Makna Halal Bihalal

Halal bihalal Warga RT 04/RW 06, Kelurahan Batununggal di RM Sederhana Bandung, wujud dari pentingnya menjaga silaturahmi.(Dok.Dede Supriatna).**

SATUMEDIA.ID – Memasuki bulan Syawal 1446 Hijriah ini momen yang baik untuk merekatkan kembali tali silaturahmi yang belum sempat dilaksanakan pada hari raya Idulfitri 1446 Hijriah yang lalu.

Halal bihalal menjadi momen bagi warga untuk melaksanakan mushafahah/ bersalaman. Arti halal bihalal yaitu suatu kegiatan saling bermaafan atas kesalahan dan kekhilafan seusai lebaran dengan silaturahmi, sehingga hubungan antar manusia dapat menjadi lebih baik. Karena makna silaturahmi adalah mempererat tali kekerabatan atau persahabatan yang sering dilakukan, terutama bagi umat Islam.

Rasulullah SAW menyebutkan bahwa orang yang menyambung tali silaturahim adalah orang yang beriman kepada hari akhir. Silaturahmi secara bahasa dibentuk dari kata Shilah dan Ar-Rahim dapat diartikan hubungan kekerabatan. Namun arti itu makin meluas dan popular saat Idul Fitri karena biasanya menurut tradisi tahunan hari raya, banyak orang yang kembali ke kampung halaman untuk bersilaturahmi dengan kerabat dan keluarganya. Ini adalah waktu terbaik untuk terhubung dengan keluarga dan orang-orang terkasih yang mungkin sudah lama tidak bertemu.

Dalam pandangan Islam, halal bihalal atau silaturahmi cakupannya lebih luas tidak terikat ruang dan waktu. Silaturahmi sebagai bagian dari keimanan dan keyakinan kepada Allah SWT. Silaturahmi menurut syariah juga merupakan praktik utama karena dapat membantu menghubungkan berbagai hal yang telah terputus.

Lebih mudah mengampuni dosa di hadapan Allah SWT daripada mengampuni dosa yang disebabkan oleh kesalahan antar manusia. Subhanahu Wa Ta’ala adalah lafadz yang artinya “Suci dan Maha Agung”.Manusia tidak akan pernah lepas dari kesalahan dan dosa. Seringkali, ini dapat menyebabkan putusnya suatu hubungan.

Untuk menyambung tali yang putus, umat Islam diimbau untuk tetap bersilaturahmi. Rasulullah SAW bersabda “ Barang siapa ingin diluaskan rejekinya dan dipanjangkan umurnya maka ia hendaklah menyambung sillaturrahim.

Hal ini sebagaimana dalam salah satu hadits, yang artinya: “Bukanlah bersilaturahmi orang membalas kunjungan atau pemberian, tetapi yang bersilaturahmi adalah yang menyambung apa yang putus.” (HR Bukhari).

Menyambung silaturahmi dengan orang yang telah memutuskan tali silaturahmi merupakan akhlak terpuji yang sangat disukai oleh Allah SWT. Sebagaimana sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ali bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Maukah kalian saya tunjukkan perilaku akhlak termulia di dunia dan di akhirat? Maafkan orang yang pernah menganiayamu, sambung silaturahmi orang yang memutuskanmu dan berikan sesuatu kepada orang yang telah melarang pemberian untukmu.”

Karena menyambung tali silaturahmi merupakan salah satu hal yang diperintahkan oleh Allah SWT, maka dengan menjalin silaturahmi juga merupakan salah satu cara meningkatkan akhlak yang terpuji. Sesuai firman Allah SWT : Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak ya tim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnusabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri. (An-Nisa :36)

Selain dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT, silaturahmi juga dapat menjaga kerukunan dan keharmonisan dengan sesama. Dorongan untuk saling memaafkan dengan tetap bersilaturahmi bisa membuat hubungan menjadi harmonis. Karena setiap manusia tidak akan pernah lepas dari kesalahan dan dosa, tentunya seseorang akan meminta maaf dan memaafkannya.

Manfaat silaturahmi selanjutnya adalah dijauhkan dari neraka. Seorang muslim yang menjalin kembali tali silaturahmi maka akan dijauhkan dari neraka. Sebagaimana dalam salah satu hadis berikut ini, yang artinya:“Engkau menyembah Allah SWT dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturahmi.” (HR Bukhari dan Muslim).

Menjaga dan mempererat silaturahmi sangat penting bagi setiap muslim. Tidak hanya berguna di dunia ini, tetapi juga baik untuk dunia yang akan datang. Mencari rahmat Allah SWT adalah bentuk usaha kita sebagai umat muslim untuk mendapatkan tempat terbaik di yaumul akhir nanti.

Salah satu amalan yang paling mudah untuk mendapatkan rahmat Allah adalah dengan menyambung tali silaturahim, seperti hadits berikut ini: “Aku adalah Maha Pengasih dan ia adalah Rahim, nama itu diambil dari bagian nama-Ku, siapa yang menyambungnya, maka Aku memberikan rahmat-Ku kepadanya, dan siapa yang memutuskannya, maka Aku memutuskan rahmat-Ku darinya.” (HR Abu Dawud).

Selain itu, Nabi Muhammad SAW bersabda : Sebaik baik kebajikan adalah seseorang yang menghubungkan tali persaudaraan dengan orang-orang yang dicintai ayahnya (HR Muslim). Pernahkah Anda mendengar ulama bahwa “jabat tangan dapat menambah cinta”  Berjabat tangan saat halal bihalal atau silaturahmi bukan hanya untuk menunjukkan keakraban, ternyata merupakan sunnah.

Namun, itu mencegah kita dari berbuat dosa dengan perselisihan dan mengoreksi berbagai kesalahpahaman. Sebagaimana dijelaskan dalam riwayat tersebut, Rasulullah SAW bersabda:“Tidaklah dua orang muslim yang bertemu lalu berjabat tangan, melainkan dosa keduanya sudah diampuni sebelum mereka berpisah.” (HR. Abu Daud).*

*Penulis Dede Supriatna Warga RT 04 RW 06 Kelurahan Batununggal Kota Bandung

Pos terkait