SATUMEDIA.ID – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat melalui Dinas Sumber Daya Air (SDA) resmi memulai penataan kawasan Situ Ciburuy dengan menertibkan bangunan liar pada Kamis (18/9/2025). Langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk mengembalikan fungsi asli kawasan yang kini mengalami penyusutan luas akibat pembangunan ilegal.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Revitalisasi Situ Ciburuy, Ninda Agustina, menyampaikan bahwa pihaknya sudah menyiapkan anggaran sekitar Rp13 miliar untuk merevitalisasi dan menata kembali kawasan tersebut.
“Kita lakukan penataan kawasan, untuk mengembalikan ke fungsinya,” ujar Ninda.
Saat ini, luas Situ Ciburuy hanya tersisa sekitar 15 hektare, jauh lebih kecil dari kondisi aslinya yang mencapai 25 hektare. Penertiban bangunan liar, khususnya di area Situ 2, menjadi langkah pertama untuk memberikan batasan yang jelas agar kawasan ini tidak lagi tergerus pembangunan liar.
“Kami akan kembalikan luas Situ Ciburuy ini secara bertahap, dimulai dengan area hulu Situ 2, yang akan dipastikan menjadi batas yang tidak boleh diganggu gugat oleh masyarakat,” tambah Ninda. Pemerintah berkomitmen untuk mengembalikan Situ Ciburuy ke ukuran semula dalam beberapa tahap, meski terbatas oleh anggaran yang ada.
Langkah ini diharapkan tidak hanya menyelamatkan kawasan situ, tetapi juga meningkatkan kualitas ekosistem dan manfaat lingkungan yang dapat dirasakan masyarakat sekitar. Penataan kawasan ini menjadi salah satu prioritas Pemprov Jawa Barat dalam menjaga kelestarian dan fungsi lingkungan hidup.
Pernah direvitalisasi
Situ Ciburuy, yang pernah diprediksi menjadi destinasi wisata unggulan Jawa Barat, kini menghadapi kenyataan pahit. Meski telah menjalani revitalisasi besar-besaran pada 2019, harapan untuk menarik ribuan pengunjung seperti kawasan wisata Lembang justru belum terwujud. Bahkan, situ yang luasnya sempat mencapai 45 hektare kini hanya tersisa sekitar 15 hektare akibat banyaknya bangunan liar yang berdiri di atasnya.
Revitalisasi Situ Ciburuy dimulai saat Gubernur Ridwan Kamil menjabat, dengan anggaran fantastis mencapai Rp32 miliar yang dialokasikan selama dua tahun anggaran (2019-2020). Proyek ini bertujuan mengubah situ yang sempat terbengkalai menjadi kawasan wisata unggulan, bahkan diyakini bisa menyaingi pamor objek wisata populer lainnya di Bandung Barat. Pada tahun 2022, revitalisasi itu pun selesai dan diresmikan langsung oleh Ridwan Kamil.
Namun, meski sudah dipugar, kenyataan berbeda justru terjadi. Situ Ciburuy kini menghadapi tantangan serius, sepinya pengunjung. Para pelaku wisata lokal, seperti Kiki (62), yang mengandalkan jasa sewa perahu, merasakan dampaknya. “Ramai paling di akhir pekan, itupun masih jauh dari kondisi sebelum COVID-19,” ujarnya.
Kiki, yang berharap pengunjung akan kembali ramai seperti dulu, menyebutkan bahwa desain kawasan yang kurang menarik menjadi salah satu penyebab turunnya minat wisatawan. “Bale-bale yang ada malah gak menarik, posisinya juga salah, membelakangi warung. Fasilitas pendukung juga minim, padahal ini kan wisata murah meriah,” keluh Kiki.
Sementara itu, dirinya kini lebih mengandalkan warung untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, karena perahu sewaannya hampir tidak pernah digunakan. Bahkan, Kiki terancam kehilangan warungnya akibat rencana penertiban bangunan liar yang sedang berjalan.
Di sisi lain, Kepala Desa Ciburuy, Firmansyah, berharap ada kolaborasi antara Pemerintah Provinsi dan pemerintah desa dalam mengelola Situ Ciburuy. “Kami berharap bisa terlibat dalam pengelolaan. Kami ingin meningkatkan sektor pariwisata di sini, karena banyak warga yang menggantungkan hidupnya dari tempat ini,” ujarnya.
Penataan kawasan Situ Ciburuy kini kembali dilanjutkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Sumber Daya Air. Pada Kamis (18/9/2025), dimulai dengan penertiban bangunan liar yang telah merambah kawasan danau. “Kami siapkan anggaran sekitar Rp13 miliar untuk mengembalikan fungsi dan memperbaiki situ ini,” kata Ninda Agustina, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Revitalisasi Situ Ciburuy.
Penataan ini bertujuan mengembalikan luas kawasan yang sudah tergerus bangunan liar. Situ Ciburuy yang sebelumnya memiliki luas 25 hektare, kini hanya tersisa sekitar 15 hektare. “Penertiban pertama difokuskan pada area situ 2 di bagian hulu, untuk memastikan batas kawasan yang tak boleh diganggu,” jelas Ninda.
Proses ini dilakukan secara bertahap mengingat terbatasnya anggaran, namun pemerintah bertekad mengembalikan kawasan ini ke luas semula dalam waktu yang tidak terlalu lama. Kendati demikian, tantangan besar masih ada: menghidupkan kembali daya tarik wisatawan yang sudah lama menghilang dan memberi kesejahteraan bagi masyarakat setempat yang mengandalkan sektor pariwisata.
Situ Ciburuy kini berada pada persimpangan jalan, antara harapan akan kemajuan yang pernah digadang-gadang dan kenyataan yang harus dihadapi. Waktu akan menentukan apakah penataan ini dapat mengembalikan kejayaan dan daya tariknya sebagai salah satu ikon pariwisata Bandung Barat.
Pernah direvitalisasi
Situ Ciburuy, yang pernah diprediksi menjadi destinasi wisata unggulan Jawa Barat, kini menghadapi kenyataan pahit. Meski telah menjalani revitalisasi besar-besaran pada 2019, harapan untuk menarik ribuan pengunjung seperti kawasan wisata Lembang justru belum terwujud. Bahkan, situ yang luasnya sempat mencapai 45 hektare kini hanya tersisa sekitar 15 hektare akibat banyaknya bangunan liar yang berdiri di atasnya.
Revitalisasi Situ Ciburuy dimulai saat Gubernur Ridwan Kamil menjabat, dengan anggaran fantastis mencapai Rp32 miliar yang dialokasikan selama dua tahun anggaran (2019-2020). Proyek ini bertujuan mengubah situ yang sempat terbengkalai menjadi kawasan wisata unggulan, bahkan diyakini bisa menyaingi pamor objek wisata populer lainnya di Bandung Barat. Pada tahun 2022, revitalisasi itu pun selesai dan diresmikan langsung oleh Ridwan Kamil.
Namun, meski sudah dipugar, kenyataan berbeda justru terjadi. Situ Ciburuy kini menghadapi tantangan serius, sepinya pengunjung. Para pelaku wisata lokal, seperti Kiki (62), yang mengandalkan jasa sewa perahu, merasakan dampaknya. “Ramai paling di akhir pekan, itupun masih jauh dari kondisi sebelum COVID-19,” ujarnya.
Kiki, yang berharap pengunjung akan kembali ramai seperti dulu, menyebutkan bahwa desain kawasan yang kurang menarik menjadi salah satu penyebab turunnya minat wisatawan. “Bale-bale yang ada malah gak menarik, posisinya juga salah, membelakangi warung. Fasilitas pendukung juga minim, padahal ini kan wisata murah meriah,” keluh Kiki.
Sementara itu, dirinya kini lebih mengandalkan warung untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, karena perahu sewaannya hampir tidak pernah digunakan. Bahkan, Kiki terancam kehilangan warungnya akibat rencana penertiban bangunan liar yang sedang berjalan.
Di sisi lain, Kepala Desa Ciburuy, Firmansyah, berharap ada kolaborasi antara Pemerintah Provinsi dan pemerintah desa dalam mengelola Situ Ciburuy. “Kami berharap bisa terlibat dalam pengelolaan. Kami ingin meningkatkan sektor pariwisata di sini, karena banyak warga yang menggantungkan hidupnya dari tempat ini,” ujarnya.*


