SATUMEDIA.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) berencana akan memekarkan 127 desa di 30 kecamatan.
“Pemekaran desa sebagai hal yang penting di Kabupaten Bandung. Yang mana nanti akan tercipta 127 desa baru di 30 kecamatan dan perubahan status desa menjadi kelurahan. Sekaligus pula Sosialisasi Peraturan Menteri Dalam Negeri No 1 tahun 2017 tentang Penataan Desa,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa
(DPMD) Kabupaten Bandung Tata Irawan Subandi di sela “Sosialisasi Arah Kebijakan Penataan Desa Terhadap Perangkat Desa” dengan sasaran 125 desa di Kabupaten Bandung, bertempat di Kecamatan Banjaran, Senin (3/3/2025).
Ia menyebutkan penataan desa salah satunya berkaitan dengan pemekaran desa, dari satu desa induk menjadi dua desa atau lebih yang diatur berdasarkan pada Undang-Undang No 6 tahun 2014 tentang Desa.
“Manfaat pemekaran desa, di antaranya meningkatkan pelayanan, pemerataan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat,” kata Tata Irawan.
Dijelaskan, urgensi pemekaran desa dibagi menjadi empat. Yang pertama adalah kepadatan penduduk. Faktor kepadatan penduduk menjadi salah satu urgensi pentingnya pemekaran desa di Kabupaten Bandung, yang tercermin Desa Cinunuk Kecamatan Cileunyi yang memiliki jumlah penduduk 49.542 jiwa.
Lalu yang kedua yakni luas wilayah yang besar. Desa-desa dengan wilayah yang luas memiliki urgensi untuk pemekaran desa karena alokasi APBD menjadi kurang fokus dalam pembangunan infrastuktur di wilayah desa, sehingga mengakibatkan pembangunan jadi tidak merata.
Ketiga yakni kualitas pelayanan publik. Di mana jumlah aparat desa yang memberikan pelayanan publik tidak sebanding dengan jumlah penduduk yang besar, sehingga berakibat pada kurang baiknya kualitas pelayanan publik.
“Hal ini pun menjadikan pemekaran desa sebagai hal yang penting di Kabupaten Bandung. Lalu yang terakhir adalah perlu adanya peningkatan pengelolaan sumber daya alam dan potensi desa,” katanya.
Dikatakan, syarat pemekaran desa, pertama minimal usia desa lima tahun, kedua memenuhi syarat jumlah penduduk, ketiga memiliki akses transfortasi antar wilayah. Keempat, sosial budaya yang dapat menciptakan kerukunan hidup bermasyarakat sesuai dengan adat istiadat desa.
Kelima memiliki potensi sumber daya alam dan sumber daya penduduk, keenam peta batas wilayah yang ditetapkan dalam peraturan penduduk. Ketujuh sarana dan prasarana bagi pemerintah desa dan pelayanan publik. Kedelapan, tersedianya dana operasional dan penghasilan tetap dan tunjangan lainnya bagi perangkat pemerintahan sesuai dengan ketentuan Perundang-Undangan. Kesembilan, cakupan wilayah desa terdiri atas dusun atau sebutan lainnya.
“Namun persyaratan yang paling penting adalah musyawarah desa. Karena dengan adanya musyawarah desa seluruh warga dapat mencapai kesepakatan bersama,” ujarnya.
Tata Irawan menyebutkan tahapan pemekaran desa, pertama tahap persiapan, kedua perencanaan, ketiga tahapan pengajuan dan penetapan, keempat tahapan pelaksanaan dan kelima tahapan evaluasi dan monitoring.
“Dengan ketercapaian pemekaran desa, ada manfaatnya, pertama meningkatkan kemampuan desa dalam mengelola sumber daya. Kedua meningkatkan kualitas hidup masyarakat di desa. Ketiga meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses pemerintahan. Keempat, meningkatkan efisiensi dan efektifitas pemerintahan desa,” jelasnya.
Solusi pemekaran desa, disebutkan Tata Irawan, bahwa warga desa sering mengeluhkan masalah administrasi kependudukan dan bukti kepemilikan aset sangat sulit untuk diurusnya.
“Namun tentu kami mempunyai solusinya, yakni perubahan administrasi kependudukan difasilitasi oleh pemerintah daerah melalui Disdukcapil Kabupaten Bandung,” jelasnya.
Selanjutnya terkait kendala, kata dia, ketimpangan pembangunan antar desa. Solusinya perlu adanya hubungan dengan pemerintah provinsi, pemerintah daerah hingga pemerintah desa. Terkahir, keterbatasan sumber daya manusia dan keuangan.
“Solusinya yakni dengan pengangkatan perangkat desa untuk desa baru agar membuka peluang kerja bagi warga desa baru,” sebutnya.
Berikut beberapa kendala lainnya dalam pemekaran desa, di antaranya pemahaman masyarakat yang kurang, tantangan dalam pembangunan infrastruktur, pengaturan batas wilayah yang tidak jelas, pembagian sumber daya alam dan aset desa, konflik sosial dan politik stabilitas pemerintahan desa,
Menurutnya, urgensi peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat ditanggulangi dengan peningkatan pengelolaan sumber daya alam dan potensi lokal bisa melalui peningkatan kinerja Badan Usaha Milik Desa( BUMDes).
“Dengan adanya pemekaran desa akan ada lebih banyak unit BUMDes yang bisa menyentuh segmen masyarakat,” ujarnya.*




