseragaman ini menciptakan pemandangan unik dan rapi sepanjang jalan utama.

Sebagai pusat spiritual, Pura Penataran menjadi lokasi utama berbagai ritual adat. Setiap 15 hari, masyarakat desa bersembahyang di pura ini untuk menghormati leluhur mereka.Ritual besar seperti Ngusaba, yang biasanya berlangsung saat Hari Raya Nyepi, menjadi momen spesial di mana seluruh warga desa berkumpul.

Kami sempat menikmati minuman tradisional, Loloh Cemcem. Minuman segar ini terbuat dari daun cemcem, gula aren, dan air kelapa, yang menghasilkan rasa unik sekaligus menyehatkan sambil menikmati banyak spot foto ikonik di desa ini.

Diantaranya memotret di Gerbang Angkul-Angkul di Jalan Utama, ambil foto dari tengah jalan untuk menangkap simetri rumah tradisional, hutan bambu. Manfaatkan jalur setapak dengan bambu yang menjulang tinggi sebagai latar belakang dramatis dan Pura Penataran, tangkap detail ukiran dan gerbang pura, terutama saat matahari terbit.

Sementara jalan utama Desa Penglipuran yang ikonik menawarkan spot foto menakjubkan. Disarankan waktu terbaik untuk Fotografi yakni pagi hari pukul 08.00–09.00 WITA, karena cahaya alami yang lembut cocok untuk memotret arsitektur atau Sore Hari karena efek warna keemasan menjelang matahari terbenam menambah kesan dramatis.

Saat berjalan menyusuri jalan utama, saya melihat beberapa wisatawan mengenakan pakaian adat Bali yang anggun. Beberapa rumah adat pemiliknya menyewakan pakaian adat Bali mulai harga Rp 50 ribu satu set lengkap dengan kain dan selendang untuk wanita atau pria satu set lengkap kain, baju dan udeng.

Begitu juga untuk anak harga sewa mulai Rp 30 ribu. Perlu diketahui Desa wisata Panglipuran pernah meraih penghargaan dari Organisasi Pariwisata Dunia di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa, UNWTO (United National World Tourism Organization). Desa tersebut terpilih menjadi salah satu dari 54 UNWTO Best Tourism Villages 2023.

*Penulis Dede Supriatna Alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023