SATUMEDIA.ID – Bandung merupakan Ibu Kota Provinsi Jawa Barat dengan luas wilayah mencapai 167,31 kilometer persegi. Secara geografis, Kota Bandung terletak di antara 107°36’ BT dan 6°55’ LS.
Bandung menjadi kota menarik. Bukan karena kecantikan atau geulisnya mojang dan tampannya alias kasepnya para jajakanya. Tapi kota yang indah dengan julukan Paris van Java, Kota Kembang, beragamnya kuliner, tujuan wisata.
Wajar jika Bandung menyimpan banyak cerita. Cerita kini, masa depan, dan masa lalu.
Kilas balik Bandung di masa lalu, memang menyimpan segudang sejarah panjang hingga legenda. Banyak yang menyebut asal usul nama Bandung berasal dari bahasa Sunda yang berarti bendung.
Secara geologi, bentang alam Kota Bandung terbentuk dari letusan dahsyat Gunung Sunda yang merupakan gunung purba dengan tinggi 3.500-4.000 mdpl. Lahar dan material lain hasil letusan gunung ini membendung aliran Sungai Citarum Purba sehingga terbentuk sebuah danau purba.
Konon, lambat laun air danau purba tersebut menjebol lava lunak di beberapa bagian yang sekarang dinamakan Cimeta dan Sanghyang Tikoro. Jebolnya bendungan alami ini mengubah danau ini menjadi daerah berawa-rawa tempat berdirinya Kota Bandung.
Ibu Kota Nusantara
Di era Pemerintahan Kolonial Belanda, sempat muncul gagasan untuk memindahkan Ibu Kota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung.
Ide muncul dari H.L.Tillema (1912l) seorang ahli kesehatan di Semarang yang mengusulkan agar Ibu Kota Nusantara (Hindia Belanda ke kota pedalaman Jawa.
Dikutip dari buku karya Haryanto Kunto berjudul “Nasib Bangunan Bersejarah di Kota Bandung” yang diterbitkan PT Granesia Bandung, disebutkan Bandung terpilih sebagai alternatif utama, menyisihkan Lawang dan Malang. di Jawa Timur, Candi (Semar Yogyakarta di Jawa Tengah, serta Kota Bogor di Jawa Barat.
Dipilihnya Bandung, karena memiliki hawa yang sejuk, serta lingkungan alamnya masih asri dan lestari, ideal untuk tinggal. Sedangkan penataan ruang dan lingkungan kota tata letak susunan bangunannya, semua serba Tapi teratur.
Lewat penetapan Gubernur Jenderal Hindia Belan J.P. van Limburg Stirum (1916), secara fisik Bandung dipersiapkan menjadi Ibukota Nusantara (Hindia Belanda) yang diikuti dengan beberapa langkah tindakan sebagai berikut.
Pada tahun 1916, Departement van Oorlog (Departemer Peperangan) atau “DVO”, dipindahkan dari Weltevreden (Gambir) ke Bandung dan menempati “Gedong Sabau”” yang mulai dibangun pada tahun 1908.
Sebelum itu, yakni pada tahun 1898, pabrik senjata dan mesiu lebih dulu telah dipindahkan dari Surabaya dan Ngawi ke Kiaracondong Bandung.
Sedangkan lapangan terbang Andir (Bandara Husein Sastranegara pada tahun 1914, telah diresmikan menjadi pangkalan udara militer di Hindia Belanda.
Kemudian sejumlah jawatan atau Instansi pemerintah pusat, antara lain: Jawatan Kereta Api Negara (“SS”), Pos Telepon dan Telegrap (PTT), Jawatan Geologi dan Pertambangan, Jawatan Metrologi, Kantor Keuangan dan Dana Pensiun — dipindahkan dari Batavia dan Bogor ke Bandung.
Untuk menampung .dan. menempatkan seluruh Departemen Pemerintah Pusat di Kota Bandung dalam sebuah komplek khusus yang terpadu, maka pihak Gemeente (Kotapraja) Bandung telah menyediakan lahan berbentuk empat persegi panjang, seluas 27.000 meter persegi di bagian utara Kota Bandung, yang membentang dari selatan ke utara, dimulai dari Gedong Sate dengan sumbu lurus ke arah Gunung Tangkubanparahu, kira-kira sampai wilayah sekitar Jalan Tubagus Ismail sekarang ini.
Di samping itu, sebidang lahan seluas 0,5 hektar di Jubileum Park (Taman Sari kini), tepatnya pada lokasi Pusat Tenaga Atom di Jalan Taman Sari Bandung, disediakan sebagai lokasi Villa peristirahatan Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
Villa tersebut dirancang secara total design” oleh arsitek terkenal pada masa lalu, yakni AF. Aalbers dan R.D.A.de Waal (Lihat: Raadbesluit yan 18 Desember 1929 .
Sebagai konsekuensi, Bandung ditunjuk sebagai Ibukota Nusantara, maka selama periode tahun 1920-1941, tercatat lebih dari 67 orang arsitek bangsa Eropa terkenal, yang tinggal bermukim serta ikut membangun “Kota Kembang” ini.
Selama tujuh tahun (1918-1925), secara bertahap sejumlah arsitek karyawan Gemeente-werken (Dinas Teknik) Bandung di bawah pimpinan Ir. F.J.L.Ghijsels, berhasil membangun 400 sampai 750 bangunan rumah modern, guna menampung para pegawai negeri, pindahan dari Batavia ke Bandung.
Berbagai bentuk, corak, langgam dan gaya bangunan Eropa, seperti: Indische Empire Stijl (Gedong Pakuan dan Hubdam di Jalan Moh.Toha), Art Nouveau, Neo Klasik, Romantik, Tradisional Stijl, Villa Huis, Oud Holland, Fungsinalisme, Indo Europeesche Architectuur Stijl. seperti gaya bangunan Kampus ITB, serta Art Deco — megah dan anggun menghiasi wajah Kota Bandung yang kebaratbaratan. Sehingga kala itu Bandung sempat dijuluki orang sebagai “Paris van Java”.
Kantor Gubernur Jenderal Hindia-Belanda baru pindah ke Bandung pada awal Maret 1942. Itupun ketika posisi Belanda di Batavia sudah terdesak oleh Jepang.
Nahas, baru berbenah selama beberapa hari secara de facto sebagai ibu kota Hindia Belanda, Kota Bandung harus jatuh ke tangan Jepang.
Perjanjian di Kalijati, Subang pada 8 Maret 1942, memaksa Belanda untuk menyerah kepada Jepang. Begitupun dengan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, Tjarba van Starkenburg Stakhouwer yang ditawan Jepang dan diasingkan ke Formosa, Taiwan.
Akibat pendudukan Jepang itulah, Bandung yang disiapkan menjadi Ibu Kota Nusantara tak pernah terwujud.*


